f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
media

Dakwah Satu Ayat

Mungkin kita akan geleng kepala melihat realitas masyarakat Indonesia yang telah media terkonstruksi sedemikian rupa di media sosial. Jika tadinya media sosial mampu menghapus sekat ruang dan waktu, justru saat ini malah menciptakan sekat baru. Sekat yang lebih tegas dan provokatif. Menggiring keberagaman masyarakat Indonesia menjadi dua kelompok besar.

Sekat itu tercipta oleh pihak yang mencari keuntungan pribadi maupun kelompok. Di antaranya para elite politik yang ingin memperpanjang atau kekuasaan. Hal ini maklum, karena sikap politisi dari dulu memang seperti itu. Satu hal yang tidak habis pikir ialah ketika banyak orang memanfaatkan label “ustadz”, berbicara tentang politik praktis di mimbar keagamaan.

Masyarakat yang cerdas dan kritis berada dalam posisi dilema. Di satu sisi ketika mereka mengkritik ceramah agama beraroma politik praktis tersebut, ia terlabel telah memusuhi ulama. “Kamu muslim bukan? Kalau emang muslim harus nurut sama ulama. Jangan pilih si A.” Ustadz bagaikan dewa yang tidak bisa salah.

***

Akibatnya berdebat kusir tentang persoalan agama yang paling remeh hingga mengarah ke aspek kehidupan beragama yang lebih luas. Persoalan-persoalan yang seharusnya melingkupi banyak aspek yang kompleks, menjadi sempit ceramah-ceramah para ustadz yang banyak berseliweran di media sosial.

Padahal belum tentu kita ketahui seberapa luas khazanah keilmuan para ustadz itu. Belum lagi berbicara tentang sanad keilmuan, serta proses panjang untuk mematangkan ilmu pengetahuan sebelum adanya keberanian untuk membagikannya kepada masyarakat luas.

Mereka berdalih dengan hadis Nabi Muhammad yang memerintahkan untuk menyampaikan ilmu walaupun satu ayat. Namun jika kadar pengetahuan mereka belum mampu untuk menularkan pengetahuan tersebut, apakah anjuran itu tetap wajib? Apakah mereka tidak berpikir dampak yang akan timbul?

Baca Juga  Biar Nggak Insecure, Ini Tipsnya!

Meskipun bukan satu-satunya faktor, keterlibatan para ustadz yang populer di media sosial turut membentuk pola pikir masyarakat Indonesia yang cenderung terpolarisasi ke dalam dua kubu. Antara benar atau salah, hitam atau putih, muslim atau non-muslim. Apalagi persoalan agama tersebut berbaur dengan persoalan politik praktis. Maka sudah jelas akan mengarah pada hujatan.

Ayat al-Quran yang Tidak Melewati Kerongkongan

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad bersabda bahwa suatu hari nanti dari arah timur akan keluar manusia yang fasih melafalkan al-Quran namun tidak pernah melewati kerongkongannya. Golongan tersebut melesat keluar dari agama Islam seperti anak panah yang melesat dari busurnya.

Hadis Nabi Muhammad tersebut menjadi peringatan bagi umat islam bahwa kefasihan membaca al-Quran akan menjadi amalan yang sia-sia. Sehingga golongan itu akan mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan pemahaman. Ibnu Hajar al-Atsqalani menjelaskan bahwa jika bacaan al-Quran tidak melewati tenggorokan, bagaimana mungkin bacaan itu akan meresap sampai ke hati.

Orang-orang yang termasuk dalam golongan ini sangat lihai bersilat lidah, pandai beretorika menyampaikan argumennya. Berbekal kelihaian beretorika, bukan perkara sulit bagi kelompok ini untuk menggalang masa dalam jumlah banyak. Kelompok itu mengukuhkan diri sebagai pihak yang paling benar, seperti dewa. Bukan hanya dalam kehidupan beragama, klaim kebenaran itu mencakup seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.

Bersilat Lidah

Memanfaatkan kemampuan beretorika untuk menipu dan mengelabuhi orang lain banyak dijumpai pada masa Yunani kuno. Pada masa itu para sophis mengajarkan kemampuan berpidato kepada para pengacara dan politisi. Sophis menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu bentuk konvensi masyarakat. Mereka menggunakan kemampuan retorika sebagai senjata untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan masyarakat. Bahkan para sophis tidak segan melegalkan sesat pikir demi membenarkan ucapannya.

Baca Juga  Air Mata Doa

Jika diamati, pola pemanfaatan kemampuan retorika para ustadz media sosial memiliki kemiripan dengan kaum sophis. Para ustadz lihai mempengaruhi pikiran masyarakat menggunakan legalitas ayat-ayat al-Quran dan hadis Nabi Muhammad. Dalam banyak kasus, para ustadz media sosial hanya menampilkan ayat-ayat maupun hadis yang mendukung setiap pernyataannya. Seperti halnya ayat maupun hadis tentang hijrah yang hanya disampaikan sepotong, tanpa kontekstualisasi, penelusuran sejarah, hingga penjabaran mengenai perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama terdahulu.

Jika masyarakat terus mengamini klaim kebenaran mengatasnamakan agama dari para ustadz media sosial, bisa jadi mereka akan kehilangan esensi filosofis dalam diri setiap manusia. Seperti yang telah diajarkan Plato kepada masyarakat Yunani masa itu, esensi filosofis terkecil dalam diri manusia ialah skeptisisme. Masyarakat berhak untuk bersikap skeptis, mempertanyakan kembali segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Termasuk sesuatu yang sudah sangat mapan sekalipun. Tujuannya untuk menemukan sebuah kebenaran obyektif dalam diri masing-masing.

Namun masyrakat tidak peduli dengan kemungkinan itu. Masyarakat bukannya menolak atau paling tidak skeptis terhadap pernyataan para ustadz media sosial, mereka justru memuja dan mengelukan setiap tindakan dan pernyataannya. Mereka tidak lagi peduli dan melakukan pencarian kebenaran obyektif yang sebenarnya. Jika pada masa Yunani kuno terdapat Sokrates yang melakukan perlawanan terhadap kaum sophist menggunakan skeptisismenya, lantas siapakah yang berperan sebagai Sokrates untuk melawan para ustadz shopis sekarang.

Bagikan
Post a Comment