Belajar Dari Depresi (2): Sebuah Review Buku “Loving The Wounded Soul”
Depresi lebih sering kita kenal sebagai gangguan mental yang muncul ketika seseorang sudah tidak lagi kuat berbagai tantangan hidup. Depresi jarang dilihat keterkaitannya dengan faktor biologis seperti pengaruh gen, perubahan struktur otak, peran zat kimia di otak, serta peranan mikroba dalam tubuh.
Buku ini berupaya menjelaskan depresi dari sisi yang jarang dilihat keterkaitannya tersebut. Dari sisi genetik, secara umum depresi merupakan penyakit yang dapat diturunkan. Sebuah penelitian dengan subjek orang kembar di Swedia menemukan sebesar 38% depresi dapat diturunkan. Apabila salah satu dari anak kembar mengalami depresi, maka kembarannya sangat mungkin untuk sama-sama megalami depresi.
Faktor Biologis
Dari struktur otak kita dapat melihat, depresi dikaitkan dengan penyusutan volume hipokampus dan amygdala. Hipokampus dan amygdala adalah bagian otak yang terdapat dalam sistem limbik. Sistem ini berperan dalam mengatur fungsi emosi, memori, dan rangsangan pada manusia.
Seseorang yang mengalami depresi mayor, mengalami penurunan hipokampus sebesar 8-19%. Hipokampus merupakan bagian otak yang berperan dalam pembentukan memori dan emosi. Ketika volume hipokampus ini menurun, pembentukan memori masa kini menjadi sulit sehingga orang yang mengalami depresi menjadi sangat mudah terganggu dengan memori masa lalu yang sangat emosional.
Sementara itu, amygdala berperan dalam respon fisiologis dan perilaku terhadap rasa sakit dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Salah satunya adalah menerima sinyal bahaya. Meskipun volumenya menyusut, namun aktivitas amygdala pada orang depresi justru meningkat, bahkan ketika sedang beristirahat. Ini berarti, orang yang mengalami depresi selalu teringat hal-hal yang tidak menyenangkan, berbahaya, dan peristiwa yang emosional.
Faktor kurangnya zat kimia dalam otak turut berpengaruh terhadap terjadinya depresi pada diri seseorang. Salah zat kimia dalam otak adalah serotonin atau hormon bahagia. Orang yang mengalami depresi diyakini memiliki kadar serotonin yang lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mengalami depresi.
Serotonin/ hormon bahagia juga terkait mikroba yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang kita konsumsi. Bakteri baik/ probiotik memasok 95% serotonin ke dalam tubuh. Sehingga apabila kita ingin bahagia, maka bakteri baik yang masuk ke dalam tubuh juga harus mencukupi. Dengan demikian, kualitas makanan yang kita konsumsi akan menentukan potensi depresi maupun kebahagiaan. Jadi, makanan yang baik akan mengantarkan kita pada kesehatan mental yang baik.
3 Higher Meaning
Membaca buku ini seperti berada dalam perjalanan panjang menemukan makna hidup. Tulisan-tulisannya membuat pembaca melihat depresi dari sisi positif. Ada makna dan pembelajaran di balik depresi itu sendiri yang selama ini jarang dilihat orang.
Di awal-awal bab, kita mendapat suguhan paparan ilmiah terkait ini. Lambat laun, kita akan dibawa pada pembahasan mengenai sisi yang lebih transenden. Ada makna yang sangat dalam di balik hadirnya depresi pada diri seseorang.
Regis Machdy, penulis buku ini mengalami 3 higher meaning yaitu iman, spiritualitas, dan cinta kasih.
Iman
Apakah orang yang tidak dekat dengan Tuhan lebih rentan mengalami depresi? Ada 2 orientasi orang dalam beragama yaitu orientasi intrinsik dan orientasi ekstrinsik. Orang yang beragama dengan orientasi ekstrinsik cenderung menerima agama secara dogmatis dan ritualistik.
Sementara orang yang beragama dengan orientasi intrinsik akan memikirkan agama dengan sangat mendalam dan menyatu dengan konsep diri mereka. Orang yang beragama dengan orientasi instrinsik sudah sampai pada tahap di mana mereka menjadikan kehidupan sebagai bagian dari ibadah.
Regis mengalami perubahan orientasi beragama dari orientasi ekstrinsik menuju orientasi intrinsik. Depresi menjadi titik balik yang mengubah orientasi beragamanya. Depresi berat yang dialami mendorong munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mendalam, seperti “Mengapa Tuhan memberikan cobaan ini kepada saya ?.”
Kegelisahannya dalam orientasi beragama mendorong Regis untuk mempelajari semua agama. Proses belajar tersebut mengubah paradigmanya. Baginya, Tuhan adalah keagungan yang perlu ia cintai. Tuhan ada di setiap sel tubuhnya, sel atom, dan di ruang hampa yang menyusun semesta. Pada akhirnya, beriman kepada Tuhan adalah karena rasa cinta. Keinginan selalu berada di jalanNya adalah karena jalan tersebut penuh dengan keindahan dan ketenteraman.
Spiritualitas
Spiritualitas merupakan keterhubungan manusia dengan diri sendiri yang terkait dengan tujuan dan makna hidup, keterhubungan dengan manusia lain, lingkungan, dan perasaan transendental.
Depresi membuat Regis semakin terhubung dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan mengalami perasaan transendental. Ia pada akhirnya juga belajar bahwa depresi bisa jadi bukan penyakit atau gangguan. Tetapi adalah sebuah gejala tercerabutnya diri manusia dari kesejatiannya.
Cinta Kasih
Cinta kasih merupakan perjalanan untuk berbahagia seutuhnya dengan menerima segala kelebihan dan kekurangan diri sendiri, memaafkan diri sendiri, serta memaafkan semua orang yang pernah menyakiti. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan diri sendiri. Depresi mengajarkan Regis, bahwa sudah semestinya bersikap baik dengan orang lain, memahami orang lain, dan saling membantu dengan orang lain.
Ketika roda kehidupan berputar ke atas, pada orang yang pernah berada dalam titik terendah dalam hidup, akan menjelma menjadi pribadi baru yang penuh dengan cinta kasih. Mereka tidak ingin melihat penderitaan yang sama dirasakan oleh orang lain.
Ada kecenderungan orang-orang yang mengalaminya juga aktif menolong dan menjadi pendengar yang baik untuk rekan-rekannya yang mengalami masalah. Depresi mengajarkan banyak orang tentang kesedihan, kesepian, putus asa, sengsara, keinginan untuk mati, sehingga menjadi lebih peduli, lebih peka atas kondisi orang lain.
Pada akhirnya, depresi bukan semata-mata penyakit mental. Tapi dipandang sebagai peristiwa yang bersifat transenden dan penuh dengan makna. Depresi hadir pada diri seseorang sebagai pembawa pesan kehidupan dan sebagai jalan untuk menemukan cinta Tuhan.
Mahasiswa Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Peminatan Kelompok dan Relasi Sosial. Kader IMM DIY.
