Pesan Kartini bagi Milenial
Bicara tentang tumbuh kembangnya generasi maka tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan tokoh yang dilahirkan negeri ini. Salah satunya adalah Kartini.
Merefleksikan perjuangan Kartini yang menjadi salah satu pahlawan nasional tidak terlepas dari konsep pemikiran-pemikiran cerdas yang beliau hadirkan. Ide/gagasan tersebut ada yang tertuang dalam perjalanan hidupnya/rekam jejaknya; baik dari kumpulan surat yang dibukukan para sahabatnya yang berjudul Door Dulstemfs tof licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) maupun dari biografi hidupnya .
Hadirnya generasi milenial membawa banyak perubahan positif, khususnya dalam membangun pola komunikasi; di mana komunikasi menjadi salah satu kunci dari keberlangsungan suatu negeri.
Komunikasi yang baik akan menciptakan pola diskusi yang terbuka. Sehingga, transparansi informasi dalam bentuk dan ragamnya mampu tersampaikan. Komunikasi yang terbangun dari pimpinan pada bawahan, maupun sebalikya; top down-bottom up diharapkan berjalan dengan baik dan benar.
Adapun komunikasi yang saat ini hadir dari generasi, yakni peningkatan pola komunikasi terhadap penggunaan media dan teknologi digital. Hal ini semakin dikuatkan dari terbukanya sikap milenial terhadap hal-hal baru yang sifatnya membangun.
Lantas, Bagaimana Pesan Kartini terkait Tumbuh Kembangnya Generasi di Masa Kini?
Berdasar Buku Perjuangan Wanita Indonesia setelah Kartini tahun1904-1964, memuat pesan bahwa ada tugas yang belum tuntas dari generasi di masanya untuk generasi setelahnya; sebagai tongkat estafet pelangsung sejarah.
Di masanya, Kartini muda merintis perjuangan bagi generasi. Bukan hanya bagi perempuan saja, namun anak negeri. Membuka jalan melalui kegiatan kewiraswastaan yang dalam ungkapan Kartini ‘ Zaman baru yang saya inginkan telah masuk ke dalam masyarakat kami’. Menjadi salah satu pesan bagi generasi bahwa kesiapan terhadap perubahan senantiasa menjadi suatu hal yang akan dihadapi setiap generasi di manapun, kapanpun suatu masa bertumbuh.
Dalam perjuangannya pula, Kartini menegaskan sebagai generasi tidak ada ruang untuk berputus asa terutama terhadap perubahan. Karena generasi akan melalui perjalanan berupa proses sesuai dengan keadaan/masanya. Seperti ungkapannya, ’…hidup ini terlalu indah, terlalu sedap untuk dihancurkan dengan ratap tangis akan hal-hal yang sebenarnya bisa diubah..’ Meski Kartini menyadari zaman/masanya belum memungkinkan bagi terwujudnya cita-cita namun harapan untuk generasi dari masa ke masa menjadi magnet kebaikan anak bangsa.
Tiga Pesan Kartini bagi Milenial
Pertama, mengajak untuk tidak menyerah pada keadaan sepahit apapun itu.
Hal ini mengandung makna, di mana generasi milenial dengan ragam kemajuan dan potensi yang dimiliki, mampu menjadikan kekuatan internal yang dimiliki menjadi pilar bersama dalam membangun kepercayaan. Selain itu, menjadikan terbukanya pola komunikasi bahwa generasi mampu beradaptasi dengan lingkungan yang menyertai. Tangguh dalam situasi yang beragampun hadir.
Kedua, mengajak generasi untuk membangun sikap mental yang positif.
Hal ini mendasari lahirnya pemuda-pemudi yang kuat secara keilmuan/wawasan, juga kekuatan iman dan ketaqwaan. Sikap mental diperlukan bagi generasi milenial, seperti membangun kesadaran dalam upaya membenahi akan pentingnya kontribusi milenial. Serta upaya menyikapi lahirnya ragam perbedaan.
Ketiga, mengajak generasi untuk belajar pengetahuan dan keahlian.
Hal ini menyiratkan bahwa kompetensi atau keahlian sudah menjadi satu cita-cita Kartini dalam membangun generasi ke depan. Fenomena ini dikuatkan dengan bagaimana di masanya, Kartini membuka ruang kegiatan perempuan muda; saat itu dalam geliat keterampilan seputar keterampilan rumah tangga seperti menjahit, membuat kerajinan tangan dan hal serupa lainnya yang mampu diteruskan generasi milenial saat ini dalam menyalurkan minat bakat yang beragam.
Ketiga pesan tersebut terangkum dari surat-surat Kartini yang mengungkapkan perlunya generasi berwiraswasta agar menjadi ahli dibidangnya. Masa kini sekali lagi tidak terlepas dari sejarah panjang kontribusi sosok Kartini. Upaya perjuangannya belumlah tuntas sebab harapan terus mengalir bagi generasi.
Bagi generasi Milenial, cita-cita Kartini menjadi satu ghiroh yang tak putus dilekang masa. Sebab internalisasi nilai yang terpatri dari ide/ gagasan Kartini akan terus hidup dan menjadi spirit bagi generasi berikutnya untuk semakin berbenah. Sebuah ungkapan bermakna dari sosok Kartini terpatri di sanubari anak negeri ‘Sekalipun raga ini terpasung namun cita- cita akan senantiasa terbang tinggi’. Semoga.

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
