Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi
Hari-hari ini penuh kekhawatiran
Di mana doa terbaik sudah dipanjatkan
Bekerja, belajar, dan beribadah sudah dirumahkan
Menunggu nasib baik penuh harapan
Begitulah kutipan puisi yang ditulis oleh Pak Jusuf Kalla mengenai kondisi saat ini. Baris terakhir puisi tersebut rasanya sangat sesuai dengan yang kita inginkan saat ini. Berharap pandemi segera berakhir dengan menaruh secercah harapan pada vaksin yang masih dalam proses uji coba. Pertanyaan yang selalu terlintas di kepala saat malam mulai larut ialah kapan semua bisa kembali seperti sedia kala?
****
Tidak terasa, dua bulan lagi kita bersiap menapaki lembaran baru di tahun 2021. Iya benar, kurang dari 70 hari lagi kita harus bersiap menghadapi hari baru dan menyusun harapan baru. Dari 290 hari yang telah terlalui rasanya seperti naik roller coaster. Awal tahun ini seluruh umat manusia di dunia menyambut suka cita tahun 2020. Banyak orang berkata angkanya bagus, merupakan tahun kabisat pula. Namun siapa sangka, tahun ini justru menjadi tahun yang sangat berat untuk dilalui. Tak ada hujan tak ada angin, dunia tiba tiba dunia digemparkan dengan adanya virus Covid-19. Berselang 3 bulan, virus ini sudah merambah ke Indonesia dan menjangkit ratusan ribu masyarakat Indonesia. Semua planning yang sudah direncanakan terpaksa ditunda bahkan gagal.
Mewabahnya virus Covid-19 ini merupakan sebuah krisis global yang bukan hanya mengancam kesehatan masyarakat secara fisik, namun juga secara mental, terlebih jika seseorang sebelumnya sudah memiliki riwayat gangguan kesehatan mental.
Tentunya semua orang merasa khawatir tertular Covid-19. Virus ini membuat banyak orang merasa bingung, cemas, stres, dan frustasi. Di sisi lain semua orang juga risau masalah finansial, pekerjaan, masa depan, dan kondisi setelah pandemi. Namun saat ini masyarakat kita masih sangat tabu dengan kesehatan mental. Orang punya gangguan kesehatan, sering dibilang ketempelan jin, kurang ibadah, bahkan sampai dijadikan gosip. Padahal, masalah kesehatan mental itu jauh lebih kompleks daripada anggapan tersebut.
****
Ada kejadian yang membuat saya geram pada bulan April lalu. Peristiwa ini bermula saat tetangga saya yang bekerja di Jakarta terkena PHK. Karena dapur harus tetap mengepul ia beserta anak istrinya memutuskan balik kampung ke kediaman orang tuanya. Baru 30 menit sampai di rumah orang tua tiba-tiba Pak Rt datang kerumahnya lalu mengusir mereka, menganggap mereka sebagai pembawa virus.
Dengan berat hati akhirnya mereka terpaksa tinggal sementara di rumah saudara mereka. Mungkin kita pernah menjumpai orang seperti Pak Rt ini. Batuk sedikit dianggap terjangkit corona, sekadar bersin dikira corona,pokoknya sakit sedikit langsung mencap seseorang positif corona. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kabar simpang siur yang diterima dalam kurun waktu yang terbilang singkat ditambah lagi berita hoax yang bertebaran di Whats App Group keluarga yang sering kali ditelan mentah-mentah tanpa menilik kebenaran sebenarnya dapat menimbulkan kecemasan yang berlebihan.
Dalam psikologi hal ini sering disebut sebagai serangan kepanikan (panic attack). Untuk itu dalam masa pandemi saat ini, kita harus pintar-pintar menyaring informasi agar tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan pada diri kita.
****
Himbauan untuk #dirumahaja dan physical distancing turut menjadi penyebab stress yang utama. Awalnya mungkin terdengar mudah bahkan hadiah bagi sebagian orang yang sudah rindu berleha-leha di rumah. Namun setelah beberapa bulan menjalani himbauan tersebut tentu perasaan jenuh mulai timbul, ditambah lagi dengan adanya tekanan bahwa virus corona tak kunjung mereda seolah olah dunia sudah hampir berakhir.
Tekanan ini bisa memicu kita menjadi stress. Hal ini sesuai dengan teori Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon atau mahluk yang butuh hubungan sosial, kita tidak bisa dikurung berlama-lama, karena ini akan berujung pada kesehatan mental yang terganggu. Kita ini makhluk sosial, jadi wajar jika merasa demikian. Untuk itu kita bisa memanfaatkan teknologi untuk tetap berkomunikasi melalui chat, telepon, video call,dan lainnya untuk tetap bisa terhubung dengan orang-orang yang menjadi support system kita. Inilah saatnya membuktikan kalau “teknologi mampu mendekatkan yang jauh”.
****
Mungkin banyak dari kita yang saat pandemi ini kegiatan sehari-hari hanya scrolling instagram,twitter,atau sosmed yang lainnya sambil rebahan. Perlu kita ketahui bahwa konsumsi sosmed yang berlebihan tidak dianjurkan karena terlalu banyak informasi yang membuat kita menjadi over thinking. Bahkan bisa menjadi toxic untuk diri kita sendiri. Untuk dapat membatasi diri dari sosmed kita bisa melakukan Olahraga. Ini salah satu game changer yang bisa dilakukan pada situasi ini. Saya rasa karena kita di rumah aja, kita cenderung untuk tidak melakukan apa-apa. Rutinitasnya hampir seperti makan-tidur-makan repeat. Dengan menggerakkan tubuh kita, otomatis badan kita akan merasa lebih segar. Beberapa studi juga menyebutkan kalo olahraga bisa membantu melepaskan hormon endorphin yang dapat meredakan stres dan dapat memperbaiki mood.
Untuk itu kita harus lebih bijak memilah informasi, menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat, serta membiasakan berpikir positif agar kesehatan mental kita tetap terjaga. Terakhir, jangan lupa untuk selalu berdoa, memohon agar wabah ini segera usai dan kehidupan bisa berjalan normal kembali.
Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja, padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan dengan kesehatan fisik. Mulai saat ini kita harus serius menjaga kesehatan mental kita karena jika kesehatan mental sampai terganggu akan berdampak besar bagi kehidupan kita nantinya.
****
Saat ini, pemerintah Indonesia telah meluncurkan layanan psikologi nasional guna membantu masyarakat dalam menghadapi gangguan kesehatan mental ditengah pandemi Covid-19 yang diberi nama ‘Sejiwa’. Layanan ‘Sejiwa’ ini merupakan bentuk nyata dari pemerintah untuk menjaga kesehatan mental masyarakat melalui layanan konseling dan edukasi. Dengan layanan ini, diharapkan masyarakat dapat selalu memperhatikan dan saling menjaga kesehatan mental tidak hanya saat terjadi pandemi seperti sekarang ini namun juga di kehidupan yang akan datang.
Mahasiswa Pendidikan Kimia di Universitas Sebelas Maret
