Kepada Surabaya dan Farid Merah
Oud Soerabaia
Buat Hida
Untuk Sidik, Hariyono, Koesno Wibowo, dan Arek-arek Suroboyo
Untuk Hotel Yamato a.k.a Oranje Hotel
Buat Pertempuran Surabaya
Surabaya, di jalanmu yang panas api
Aku membayangkan beberapa teguk arak api
Membakar mulutku penaka unggun api
Membakar kotamu, ibukota Revolusi
Surabaya, di dedaun rindang taman bungamu
Yang barangkali sudah jadi milik Risma, bosmu yang pemarah itu
Dan di dada kotamu yang penuh
Beberapa orang merobek bendera merah putih biru
Pertanda Revolusi berdarah, sudah jadi milikku jadi milikmu
Surabaya, kota kenang-kenangan Revolusi dan juga kenang-kenangan Cintaku dulu
Di rahim kotamu mengalir darah-darah suci ada juga darah-darah tak suci
Bergumul di aspal bau polusi
Berkelebatan di bus kota yang lupa cara berhenti
Surabaya, di panas apimu
Dengan kereta yang kupesan dari kotaku
Aku mengajakmu bertemu
Tapi masihkah kau simpan kekasih hatiku
Dan kenang-kenangan Revolusi kaumku dulu.
***
Disebabkan oleh Chairil
Malam, kupu-kupu
Mencari setaman kembang bermadu
Yang hilang-lenyap di dada kotamu
Sejak berapa waktu yang lalu
Malam-malam panjang
Pecah di pendar mata bulanmu
Yang menangisi kota, yang kesepian
Ditinggal taman bunga dan kupu-kupu; coklat, biru
Di kota ini taman bukan kita punya
Tak lebar luas, kecil saja ‘pun tak ada
Dan malam, kupu-kupu malang
Sesat di sempit gang kecil-remang
Tak ada mawar-melati dan kembang berkarang
Dalam gang sempit yang dibenci Tuhan
Mungkin sepokok khuldi tengah ranum-matang
Dan seekor ular akan melemparmu ke ranjang losmen murahan
Malam, kupu-kupu dan kembang hilang madu
Tak ada yang gratis di kota yang dijual murah
Ketika Sorga masih juga abu-abu
Di kota ini Neraka sudah terbakar-nyala.
Musikalisasi Puisi Sapardi
Aku ingin mencintaimu dengan puisi
Tapi aku tak mau sok tahu seperti Sapardi
Maka aku menangis karena sedih
Di dadamu yang mirip dada ibuku
Aku anak kecil yang haus lugu
Maka nyanyikanlah aku
Lagu-lagu masa kecil dahulu
Lehermu yang putih-putih melati Alibaba
Dan kucupanku yang merah-merah delima
Siapa yang baik hati Cinderella
Pasti disayang saya.
Istana Tanpa Kecemasan
Kepada Farid Merah
Di Wonokromo, Istana Tanpa Kecemasan
Boerderij Buitenzorg dia punya nama
Nyai Ontosoroh memulai kisah
Dan sejarah yang hidup di tangan penjajah
Wonokromo, lebih indah kulihat dari dalam tenda
Sepanjang rel kereta
Para bromocorah
Dan perempuan-perempuan tak pernah menyangsikan sejarah.
Syauqi Khaikal Zulkarnain, lahir di Kangean pada 18 Agustus1999. Berkuliah di Universitas Ahmad Dahlan, saat ini tengah menjadi Ketua Umum PK IMM FSBK UAD. Dapat dihubungi melalui WhatsApp: 082338239130 atau Instagram: @syauqikhaikal.
