f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pandji diri

Berhenti Menyalahkan Pandji, Kembali Menata Diri!

Mengawali tulisan ini dengan mengucapkan “Terimakasih” kepada Pandji  Pragiwaksono yang telah melakukan kritik terhadap Muhammadiyah meskipun belum tentu dia merasa melakukan. Karena menurutnya pribadi, hanya sebatas mencatut pendapat seorang ahli sosiolog Dr. Thamrin Tomagola.

Tulisan ini sederhana, tidak bertele-tele dan mencoba mengambil posisi bersebrangan dengan dua tulisan sebelumnya; yang dimuat di Rahma.id dengan judul Pandji dan Klarifikasi Dr Tamrin dan Kepada Pandji Pragiwaksono Dilarang Cuci Tangan.

Saya pribadi sebagai partisipan Muhammadiyah memaklumi kekecewaan kawan-kawan kader Muhammadiyah yang merasa tidak dihargai atas sumbangsih kerja keras Persyarikatan selama satu abad lebih. Bahkan sebelum negara ini merdeka dan ketika negara ini masih faqir. Lebih kecewa penilaian semacam itu dilontarkan oleh seorang komedian dan diperbandingkan dengan ormas FPI. (Bukan salah si tapi tidak sepadan)

Namun, sebenarnya kalau kita boleh secara terbuka dan sadar melakukan refleksi kritis akan menemukan keresahan yang sama, dan berhasil diilustrasikan oleh Pandji. Bukankan terlalu mudah kita mendengar omelan di pelataran Amal Usaha Muhammadiyah. “Ah, sekolah di Muhammadiyah-Aisyah mahal”, “katanya penolong kesengsaraan umat, toh satu malam di RS Muhammadiyah-Aisyah tambah sengsara”, “Amal Usaha Muhammadiyah-Aisyah hanya bisa dinikmati oleh yang ber-uang”.

Memang benar tidak di semua daerah seperti itu ‘sebagai disclaimer’. Masih banyak sekolah, rumah sakit dan amal usaha lainnya di pelosok yang menggratiskan biaya untuk orang tidak mampu. Tapi bukan berarti suara sumbang itu tidak perlu kita dengarkan bukan? Terlebih hal tersebut bukan saja dilafalkan oleh orang awam saja, tapi partisipan atau warga persyarikatan di grassroot yang mencintai Persyarikatan itu sendiri.

Jadi, berhentilah menyalahkan Pandji, kecewa itu wajar tapi jangan berlarut-larut dan menghambat kerja amal yang biasa kita lakukan. Ambil ibrah dari perkataan Pandji dan mari tambah mawas diri.

Baca Juga  Kesenjangan Gender di Dunia Kerja Harus Selesai
Jangan berhenti kerja amal!

Kalau berbicara kebesaran Muhammadiyah, tentu tidak akan pernah ada selesainya. Mulai dari sikap nasionalismenya, tersebaran amal usaha di seluruh pelosok Indonesia yang tentu banyak, sampai valuasi aset yang ditaksir mencapai Rp 320 triliyun, hal ini bagi Ahmad Najib Burhani disebut kehebatan yang hanya mampu disaingi oleh negara.

Namun, kembali lagi, kita tidak boleh menjadi tawanan dari keberhasilan karena rasa puas diri (complacency). Bahkan ada pendapat seseorang yang menilai Muhammadiyah hari ini sudah seperti sapi gemuk yang berjalan lambat susah bermanuver karena semakin kompleks gerak dalam tubuh sendiri, dan tentu akan siap menjadi rebutan banyak pihak yang penuh kepentingan (tidak akan saya lanjutkan lebih).

Beruntunglah kita sudah dipecut oleh Pandji agar tidak terjebak dengan rasa puas dan berharap selalu mawas; selayaknya dijadikan pagar diri pribadi dan juga institusi Muhammadiyah. Jangan sampai ketika ada tetangga kesusahan kita enggan membantu atau mesti menghubungi Muhammadiyah (lazismu) terlebih dahulu untuk membantu.

Kyai Dahlan sudah menjadi uswah terbaik bagaimana Islam dipahamai yang kemudian diwujudkan dalam bentuk gerakan kemanusiaan. Dan oleh selanjutnya, pembuktian tersebut menjadi tugas kader Muhammadiyah dengan senantiasa turun ke grassrot tanpa perlu tersekat serta terikat ruang dan waktu.

Di tengah kondisi negara yang kritis seperti dewasa ini, kader Muhammadiyah perlu memperbanyak lagi kerja-kerja amal; seperti gerakan filantropi lazismu untuk pemberdayaan masyarakat, panti-panti sosial sebagai alternatif ruang singgah, team tanggap bencana MDMC, bahkan sekarang ada satgas Covid-19, MCCC. Jangan pernah lelah.

Syiarkan!

Saya pribadi tentu sepakat dengan pendapat mas Ahcmad Santoso bahwa dakwah amar ma’ruf nahi munkar muhammadiyah nyata dan bermanfaat meskipun tidak tersorot gempita media karena jalan yang diambil adalah gerakan kultural tanpa sorak sorai. Karena itulah Whiterington dalam sebuah hasil risetnya yang menarik tentang pergerakan Muhammadiyah menjuluki Muhammadiyah sebagai organisasi yang diberkati.

Baca Juga  Surat Untuk IMMawati

Namun, pernyataan semacam itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya dan terus menerus. Apalagi di era digitalisasi sekarang ini yang semakin kencang. Perlu peran media yang semakin giat mengabarkan ke alam digital yang lebih dekat dengan manusia sekarang.

Syiar ini bukan bermaksud riya tapi sebagai sarana edukasi untuk orang-orang agar bisa mendapat manfaat oleh Muhammadiyah itu mudah tidak perlu menjadi warga untuk mendapat manfaat. Serta menangulangi stigma buruk bahwa Muhammadiyah sudah tidak dekat dengan rakyat dan sudah bersikap elitis.

Karena anggapan Muhammadiyah sudah beriskap elitis dan sudah tidak menerima kaum papa karena Muhammadiyah kurang mengabarkan melalui media mainstream. Muhammadiyah sebagai gerakan moderen mesti  paham gerak laju zaman semacam ini.

Meskipun kita masih ketinggalan jauh dalam pengelolaan media dibanding yang lain. Namun tidak boleh berhenti, selalu syiarkan dakwah mencerahkan Persyarikatan dan semoga bisa menjadi counter narasi atau counter culture.

Bagikan
Post a Comment