f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah tangga

Haruskah Perempuan Mengelola Keuangan dalam Rumah Tangga?

Ketika telah berumah tangga, kerap kali menjumpai istri sebagai pengelolah penuh keuangan keluarga. Suami menyerahkan seluruh gaji kepada istri untuk dikelola, sedangkan ia seolah-olah tidak terlalu peduli dengan harian keuangan keluarga. Hal ini menjadi pertanyaan besar, apakah menjadi keharusan seorang perempuan untuk mengatur keuangan dalam rumah tangga?

Kenapa Tidak Berdua?

Lantas kenapa selama ini perempuan sebelum menikah diharuskan untuk belajar mengelola keuangan sendiri dengan baik sehingga nantinya akan terbiasa untuk mengelola keuangan rumah tangga? Padahal idealnya keuangan dalam keluarga dikelola oleh kedua belah pihak; artinya surplus atau minus dalam keuangan keluarga merupakan tanggung jawab suami dan istri, bukan hanya menjadi beban pikiran istri.

Pada hakikatnya, rumah tangga itu sebagai penyatuan diri dua orang yang saling mencintai sehingga masing-masing bagaikan berkata pada kekasihnya; “Jika engkau berbicara maka kata hatiku yang kuucapkan, dan bila engkau berkeinginan maka keinginanmu yang aku cetuskan. Engkau adalah aku, dan aku adalah engkau”.

Makna inilah seperti halnya yang dikatakan oleh Quraish Shihab; bahwa mengacu dalam QS.Ar-Rum (30):21 kata anfusikum ialah bentuk jamak dari kata nafs yang antara lain berarti jenis, diri, atau totalitas sesuatu. Penggunaan kata anfusikum mengisyaratkan bahwa pasangan suami istri hendaknya menyatu sehingga menjadi nafsin wahidah/ diri yang satu; yakni menyatu dalam perasaan, dalam cita dan harapannya dalam gerak dan langkahnya, dalam keluh kesah dan perasaannya, bahkan dalam menarik dan menghembuskan nafasnya. Itulah dalam pernikahan dinamai zawaj, yang berarti berpasangan, disamping dinamai juga nikah yang berarti penyatuan rohani dan jasmani.

Pengelolahan keuangan berdua antara suami dan istri dalam rumah tangga, sejatinya meningkatkan kebersamaan dan kekompakan dalam relasi suami istri. Beberapa suami ada yang beranggapan bahwa mengurus keuangan rumah tangga merupakan hal yang mudah; atau merasa “saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga sudah tidak ada waktu untuk mengurus keuangan keluarga”.

Baca Juga  Esensi Keluarga Sakinah Dalam Rumah Tangga

Hal ini perlunya saling mengingatkan bahwa tujuan suami mencari nafkah itu untuk kesejahteraan keluarga; lantas kenapa tidak memberikan waktu untuk memikirkan keuangan bersama? Kerap kali melihat suami menyalahkan istri karena bagi suami, istri tidak lihai dalam mengelola keuangan. Padahal seperti itu, tentu bukan sepenuhnya menjadi kesalahan istri, bisa saja suami tidak pernah update harga kebutuhan rumah tangga, sehingga keuangan rumah tangga cepat habis.

Pengelolahan Keuangan Mengedepankan Musyawarah

Seorang suami atau istri ketika mendapati ketidakberesan keuangan dalam rumah tangga; maka dilakukan dengan jalan musyawarah atau melakukan komunikasi timbal balik, dengan memikirkan pemilihan waktu yang sesuai. Hal ini selaras dengan tata cara yang diajarkan agama, mulai dari batin dan kesediaan memberi maaf, kelemah lembutan dan kehalusan kata-kata, sampai pada ketekunan mendengar mitra musyawarah; sehingga tidak terkesan gegabah dalam mengambil kesimpulan yang dikhawatirkan menjadi pertengkaran dalam rumah tangga.

Suami Istri Sepakat untuk Saling Transparan

Jika dalam rumah tangga tidak dimungkinkan untuk mengelola berdua, maka jalan alternatifnya dengan mempertimbangk an siapa yang akan mengelola keuangan keluarga, asalkan terdapatan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Apabila telah disepakati bahwa keuangan dikelola istri dan suami bertanggungjawab mencari nafkah; hal ini bukan berarti suami tidak boleh memberikan bantuan dalam pengelolaan aset dan keuangan rumah tangga, bila istri kurang mampu atau memerlukan bantuan. Dan juga sebaliknya tidak ada larangan bagi istri untuk membantu suami; terlebih ketika kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal dan baik serta tidak membahayakan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga selama suami mengizinkan, bahkan hal itu akan bernilai kebajikan untuk diri sang istri.

Baca Juga  Menakar Makna “Mapan” dalam Pernikahan

Bukankah ibunda Khadijah ra turut andil dalam membantu mencukupi kebutuhan keluarga Rasulullah sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebajikan, hal ini juga selaras dengan (QS.Al-Maidah:2). Transparansi atas pengelolahan uang merupakan kunci komunikasi yang efektif dalam hubungan suami-istri. Dengan saling terbuka tentunya menghilangkan rasa sungkan; artinya dalam urusan keuangan berapapun pendapatan yang diterima maupun pengeluaran yang digunakan baik pengeluaran pribadi atau kebutuhan bersama, maka terbukalah.

Dengan saling terbuka satu sama lain, maka kompromi dan kesepakatan terhadap alokasi anggaran pendapatan akan lancar dan timbul kepercayaan keduanya. Jika tidak bias saling terbuka tentunya akan menciptakan rasa curiga yang nantinya berdampak pada konflik rumah tangga juga berujung pada perceraian.

Tidak ada Aturan Khusus Siapa yang Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Masing-masing baik suami ataupun istri biasa mengambil peran dalam pengelolahan keuangan. Pembagian peran baiknya dimusyawarahkan. Menurut ilmu perencanaan keuangan, penting sekali meningkatkan komunikasi dengan pasangan tentang pengelolaan keuangan, membicarakan bersama alokasi keuangan keluarga untuk kebutuhan harian, besaran tabungan, hingga rencana jangka panjang, dan sepakati anggaran untuk masing-masing agar tidak menjadi sumber perselisihan.

Karena jika melihat angka perceraian yang semakin naik, ekonomi merupakan salah satu penyebabnya. Maka dari itu pentingnya mengelola keuangan bersama antara suami dan istri dengan tetap membangun komunikasi yang sehat.

Bagikan
Post a Comment