Barang Titipan (Part 2)
Sejak bangun tidur, aku ingin segera menelepon dokter Mira, tapi tidak jadi. Karena teringat pesan Dia semalam, ‘begitu ada kabar hasil pemeriksaan, Aku segera memberitahumu’. Lagian, Dia memang tidak begitu suka kalau ditelepon ditanya kondisi pasien.
Menunggu adalah kondisi di mana waktu seolah berjalan melambat. Apalagi menunggu sesuatu yang sangat diinginkan sekali. Saat ini, Aku ingin sekali mendapatkan kabar Humaira. Tapi sampai hampir pukul sepuluh, yang ditunggu belum tiba. Aku ingin menyusul ke rumah sakit, tapi mengingat pengalaman sebelumnya, merasa akan percuma. Karena, tetap tidak akan diijinkan masuk ke ruang perawatan anak, selama pemeriksaan belum selesai.
Untuk menghilangkan kegalauan, Aku pun menyibukkan diri dengan beres-beres rumah dan kemudian memasak, Aku janji akan menghidangkan menu kesukaan suamiku saat makan malam nanti.
Pukul 12 lewat gawaiku bunyi. Baru saja selesai melaksanakan shalat Zuhur. Sebuah pesan masuk.
“Nis, Kamu sebaiknya segera ke rumah sakit.”
Pesan yang pendek dari Mira. Pesan yang menambah kepanikan dan kekhawatiranku. Mira biasanya langsung menelepon, tidak pernah melalui pesan kalau memberitahu tentang Humaira.
Apa yang terjadi dengan Humaira? Apakah dokter Mira menghindari pertanyaan dariku sehingga tidak mau menelepon langsung? Dan pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan dalam kepalaku.
Segera kutelepon adikku.
“Wan, antar kakak ke rumah sakit.”
***
Sampai di halaman rumah sakit Aku langsung berlari ke ruang anak, meninggalkan adikku yang masih memarkirkan sepeda motornya. Dokter Mira sudah menunggu di depan pintu ruang anak.
“Humaira harus masuk ICU,” katanya pendek tanpa menunggu Aku bertanya.
“Apa, apa yang terjadi dengan anakku, Mir?”
“Ada terdeteksi kelainan lain di jantungnya, selain kelainan yang sebelumnya. Dan, sejak jam 10 tadi, panas tubuhnya meningkat.”
Serasa seluruh tulang dalam tubuhku menghilang. Tubuhku pun melemas dan merosot jatuh. Beruntung dokter Mira meraih tubuhku dan kemudian dibantu adikku, Aku dibawa ke ruangan dokter Mira.
Antara sadar dan tidak, dokter Mira memberiku obat dan membantu menempelkan gelas ke bibirku. Aku pun meminumnya pelan sampai habis.
“Kamu harus tenang, Nis,” katanya pelan.
Aku hanya mengangguk. Dokter Mira membaringkanku di sofa yang ada di ruangannya. Aku pun tertidur, seperti dia memberiku obat penenang, sehingga Aku bisa tertidur cukup pulas.
Entah berapa jam Aku tidur.
Pukul 15 Aku dibangunkan untuk mengerjakan sholat Ashar.
Sekitar pukul setengah empat interkom di meja dokter Mira berbunyi. Dia pun mengangkatnya dan bicara singkat. “Baik saya akan segera ke sana.”
“Maaf Nis, aku tinggal dulu ya.”
Aku membalas dengan anggukan.
…
Selang setengah jam, dokter Mira kembali dan langsung menghampiriku dengan mimik muka sedih dan terlihat di matanya menggenang sedikit air mata. Perasaanku berkata, ada yang tidak beres dengan Humaira.
“Ada apa, Mir?” Aku menyambutnya dengan pertanyaan.
Dokter Mira tidak menjawab. Dia hanya memandang wajahku. Kemudian memelukku. Tangisnya pun tersedu di bahuku. Isaknya mengguncang tubuhku.
“Nisa, kamu yang sabar ya, Allah Maha Tahu, kamu pasti tabah menerima takdir-Nya.” Dokter Mira terbata-bata di antara isak tangisnya.
Aku hanya duduk tegak. Kaku. Tanpa Dokter Mira berkata pun, Aku sudah tahu apa yang terjadi dengan Humaira. Gestur tubuhnya yang memeluk erat sambil menangis, sudah memberitahuku. Seperti ada sesuatu meninju jantungku, membuat debarnya bertambah cepat. Sakit. Airmata pun deras mengalir membasahi pipi ku. Tangis pun tak bisa kebendung.
