f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
macet

Akar Matinya Ketentraman

Kita sering mendiseminasikan narasi kemoderatan, toleransi dan sebagainya, baik melalui media online, forum dan acara-acara lapangan. Tujuannya sederhana, untuk menjaga kedamaian dan ketentraman dalam berbangsa dan bernegara.

Alih-alih mendapatkan kedamaian dan ketentraman, justru secara nyata kita malah bertubi-tubi terjatuh ke dalam lubang pertengkaran dan ketidaktentraman. Saya pikir untuk menjelaskan ini tidak perlu dengan berlapis-lapis data. Cukup Anda refleksikan tentang bagaimana di lingkungan tempat Anda tinggal dan beraktifitas.

Memang, pertengkaran di dalam masyarakat karena “sebuah isu” tidak sampai menimbulkan perang berdarah-darah. Tetapi sebagai makhluk homosocious kita cukup dibuat resah olehnya, karena hal itu menimbulkan kecanggungan dan rasa saling curiga antar warga.

Mungkin sebagian dari kita akan berkata. Ini adalah hal wajar, pertengkaran itu sebagai batu uji untuk menjadi negara yang maju lagi perkasa.

Kemudian, untuk kita punya jalan tol ribuan kilometer, gedung-gedung menjulang dan seperangkat alat canggih kehidupan, kalau ketentraman tidak hadir? Anda mau?

Bukankah kemajuan bukan hanya tentang kemegahan infrastruktur saja, tetapi juga tentang manusia yang berbudaya luhur. Pikiran canggih melahirkan kesantunan tingkah laku, kesantunan membentuk keharmonian sosial. Sementara kecanggihan budaya itu tidak mungkin lahir dari bangsa yang culas dan gemar bertikai.

***

Beberapa waktu lalu, mantan “pendengung” kembali mengemuka, lagi. Cuitannya tentang rasialisme dan islam arogan sukses mengerek namanya ke barisan manusia viral. Sederet tokoh dari ormas-ormas besar menanggapinya dengan narasi ketus. Bukan hanya itu, baru-baru ini sekelompok orang yang mengaku sebagai akademisi dari kampus ternama dengan naifnya melabeli salah seorang profesor dengan label radikalis. Akhirnya, heboh di mana-mana. Terjadilah perdebatan kusir di antara masyarakat yang mendukung dan menolak.

Seakan-akan kita ini tidak pernah bosan menebar lumpur ke kolam renang. Dengan bangga kita membuat keruh kolam dengan lumpur sensasi, lebih menggelikan lagi kadang kita mengatasnamakan rasionalitas. Di pandang dari sudut pikiran mana pun, kelakuan semacam itu hanya manifestasi dari kekonyolan semata.

Baca Juga  Hadis Perempuan Kurang Akal dan Agamanya: Prespektif Sains

Kita yang memimpikan kehidupan berbangsa yang tentram, malah tertampar lagi oleh berita-berita yang mencederai ketentraman.

Sekarang ini informasi dapat menyebar dengan mudah dan cepat, ratusan juta orang bisa mengaksesnya. Bahkan, maaf, “pemulung” saja punya potensi yang sama seperti crazy rich Medan untuk dapat viral.

Apalagi orang-orang yang memiliki panggung di media sosial dan dikenal oleh masyarakat luas sebagai tokoh. Seharusnya golongan ini lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku. Karena setiap orang yang dilabeli sebagai ‘tokoh’ memiliki tanggung jawab moral. Tentu di luar itu ada banyak juga tokoh yang tetap berada di rel kejernihan.

Padahal, keberhasilan misi-menumbuhkan-ketentraman-di-dalam-berbangsa-dan-bernegara ada di tangan orang-orang seperti mereka, dan pada tangan setiap tokoh yang dikenal oleh banyak orang: baik tokoh media sosial, tokoh akademisi, tokoh pemerintahan, tokoh agama dan seluruh tokoh di segala tempat yang cuitannya memiliki jangkauan luas.

