f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Anak: Karunia, Titipan, dan Ujian

Ada perasaan campur aduk antara haru, bangga, syukur, dan rasa cinta ketika membaca sebuah postingan seorang ibu yang menceritakan tentang anak semata wayangnya. Sang anak kecil bertanya kepada ibunya, dia ingin tahu seberapa mahal harga dirinya di mata sang bunda. Pertanyaan sederhana, dalam, tetapi butuh jawaban yang pas agar anak mudah menangkap lalu mengerti. Terus terang saya salut dengan jawaban sang ibu dengan mengambil beberapa contoh ringan untuk anaknya yang berusia lima tahunan. Setelah dijawab sang bunda bahwa dia adalah harta yang paling mahal, maka dia pun merasa puas dan bangga.

Ada juga cerita dari sepasang suami istri yang tak berhenti bersyukur kala dikaruniai sesosok makhluk kecil yang disebut anak setelah sekian lama berusaha. Mereka nyaris putus asa sebelum rasa pasrah itu hadir. Di puncak kepasrahan, pasutri tersebut lebih memilih legowo, ikhlas, terhadap apa pun yang akan Allah putuskan untuk mereka berdua. Saat itulah Zat Yang Maha Mengabulkan mengijabah doa-doanya.

Setiap pasangan dalam mengarungi samudera kehidupan rumah tangga, sangat wajar mendambakan kehadiran buah hati sebagai penerus generasi. Namun, bila ternyata tidak atau belum ada momongan dalam kurun waktu tertentu, bukan berarti itu tanda bahwa Allah tak memberi karunia. Bukan. Sesungguhnya badan sehat, rezeki lancar, dan punya kesempatan berbuat kebaikan tanpa batas juga karunia yang tidak bisa kita ingkari.

Bagi kebanyakan orang tua, anak adalah karunia indah yang tak ternilai dari Sang Pencipta. Mengapa saya mengatakan kebanyakan? Ya, karena (tanpa bermaksud menyudutkan orang lain) masih ada beberapa gelintir pasangan yang justru tidak menginginkan hadirnya seorang anak. Kita tak bisa menghakimi, sebab menginginkan anak atau tidak adalah hak masing-masing pasangan.

Baca Juga  K.H Ahmad Dahlan dan Kaum Perempuan

Sebagai permata hati, pelipur lara, dan penyejuk mata, anak juga sebagai salah satu sarana Allah dalam memberi ujian bagi setiap hamba-Nya. Ujian kesabaran; kemampuan dalam merawat, mendidik, melindungi, juga ujian dalam memastikan kesejahteraan dan tumbuh kembang anak dengan baik, dan lain sebagainya.

Anak sebagai karunia itu pasti dan bagi insan yang menerima karunia, bersyukur merupakan keharusan. Berapa banyak di bumi ini yang merindukan hadirnya seorang anak tetapi kehendak-Nya berkata lain? Jika saat ini gencar propaganda tentang childfree dan sejenisnya, biarlah itu sebagai bagian dari pedoman hidup mereka yang memilih untuk demikian.

Akhir-akhir ini kerap terjadi peristiwa menyedihkan, seorang anak sengaja dibuang oleh ibunya sendiri dengan bermacam dalih. Kita tentu tahu selain sebagai karunia, anak juga merupakan titipan yang kelak kita pertanggung jawabkan pada yang menitipkan. Pantaskah berbuat semau kita atas apa yang dititipkan? Di luar apakah kita sanggup atau tidak dengan titipan tersebut, Yang Maha Tahu tentu sudah memperhitungkannya. Oleh karena sebagai titipan, kita harus ikhlas manakala Dia mengambil kembali kapan pun itu.

