Tentang Pentingnya Sebuah Cita-Cita dalam Kehidupan
“Tidak ada manusia yang bodoh, yang ada hanyalah manusia yang malas. Tidak ada manusia yang gagal sebelum dia berani mencobanya”. Itulah kata-kata yang sering terdengar di telinga ku sejak kecil dulu. Tepanya aku sedang menginjak usia kelas 5 SD.
Mungkin kata-kata itu bukanlah sesuatu yang asing bagi kita kaum terpelajar, di setiap saat guru menjelaskan di dalam kelas mereka selalu berpesan agar para muridnya untuk bercita-cita setinggi-tingginya. Mereka yakin bahwa suatu saat di antara murid-muridnya akan banyak menjadi orang yang sukses di masa depan.
Tak heran jika Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya” .(QS. Ar-Ra’d:11)
Refleksi 20 Tahun Usia ku Saat Ini
Tepatnya tanggal 11 Oktober 2020 kemarin, genaplah usia memasuki usia yang ke 20 tahunnya. Aku sendiri sangat bersyukur kepada Allah atas kenikmatan umur panjang serta kesehatan yang telah dilimpahkan kepad ku. Usia 20 bukanlah usia yang muda lagi, sehingga aku harus betul-betul berusaha dan bekerja keras untuk masa depan ku.
Sekarang aku sedang menempuh pendidikan di dunia perkuliahan, terlihat sangat membanggakan karena dari sekian banyak teman-teman SMAku hanya aku dan dua orang temanku yang melanjutnya pendidikan di jenjang perkuliahan. Tetapi, di samping kebanggaan itu ada sebuah amanah besar yang harus aku jaga dan rawat, yaitu kepercayaan kedua orang tua serta keluarga.
Melihat realitas saat ini, betapa banyaknya kaum muda yang mulai terpengaruh dengan budaya dan teknologi yang semakin canggih. Terutama mereka kaum orang kaya, di sini aku bukan berarti menganggap bahwa orang kaya semuanya itu jelek atau terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh di atas. Tetapi, resiko yang lebih besar bahwa pengaruh teknologi akan dihadapkan kepada mereka.
Pada zaman saat ini, pengaruh tersebut tidak mengenal keturunan, baik dia kaya maupun miskin, pintar atau bodoh, hitam atau putih, semuanya mendapat pengaruh yang sama. Dari sinilah aku mulai belajar betapa besarnya bahaya yang siap menghadang kita dalam menggapai cita-cita. Sehingga perlu kehati-hatian dalam diri setiap individu.
Cita-Cita Adalah Motivasi Kita Dalam Menuju Masa Depan
Banyak orang yang mengira, bahwa cita-cita hanyalah sebatas wacana yang ada di atas bibir manusia saja. Tak heran jika ada orang yang tidak mau memliki cita-cita dalam hidupnya. Berangkat dari pengalaman pribadiku ketika aku menginjak pendidikan jenjang SMA.
Ketika pembelajaran di kelas, seorang guruku selalu memulainya dengan memberikan ceramah atau kata-kata motivasi untuk kami semua. Tak jarang juga beliau menanyakan tentang cita-cita kami semua, dari absen pertama sampai absen terakhir.
Pertanyaan dimulai, awalnya memang banyak yang menjawab sesuai dengan cita-citanya masing-masing. Tetapi suasana kela tiba-tiba terasa hening ketika sampai pada urutan absen terakhir, ketika guru ku menanyakan tentang cita-citanya di masa depan.
Guruku melemparkan pertanyaan yang sama dari sebelumnya, namun entah kenapa anak tersebut dan tidak mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Sang guruku bertanya, kenapa tidak menjawab seperti siswa siswi yang lain nak? Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dia mulai berbicara bahwa dia tidak mempunyai cita-cita dan suasana kelas pun gemirang dan semuanya tertawa.
Mungkin cerita di atas kelihatan lucu dan menyenangkan, bagaimana ketika seseorang yang hidup tanpa memiliki sebuah cita-cita dalam hidupnya. Aku sendiri sejak kecil bercita-cita menjadi seorang presiden, walaupun aku sendiri belum pasti menggapainya. Tetapi yakinlah wahai kawan bahwa apa yang telah kamu niatkan akan dimudahkan oleh Allah Swt.
Sebagaimana dalam sebuah hadits mengatakan bahwa “ Segala sesuatu tergantung pada niat”. Dari sini kita bisa mengambil sebuah hikmah tentang bagaimana pentingnya mengawali sesuatu dengan niat. Termasuk dalam menjalani proses menggapai cita-cita demi masa depan nantinya.
Di umurku yang bertambah tua ini, aku sendiri berharap semoga Allah selalu memudahkan segala urusanku dalam menuntut ilmu. Sehingga apa yang aku cita-cita dan kedua orang tuaku serta keluargaku inginkan akan tercapai.
Raihlah Cita-Cita Mu dengan Ikhtiar dan Doa
Terkadang tak bisa kita pungkiri bahwa manusia seringkali merasa malas dalam hidupnya, seolah-olah bahwa Allahlah yang mengatur jalan hidupnya. Allah yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam menganggapai impiannya, dengan kata lain manusia hanya bisa menerima takdir yang ada. Sehingga hidup kaya atau miskin itu adalah takdir yang harus diterima pula.
Padahal Allah Subhanahu Wata’ala berfirman “Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak mengubah nasibnya sendiri” (QS. Ar-Rad: 11). Ayat ini saya rasa cukup untuk menjadi sebuah pukulan atau pandangan bagi mereka golongan orang-orang yang menerima takdir seadannya. Ketika nasib mereka harus mereka tentukan sendiri dengan tidak terlepas dari memohon kepada-Nya.
Maka tidak terlepas dari bagaimana caranya mengggapai sebuah cita-cita, manusia harus betul-betul bekerja keras dan selalu berdoa agar segala proses yang dia lewati dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah dalam segala prosesnya. Aaminn
Mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Surakarta
