f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berkasih sayang

Baik atau Tidak itu Pilihan

Berbicara perihal kebaikan maupun keburukan. Memori dalam otak kita tentu sudah merekam dengan baik sejak masih kecil. Ketika masih kecil orang tua kita sudah mengajarkan kebaikan. Mana yang termasuk tindakan yang baik serta mana yang tidak. Namun, menurut hemat saya. Kata “baik” itu sendiri sebenarnya memiliki banyak pengertian. Saya mengatakan demikian, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Meskipun demikian, pada umumnya kebaikan berkaitan dengan hal-hal yang berguna, bermanfaat atau tidak merugikan orang lain. Ini adalah pengertian secara umum. Disisi lain, apakah cuma sebatas itu saja. Saya rasa tidak.

Salah satu tokoh Indonesia pernah menyampikan perihal kebaikan. Pernyataan beliau menarik perhatian saya. Beliau menyampaikan bahwa kebaikan itu akan baik. Jikalau, berorientasi pada kebijaksaan dan juga keindahan. Jangan sampai kebaikan yang menurut kita baik, berujung tidak pada keindahan. Intinya. Kebaikan itu tidak hanya kebaikan menurut kita pribadi. Akan tetapi juga kebaikan menurut orang banyak. Tidak berhenti sampai disitu juga. Kebaikan menurut orang banyak pun juga masih harus ditingkatkan lagi. Harus difilterisasi. Harus kita temukan lagi kebaikan menurut Tuhan. Titik puncak inilah yang harus kita capai. Mendaki sampai pada titik puncak kebaikan menurut Tuhan. 

Dalam kehidupan di masyarakat seringkali kita mendengar sebuah kalimat. Bahkan, mungkin ini juga sudah sangat familiar ditelinga. Ada sebagian banyak orang yang mengatakan. “Ya sudahlah yang penting baik, buat diri kita juga baik. Kenapa harus memperdulikan kata orang. Kalau itu baik buat kita sendiri. Ya emang kenapa.” . Pernyataan ini sebenarnya sah-sah saja. Tidak salah juga. Namun, ada hal yang lebih esensial dari itu. Sudah saya sampaikan sebelumnya. Ada pencapaian atau bisa dikatakan sebagai tingkatan. Berdasarkan kalimat tersebut, masih pada tingkat ketiga. Artinya, kebaikan menurut pribadi dan untuk diri sendiri. Seharusnya bisa lebih meningkat lagi pada pencapaian kedua, yakni kebaikan menurut orang banyak. Alangkah lebih indah lagi merujuk pada yang pertama, yakni kebaikan menurut Tuhan.

Baca Juga  “Tawakal” Adalah Nikmat
Empan Papan

Ambil contoh sederhana. Jujur. Berbicara jujur secara norma merupakan hal yang baik. Namun, ketika perkataan jujur ini disampaikan ditempat yang tidak tepat, disituasi yang tidak sesuai, dan pada orang yang tidak pas. Justru akan berakibat pada keburukan. Balik lagi, ini menurut dari persepsi saya. Kalau mau mengutip istilah dalam bahasa Jawa. “Empan Papan” artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Terkadang jujur bisa ajur. Terkadang jujur bisa mujur. Bukan berarti saya mengajak untuk tidak jujur. Jelas tidak.

Namun, kita lebih mengedepankan pada yang namanya kebijaksaan serta keindahan. Perlu di ingat juga. Langkah-langkah yang kita ambil dalam situasi atau persoalan kehidupan tetap pada garis lurus. Garis benang merah dari yang Maha Kuasa. Saya yakin bahwa ketika kita sudah percaya dan yakin pada Tuhan. Langkah kita pun juga akan diridhoi olehNya. Disamping itu, maksud dari diri kita pasti diketahui olehNYa. Sebab Tuhan Maha Tahu isi hati hambaNya.

Baik atau tidak baik itu sebenarnya soal pilihan. Jika kita melakukan kebaikan, dengan pengetahuan yang kita miliki. Tentunya akan berujung pada kebijaksanaan. Insya Allah. Toh, perbuatan yang kita lakukan kepada orang lain. Sesungguhnya adalah perbuatan yang akan balik pada diri kita sendiri. Misalnya, berkata sopan dengan orang lain, atau tidak berbicara kasar dengan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kita berbuat baik pada diri sendiri juga. Dengan kita bersikap sopan dalam berbicara. Berarti kita sudah mengajarkan pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang santun.

Memilih menjadi baik bukan perkara mudah. Godaan-godaan akan selalu ada dalam setiap kebaikan yang ingin kita sebarkan. Mengingat di era sekarang yang serba mudah untuk mengakses apapun. Terkadang kebaikan yang sebetulnya sudah tepat malah menjadi keburukan untuk orang lain. Tidak jarang anggapan-anggapan orang terhadap perilaku baik yang sudah kita lakukan. Pada akhirnya, meruntuhkan motivasi diri dalam berbuat baik. Namun, bagi saya poin yang terpenting adalah soal presisi. Tentu saja, ketepatan menjadi  elemen utama. Waktu yang tepat; tempat yang tepat; dan cara yang tepat. Pengambilan keputusan ataupun langkah dengan timing yang pas. Akan menjadikannya indah untuk dipandang; dan dinikmati.

Baca Juga  Menjadi Orang Baik
Pilihan yang Bersumber pada Tuhan

Saya ingin mengambil permisalan. Jika kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan. Di dunia ini memilih ada penjahat atau tidak. Lantas kita menjawab: memilih ada penjahat. Mengapa kok memilih ada penjahat, karena baik itu pilihan. Kita mau memilih yang mana. Menjadi seorang penjahat atau tidak. Dalam kasus lain, misalkan. Kita mungkin pernah bertanya-tanya. Kenapa Tuhan kok tidak langsung saja menciptakan kehidupan ini dengan kebaikan saja. Kenapa harus ada drama-drama.

Baik dan buruk; tobat dan maksiat; pahala dan dosa; sopan dan kasar; tinggi hati dan rendah hati serta masih banyak contoh yang lain. Di awal tulisan ini saya sudah sampaikan. Sejak kecil memori kita sudah merekam. Perekeman itu sudah tertanam di dalam otak kita. Mungkin saja ada perkembangan. Namun, tetap saja nilai-nilai kebaikan tidak akan luntur. Sekarang ketika sudah bertumbuh dewasa. Pengetahuan kita bertambah, wawasaan kita semakin luas. Kita mempunyai komponen-komponen yang lebih komplit dalam bertindak. Mana yang baik atau tidak, tepat atau tidak, pas atau tidak. Kita sudah bisa memilih dan memilah. Maka dari itu, baik atau tidak baik itu pilihan.

Pemilihan yang berpedoman pada ketepatan, serta bersumber pada Tuhan. Menentukan cara kita bersikap maupun merespon keadaan di kemudian hari. Maka dari itu, perlu untuk menumpuk kebaikan. Kebaikan akan menjadi modal untuk kebaikan selanjutnya. Modal-modal kebaikan yang telah kita kumpulkan. Pada akhirnya, berujung pada kebermanfaatan. Titik puncaknya ialah menjadi manusia yang bermanfaat. Tidak untuk diri kita sendiri tentunya, namun juga untuk lingkungan yang lebih luas.

Bagikan
Post a Comment