f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nikah

Sebelum Bersama Atau Berpisah, Ingat Ini!

“Siapa anak muda yang bisa selamat dari api cinta,” ucap seorang sufi.

Jatuh cinta memang indah tapi pertimbangan rasional jauh akan menyelamatkan. Tak sedikit dari kita menjalani hubungan domestik yang lama namun kandas begitu saja. Mewariskan traumatik yang bisa jadi lama sembuh. Mengulang hubungan dengan orang yang tidak sepadan bukankah menyia-nyiakan masa muda?

Bagaimana rasanya putus cinta di usia yang tak lagi remaja? Terlebih saat semua teman nyaris sudah menikah. Banyak yang sudah mengurus dan mempersiapkan buah hati kedua dan ketiganya. Sedangkan kita masih sibuk menata diri agar jika suatu waktu hati jatuh, tak perlu waktu lama untuk segera berdiri lagi.

Penjajakan Sebagai Fase Filterisasi

Memutuskan bersama dengan seseorang tentu bukan perkara sederhana. Memilih bersama bukan soal sekali lihat langsung terpikat. Bagi saya, hubungan itu ada tingkatannya. Kenal – lebih dekat sampai jika tumbuh cinta yang sehat dan visi misi sejalan di antara keduanya apakah kemudian memutuskan bersama merupakan putusan yang tepat?

Hal paling penting dari masa ini ya ngobrolin nilai-nilai yang ndak bisa terbahas saat masih sekedar teman atau kenalan. Karier, financial check up, pandangan politik, menabung strict untuk masa tua, ngobrolin duit sebelum married itu penting. Menghindari toxic pas memutuskan untuk saling menggenapkan!.

Pilihan untuk bersama atau berpisah, tidak selalu menjadi oposisi biner yang menyebalkan lho!

Berhenti Menghamba Cinta Secara Berlebihan

Tak jarang saya jumpai, perempuan atau laki-laki yang bahkan mengaku sebagai seorang feminis masih menghamba pada budaya patriarkis dalam menjalani hubungan domestik. Khususnya bagi perempuan, budaya patriarki ini kerap mengkondisikan para puan untuk menghamba cinta seorang lelaki. Yup! Terutama lelaki yang punya nilai lebih. Pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan kekaryaan.

Baca Juga  Konsep Khitbah dalam Perspektif Tafsir Al-Mishbah dan Ash-Shabuni

Padahal, baik lelaki atau perempuan “mendamba” cinta pasangan secara berlebih bisa jadi penyebab toxic relationship dan menghancurkan hubungan yang telah dijalin lama. Coba pikir lagi, kandasnya hubungan yang dilandasi komitmen akan menyisakan luka yang serius pula. Bukan hanya cintamu yang harus berhenti, namun mungkin rencana masa depan dan berbagai mimpi-mimpi.

Hiduplah yang Mandiri!

Menggantungkan diri ke pasangan saya pikir adalah langkah yang tidak bijaksana. Sebaliknya, sebagai manusia merdeka kita harus berdikari baik secara pemikiran, perasaan serta financial. Menjalankan dua roda secara bersamaan membuat kendaraan melaju lebih cepat ketimbang cuma satu roda. Let’s get rich together!

Memutuskan bersama atau berpisah bermuara pada sebuah perikatan yang sah secara negara dan agama (pernikahan). Salah satu indikator penting dalam suatu pernikahan adalah kemandirian. Soal kemandirian dalam pernikahan, tak sedikit anak muda yang memutuskan untuk menikah tanpa pertimbangan yang matang. Persiapan ekonomi, mental, pengelolaan emosi saat menghadapi permasalahan, bertanggung jawab atas keputusan-keputusan bersama tanpa mengandalkan campur tangan orangtua, parenting, pula yang paling fatal yaitu belum menyadari pentingnya sebuah kesadaran pribadi dalam menjalani peran masing-masing ketika menjalankan sebuah tim yang bernama pasangan suami-istri.

Memutuskan bersama atau berpisah, bukan hanya soal cinta tapi kemandirian sebagai pasangan terlebih mandiri secaral perekonomian. Betapa pun sulitnya, sebaiknya hiduplah berdua dengan pasangan jangan sedikit-sedikit menghubungi dan membebani orangtua! Alih-alih ingin menjalani hidup bahagia selepas memutuskan untuk bersama, jika dilakukan tanpa kesiapan fakta ujungnya malah bisa menjadi polemik pernikahanmu kelak. Maka dari itu, segala keputusan besar harus benar-benar melalui perencanaan yang matang agar tidak mendatangkan penyesalan di kemudian. Yuk, berbenah!

Jangan Terburu-Buru untuk Menikah

Sebelum memutuskan bersama atau berpisah, jelas kita tidak boleh tergesa soal pernikahan. Pada masa penjajakan pastikan diskusi tentang banyak hal sebagai pendalaman masing-masing pribadi. Sharing hal-hal enteng sampai urusan-urusan prinsipil. Jika di awal sudah tidak menemukan kesamaan nilai dan berbenturan di ranah prinsip, saranku tak usah dilanjut. Misal, terjadi sebuah kekerasan (fisik – non fisik), melarangmu meraih pengetahuan atau  tidak mendukungmu untuk menebar manfaat dan hanya foya-foya. Tinggalkan!

Baca Juga  Nikah Usia Dini : Solusi Keharmonisan Rumah Tangga?

Tagline #pernikahanbukanperlombaan di media sosial sayangnya tak lebih masif ketimbang propaganda #nikahmuda. Bagi saya, hal tersebut agak menggelikan saat menggaungkan nikah muda tapi tidak bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Perceraian dini yang berserakan, numpang dan doyan menjadikan orangtua sebagai sumber penghasilan, mengkhianati komitmen, dan lain sebagainya padahal pernikahan juga tentang penyatuan dua keluarga besar.

Samuel Richardson seorang penulis novel sejarah wanita muda menyebutkan, “Marriage is the highest state of friendship. If happy, it lessens our cares by dividing them, at the same time that it doubles our pleasures by mutual participation.” Menjalankan hal tersebut tentu dengan tidak menikah secara terburu-buru sebab yang begitu hanya akan meninggalkan masalah baru.

Soal Kompromi dan Pemakluman

Siapa saja berhak memiliki kriteria pasangan idaman. Seperti tidak merokok, berimbang dalam kecerdasan dan cakap mengambil tindakan, pekerjaan dan pendidikan, atau preferensi fisik – sah saja! Namun, jika indikator diatas dijadikan landasan untuk menjalani relasi yang sehat itu salah! Hal demikian, hanya akan menjadi hubungan yang manipulatif dan transaksional belaka.

Memilih bersama berarti siap menanggung segala konsekuensi yang ada. Menerapkan konsep cukup dalam hubungan itu perlu apalagi untuk jenis manusia yang lebih sulit buat jatuh cinta ketimbang meninggalkan. Kompromi ialah win-win solution. Sebelum memilih bersama atau melepas dengan pisah ingat lagi bab kompromi dan ‘memaklumi kesalahan.’

Keindahan dalam hubungan lahir salah satunya karena perbedaan, tapi yang lainnya tercipta lantaran persamaan. Banyak yang menikah karena pondasi kesamaan, namun tidak sedikit pula pernikahan dijalankan berkat perbedaan. Kaya akan gagasan. Terlalu sama ndak seru, terlalu beda nanti ribut terus.

Bagikan
Post a Comment