Kekokohan Tauhid Sebagai Tameng Dari Kesyirikan

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Islam adalah agama monoteisme, yang percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, yang menciptakan semesta dan pengatur kehidupan di dunia ini. Monoteisme juga meyakini bahwa Tuhan yang mampu menghancurkan alam semesta ini dengan kuasa-Nya. Dalam Islam, terdapat konsep tauhid yang menjadi fondasi kokoh yang harus dipegang erat oleh muslim; agar mampu memfilter setiap ajaran yang sampai kepada kita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Tauhid adalah kata benda. Yang artinya adalah keesaan Allah keyakinan bahwa Allah hanya ada satu. Tauhid berasal dari kata “Wahhada” “Yuwahhidu”, “Tauhidan” yang artinya adalah mengesakan Allah SWT.

Syekh Muhammad Abduh; tauhid ialah suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan pada-Nya. Juga membahas tentang rasul-rasul Allah, meyakinkan kerasulan mereka, apa yang boleh dihubungkan kepada mereka, dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka. Berdasarkan banyak definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tauhid adalah yakinnya seseorang mengenai esanya Allah SWT.

Tauhid adalah kepercayaan ritualis dan perilaku mengajak umat untuk menyembah Tuhan atau  entitas yang esa. Abu al-A‟la al-Maududi berpendapat bahwa tauhid adalah pembeda antara muslim dengan kafir, musyrik dan ateis. Mengesakan Allah hukumnya wajib dalam Islam.

Tauhid rububiyyah

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan dan pengurusan. Contoh dalilnya yang telah tertuang di dalam Al-Qur’-an

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” [QS. Al- A’raf: 54]

Tauhid Uluhiyah

Tauhid uluhiuyah yaitu tauhid ibadah. Maksudnya adalah tauhid di mana kita menisbatkan diri untuk beribadah hanya pada Allah SWT., tidak kepada entitas atau makhluk lain, dan mengakui bahwa hanya Allah yang wajib kita sembah. Allah Taala telah berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” [QS. Luqman: 30]

Tauhid Asma Wa Sifat

Tauhid asma wa sifat, berasal dari kata asma’ (nama) wa (dan) sifat (sifat). Maksudnya adalah kita harus mentauhidkan dan yakin kepada Allah dengan sesuai nama serta sifat Allah. Kita harus menetapkan nama dan sifat Allah yang sudah tertuang dalam kitab atau sunnah nabinya, dan tidak boleh menyamakan nama serta sifat Allah dengan makhluk lain dan menyamakan dengan Allah SWT.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Asy-Syuura: 11] [Lihat Al-Qaulul Mufiiid I/7-10]

Tiga jenis tauhid tersebut adalah salah satu syarat atau intisari agama Islam, di mana sebagai tolak ukur apakah seseorang Islam seutuhnya atau tidak, karena seseorang yang beriman sepenuhnya kepada Allah SWT ketika sudah memenuhi syarat tauhid di atas. Misalnya, apabila rububiyyah dan asma wa sifat ada tetapi dalam tauhid uluhiyyah (ibadah) malah menyembah selain Allah. Apapun alasannya, keimanan bisa batal apabila melanggar tauhid uluhiyyah termasuk perbuatan syirik.

Lawan Kata dari Tauhid Adalah Syirik

Seseorang bisa meresapi ilmu  tauhid apabila mengenai syirik telah paham dan selaras. Syirik terbagi lagi menjadi dua, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar adalah menyamakan dzat selain Allah dalam kekhususannya (rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat) .

Hadist Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa apakah yang paling besar, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أن تجعل لله ندا وهو خلقك

“Engkau mengambil sekutu bagi Allah padahal Dia menciptakanmu” (HR. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).

Syirik besar ini konsekuensinya adalah mengeluarkan pelakunya dari Islam. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Dosa syirik tidak mendapat ampunan karena berkaitan dengan tauhid, yang mana hal tersebut adalah pondasi agama Islam, pondasi seseorang dalam beragama. Contoh syirik besar adalah perbuatan atau perkataan tentang ada Tuhan atau sesembahan selain Allah SWT. Kedua, menyembah atau memuja dzat, Tuhan atau makhluk  selain Allah SWT. Ketiga, menganggap Tuhan memiliki anak atau melakukan segala perbuatan yang  mengingkari keesaan Allah Swt. Contoh syirik kecil yaitu melakukan pengakuan bahwa ada yang lebih berkuasa daripada Allah Swt, melakukan suatu pekerjaan untuk dipuji oleh orang lain, atau untuk dilhat manusia lain demi rasa ujub.

Syirik dapat dilakukan dalam berbagai hal ibadah seperti berdoa, istighatsah, nadzar, shalat, puasa, atau mempersembahkan hewan sembelihan kepada berhala-berhala maupun selainnya. Orang yang melakukan syirik disebut musyrik.

Tauhid : Pondasi Kuat dalam Islam

Jika ingin membentengi diri dari perbuatan syirik, hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan iman dan takwa, sehingga semakin yakin akan keesaan Allah,
  2. Menjauhi diri dari kegiatan yang syubhat dan berpotensi menjerumuskan kepada hal syirik,
  3. Membenarkan dan meyakini dengan kuat terhadap segala berita dan informasi yang berasal dari Allah dan Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam
  4. Menjauhi dari perbuatan bid’ah yang dapat menjurus ke syirik
  5. Tunduk dan taat terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Perbuatan syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah, meyakini bahwa ada dzat lain yang lebih berkuasa dan mampu memutuskan suatu takdir. Allah tidak mengampuni perbuatan syirik yang termasuk dosa besar. Umat Islam harus memahai secara konkret dan jelas pedoman tauhid yang ada dalam tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat. Kita harus memperkokoh pondasi tauhid yang ada di hati kita, demi kemajuan Islam yang hakiki.

5 thoughts on “Kekokohan Tauhid Sebagai Tameng Dari Kesyirikan”

Leave a Comment