f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lovely runner al-ashr

Dari Lovely Runner Bermuara ke Teologi Al-Ashr

Konsep Waktu dari Drama Korea Lovely Runner

Siapa yang tau drama korea Lovely Runner? Kalau tau dan sudah nonton, siapa sih yang nggak ter-sunjae sunjae? Hehe. Nah, kali ini kita bukan mau bahas soal sunjae, tapi kita akan bahas soal konsep waktu yang ada dari drama ini. 

Lovely Runner bercerita tentang seorang tokoh bernama Im Sol yang kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan idolanya, yaitu Sun Jae. Dengan kembalinya Im Sol ke masa lalu, ia berharap idolanya dapat terhindar dari kematian di masa depan.

Bagi Im Sol, tindakan masa lalu pasti akan mempengaruhi kejadian yang ada di masa depan. Maka tidak heran jika dalam drama ini, tokoh Im Sol berusaha keras membantu Sun Jae agar tidak mengambil tindakan-tindakan yang akan merugikan masa depan.

Dari Drama Korea Lovely Runner Bermuara ke Makna Surat Al-Ashr

Dari Lovely Runner kita belajar bahwa setiap orang punya kesempatan untuk mengambil tindakan yang tidak merugikan diri kita di masa yang akan datang. Begitu pula makna Surat Al-Ashr. 

Dalam Al-Ashr, manusia pasti merugi jika berhubungan dengan waktu. Kebanyakan manusia menganggap bahwa waktu yang ia miliki masih panjang dan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu. Padahal waktu terus berjalan hingga akhirnya manusia rugi waktu dan tidak mendapatkan apa-apa. 

Sebagai anak muda tidak seharusnya memiliki persepsi yang salah mengenai waktu. Selagi muda, maka masih banyak kesempatan untuk mencoba lalu belajar dari kesalahan. Sehingga pada masa yang akan datang, ada banyak hal yang mampu kita lakukan berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi.

Tentu akan berbeda jika sewaktu muda begitu santai dan tidak punya pengalaman belajar dari kesalahan, kesalahan-kesalahan yang seharusnya dilakukan akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Baca Juga  Terjadi lagi! Kekerasan Terhadap Jurnalis
Pemaknaan Al-Ashr terhadap Pandangan Masa Lalu dan Masa Kini

Kejadian masa lalu akan mempengaruhi masa kini, sedangkan masa kini akan mempengaruhi masa depan. Dari kisah-kisah masa lalu, baik yang diceritakan dalam al-Quran maupun kisah-kisah Nabi dan para sahabat kita perlu belajar bahwa disana ada orang-orang yang merugi tersebab waktu.

Kisah masa lalu juga dapat memberikan pelajaran bagaimana orang-orang beriman pada zaman itu dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Sehingga sudah seharusnya orang beriman merefleksikan diri bahwa waktu merupakan suatu kenikmatan dan kesempatan yang tidak dapat terulang.

Dari Makna Al-Ashr, Lalu Harus Bagaimana?

Surat Al-Ashr ayat 3 memberikan makna bahwa orang yang tidak merugi adalah orang-orang beriman yang melakukan amal saleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Orang yang beriman akan berusaha membuat waktunya menjadi efektif dan produktif. Selain itu, mereka akan mengusahakan agar selalu melakukan hal-hal yang baik. Adapun saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dapat bermakna bahwa dari segala kesibukan sehari-hari, berdakwah menjadi salah satu hal yang tidak boleh ditinggalkan.  

Secara tidak langsung surat Al-Ashr memberikan penegasan bahwa al-Quran yang berisi kisah-kisah masa lalu dan masa depan dapat mengarahkan manusia agar tidak merugi dan berjalan sesuai dengan petunjuk Allah.

Mengenal Teologi al- Ashr

Teologi Al-Ashr merupakan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang memberikan pelajaran pada kita bahwa menjadi orang beriman saja tidak cukup. Seseorang yang mengaku beriman perlu menerapkan imannya dalam tindakan-tindakan yang baik. 

Hal ini menjadi penegasan bahwa setiap orang yang mengaku beriman perlu  meningkatkan hubungannya dengan Allah, yaitu dengan melakukan amal saleh. Amal saleh yang dilakukan dapat mencakup beberapa hal, seperti bagaimana seseorang beramal melalui ilmu, tenaga, dan waktu yang ada.

Baca Juga  Persiapan Jemaah Haji Jika Dilaksanakan Saat Pandemi

Maka sebenarnya teologi Al-Ashr tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah melainkan ada kaitannya dengan etos kerja, pemanfaatan waktu dan ilmu, serta menyebarkan nilai moral yang dapat diaplikasikan melalui kegiatan-kegiatan dakwah.

Bagikan
Post a Comment