Kalau seorang adik mencela kakaknya, yang bakal rusuh palingan grup whatsapp keluarga. Tetapi kalau seorang tokoh nasional yang buat sensasi, yang bakalan rusuh ya senegara.

***

Kita sering menyalahkan masyarakat karena memiliki tingkat literasi yang rendah, sehingga mudah terprovokasi dan termakan berita ngawur. Tapi tunggu dulu. Kenapa kita tidak pernah menyalahkan para tokoh yang hobi memancing sensasi itu? Bukankah mereka yang selalu melempar percikan api ke tengah masyarakat. Masyarakat itu audience bangsa, Anda melontarkan cuitan masyarakat menanggapi. Memang sudah seperti itu seharusnya.

Jangan salahkan masyarakat yang mudah terjebak dalam polarisasi isu. Tapi tanyakan kepada para tokoh itu mengapa mereka tega memantik polarisasi isu yang mengorbankan ketentraman dan keberadaban? Saya beri penekanan di kata “tega” karena ini perkara kesadaran.

Baca Juga  Belajar dari Gadis Kretek, Perempuan itu Berperan

Kekacauan di tengah masyarakat hanyalah hilir. Hulunya ada pada para tokoh yang narsistik. Narsistik yang saya maksud adalah psikologis orang yang selalu ingin tampil, merasa sang pemimpin, merasa pahlawan dan akhirnya merasa harus selalu mencolok.

Kalau begini, buat apa kita harus bersusah payah menyadarkan masyarakat agar lebih bijak membaca berita, menghabiskan banyak uang buat ngundang, katakanlah artis, untuk sosialisasi ketentraman? Bukankah sebaiknya kita menggedor hati-nurani para tokoh saja agar tidak berlaku dan berkata-kata seenak jidatnya? Kalau tingkah laku para tokoh itu lurus-lurus saja, saya yakin masyarakat juga bakal tenang-tenang saja.

***

Memang setiap insan punya potensi untuk terjebak dalam narsistik. Bertingkah laku seakan-akan rasional padahal mencederai kerasionalan. Kita perlu menumbuhkan keinsafan bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri dan kelompokmu. Ada ratusan juta manusia yang berada dalam teritori tanggung jawab moral para tokoh.

Di samping itu, kemampuan mencintai yang di luar diri sendiri adalah kunci ketentraman dalam berbangsa. Dan, mencintai itu tidak bisa tumbuh selama para tokoh itu masih mengira dia tidak memiliki tanggung jawab dalam menjaga konsistensi visi ketentraman.

Cinta adalah simpul pengikat dari ketentraman dan kedamaian. Jika simpul itu rapuh, terlepas atau sengaja dilepas, maka tercerai-berailah ketentraman itu.

Ah, saya jadi teringat wejangan Erich Fromm dalam bukunya Seni Mencintai, begini katanya: tumbuhnya cinta mensyaratkan pada kerendahan hati, obyektivitas, dan nalar … Jika kita menyimpan obyektivitas untuk orang yang kita cintai … (tetapi tidak kepada keseluruhan) … Kita akan segera melihat kegagalan di sana sini.

Setiap manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga ketentraman dan kedamaian. Tetapi yang paling tinggi tingkatan tanggung jawabnya ya para tokoh, mereka adalah duta ketentraman. Mereka sebagai cermin bagi masyarakat. Kalau cerminnya retak, refleksi diri masyarakat juga bakal retak.

Baca Juga  Eratkan Komunikasi Keluarga Demi Kesehatan Mental Pasca Pandemi

Masyarakat kita saat ini, memang sedang bingung dengan kenyataan hidup. Pandemi membuat mereka gampang digoyang-goyang oleh angin isu. Persis seperti ilalang yang tidak diguyur hujan selama sekian lama. Kering dan labil. Lalu sodara mau coba-coba menghujani mereka dengan api? Oh, jangan! Amat riskan!

Main aman sajalah, sayangi masyarakat sebagai pemegang tampuk kedaulatan.

Bagikan
Post a Comment