Mendengar aku menangis, dokter Mira makin erat memelukku. Beberapa menit kita berdua menangis sambil berpelukan. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Maafkan Aku, Nis!”
Aku diam. Sorot mata tanpa tatap dan derai airmataku, cukup untuk menjawabnya.
Setengah jam kemudian, Aku sudah bisa menerima kenyataan. Putri cantikku, Humaira, telah mendahuluiku. Bidadari yang ditunggu kedatangannya selama lima tahun. Matahari yang selalu menyemangati suamiku, kini tiada. Ku lihat dia seperti tidur pulas, seperti biasa dengan senyum kecilnya. Kulit putihnya semakin putih, kontras dengan selimut biru tua yang membungkusnya.
“Antarkan aku dengan mobilmu!” pintaku pada dokter Mira.
“Nisa, prosedur rumah sakit mengharuskan jenazah diantar dengan ambulan.”
“Kau atur lah, Aku nggak mau pulang pake ambulan,” tegas Aku meminta.
…
Dokter Mira menyerah. Berjalan ke ruang adminitrasi. Beberapa kemudian kembali dan mengangguk. Aku segera menyuruh adikku pulang tanpa memberitahu kondisi anakku. Kudekap erat Humaira selama berjalan ke tempat parkir.
“Kau tidak ngasih kabar suamimu?” Tanya dokter Mira sambil menyetir.
Aku terdiam sejenak. “Aku khawatir. Dia sedang dalam perjalanan pulang, perkiraanku dia sudah masuk tol. Kalau aku kasih kabar, takut dia panik dan ngebut.”
Dokter Mira mengangguk. “Terus, rencananya akan dimakamkan di mana?”
“Nanti lah aku bicarakan sama sumaiku.”
Dokter Mira tidak bertanya lagi. Terus memegang setir, sementara aku, terus memeluk Humaira.
Sampai di rumah, Aku langsung membaringkan Humaira di kasurnya.
“Serius kamu nggak mau aku temani sampai suamimu tiba?”
“Ya!” jawabku pendek.
“Baiklah, Nis! Aku tahu, Aku kenal kau sudah lama. Kamu pasti tabah menghadapi ini semua. Pamit ya, assalamu’alaikum.” Dokter Mira memelukku erat.
“Wa’alaikum salam, terima kasih, Mir.” Kubalas pelukannya.
Aku tengok jam dinding, pukul 17.45, sudah mau maghrib. Aku segera bergegas ke kamar mandi.
Setelah sholat maghrib dan berdo’a, kusempatkan membaca Al-Qur’an, dua halaman cukup menenangkanku. Ketika hendak mengembalikan Al-Qur’an ke rak buku, pandanganku tertarik ke sebuah kitab hadis.
Entah kenapa, hati ini menggerakkan tangan untuk meraihnya. Aku membukanya hampir halaman tengah, kubaca, tertegun Aku membaca sebuah hadis yang mengisahkan tentang Ummu Sulaim. Kuresapi kisahnya. Ada sedikit senyum dalam hatiku.
…
Bunyi gawai mengagetkanku. Dari suamiku, hanya pesan singkta, ‘maaf Abang terlambat, ada tabrakan di tol, lumayan macet’.
Kubalas, ‘ya Bang, hati-hati jangan ngebut’.
Kusibukkan di kamar. Kuganti baju Humaira, bersih sekali kulitnya ketika semua bajunya terbuka bahkan tercium wangi. Rupanya pihak rumah sakit sudah memandikan sekaligus memberinya parfum. Aku pakaikan baju terbaik untuk Humaira, selimutnya pun aku ganti. Aku tambahkan lagi parfum. Humaira terlihat seperti tidur. Subhannallah, bibir mungilnya sejak dari rumah sakit tidak berubah, menyunggingkan senyum yang mengundangku untuk menciumnya.
Aku kemudian menyiapkan makan malam. Dan terus berusaha fokus untuk bersikap tenang untuk menyambut suamiku. Aku tidak ingin kedatangannya disambut dengan sesuatu yang membangkitkan emosinya. Suamiku memang orang yang shaleh dan cukup penyabar, tapi ada sedikit darah Medan dalam tubuhnya, yang kadang itu meledak kalau pemicunya sangat membuatnya marah.
Seperti pernah terjadi setahun silam, saat suamiku memarahi anak buahnya. Kaget Aku melihatnya marah, kemarahan yang baru aku dengar kali itu. Dan aku tidak ingin kemarahan seperti itu muncul malam ini, mengingat sayangnya ia pada Humaira.
Pegawai BUMN tinggal di Tasikmalaya, aktif menulis di blog pribadi, kompasiana, grup-grup FB, dll.
Twitter : @wid_urip