Seperti yang sering kita jumpai ketika ada acara wisuda di sebuah kampus, tetapi yang hadir hanya orang tua, tanpa wisudawan atau wisudawati. Ada apa? Ternyata di puncak kebahagiaan atas perjuangan menuntut ilmu tersebut, sang anak harus mendahului orang tua kembali ke haribaan-Nya. Seketika ada aura kesedihan siapa pun yang melihatnya. Betapa air mata ini serasa tak mampu dibendung untuk tidak tumpah. Mengingat untuk sampai di titik ini, sudah pasti awalnya ada pengorbanan, doa, dan air mata dari orang tua maupun anak itu sendiri.

Suratan takdir memang tidak bisa dibantah dan harus diterima.

Baca Juga  Selektif Memilih Guru dan Pesantren

Siapa pun, tidak hanya orang tua, pasti merasakan terenyuh, terharu, dan mengharu biru di suasana seperti itu. Selain ada cita-cita yang ingin diraih dengan sekuat tenaga dan penuh kesungguhan, ada pula perjuangan berdarah-darah yang harus dilalui. Meski di dada membuncah rasa bangga dan puas atas prestasi anak, tidak bisa dimungkiri ada pula secuil hati yang pedih bagi orang tua yang mengalami.

Itu hanya sebagian kecil dari sekian ujian, karena Dia tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Hanya Dia yang lebih berhak mengambil titipan kapan saja. Semasa bayi, kanak-kanak, remaja dan seterusnya. Sebagai hamba, kita sadar ada Zat Yang Maha Kuasa atas segalanya. Jangankan hanya seorang anak, bumi seisinya adalah milik-Nya.

Masih segar dalam ingatan, peristiwa tragis di Jagakarsa yang menyentak hati siapa pun yang membaca beritanya. Tak terbayangkan bagaimana hancurnya hati seorang ibu ketika empat buah hatinya terbujur biru membisu. Mereka meregang nyawa saat sang bunda tak berada di sisinya. Mereka juga tak mampu berkutik kala algojo itu mengirimnya paksa menuju Sang Penguasa Alam Semesta. Tak ada kata yang pantas selain kata bengis, keji, dan biadab untuk algojo yang tak lain adalah sang bapak sendiri. Tak terbayangkan, di mana nuraninya saat itu sehingga begitu mudah menghabisi darah dagingnya sendiri dengan sadis. Ah! Masih pantaskah dia disebut sebagai manusia?

Berita-berita seputar anak yang miris, mengiris kalbu dan mengoyak perasaan nyaris tiap hari menjadi santapan empuk yang mau tidak mau harus kita telan. Bila mau jujur, membaca berita-berita semacam itu tidak hanya memantik amarah tapi juga rasa perih di dada. Buah hati yang dirawat, dibesarkan dengan penuh perjuangan, pengorbanan, dan cinta, haruskah berakhir dengan tragis? Ironisnya, si pelaku adalah orang yang telah mengukir jiwa raga mereka.

Baca Juga  Perempuan Muslim Millenial: Membongkar Stereotip dan Memperkuat Peran Positif

Ibarat pepatah, sebuas-buasnya harimau tak mungkin memangsa anaknya sendiri. Apakah pepatah ini sudah tidak relevan saat ini bagi sebagian orang tua? Memang anak tersebut anak sendiri, diurus, dirawat, dan dibesarkan sendiri. Bahkan bisa jadi selama mendampingi tumbuh kembang si anak, tak kurang-kurang orang tua berjibaku demi kelangsungan hidup mereka. Meskipun demikian, bukan berarti titipan itu lantas menjadi “miliknya” lalu dengan sesuka hati mempermainkan atau bahkan melenyapkannya. Tidak ‘kan?

Kepada siapa Allah memberi karunia, menguji dan menitipkan makhluk-Nya yang kita sebut anak, itu mutlak hak Allah semata. Dari kisah dan sejarah yang pernah kita pelajari dalam kitab suci Alquran, insan-insan pilihan–para rasul dan nabi–juga tak luput dari ujian sehubungan dengan yang satu ini. Namun, di balik berbagai ujian selalu ada karunia yang jauh lebih besar dan wajib untuk disyukuri.

Bagikan
Post a Comment