f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hilang

Tentang Mereka yang Bekerja dalam Senyap, Mati pun Tak Diakui

Segerombolan teroris Lashkar-e-Taiba memasuki Taj Mahal Palace Hotel, di sana mereka sempat membuat tiga kali ledakan, suara desingan peluru pun terdengar tanpa jeda. Suasana seketika mencekam. Mereka pun membunuh pengunjung hotel dengan senapan mesin berjenis AK-47. Butuh waktu sekira 60 jam untuk melumpuhkan segerombolan teroris dari negeri barat laut India itu.

Tragedi berdarah yang sempat menghebohkan dunia ini terjadi di Mumbai, India, pada Rabu 26 November 2008. Mereka tidak hanya menyerang satu tempat saja; Trident-Oberoi Hotel, Jewish Chabad House, Chowpatty Beach, The State Bank of India, hingga The Metro Cinema juga jadi sasaran mereka dalam melancarkan aksi kejahatannya. Seluruh tempat itu tentu merupakan lokasi strategis tempat orang berkerumun dan pusat perekonomian India.

Jauh sebelum itu tepatnya pada tahun 2006, intelijen India sebenarnya sudah menerima informasi bahwa Lashkar-e-Taiba telah melatih tim untuk menyerang Mumbai. Namun pemerintah India justru tak menggubrisnya. Pemerintah India sama sekali tak melakukan pengamanan di setiap sudut perbatasan, juga tak ada upaya untuk memperkuat pasukan patroli perairan perbatasan.

Selang dua tahun, India harus menerima serangan mematikan itu, ditambah lagi alutsista India yang terlampau kuno membuat keadaan semakin timpang. Namun beruntung, India masih tetap bisa membendung serangan dan membalikkan keadaan.

Tragedi bersejarah ini lalu diangkat ke layar lebar dengan judul film Hotel Mumbai.

Tidak jauh-jauh dari tragedi di atas. Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas–hanya pada permukaan saja–perihal apa itu intelijen dan bagaimana mereka bekerja dalam senyap.

Definisi yang Beragam

Memang sulit mendefinisikan intelijen, karena banyak sekali yang mendefinisikan arti kata tersebut. Selain itu, penggunaan kata intelijen kerap dijumpai bergandengan dengan kata lainnya seperti taktik intelijen, strategi intelijen, intelijen ilmiah, intelijen ekonomi, dan lain sebangsanya.

Baca Juga  Fungsi Distribusi APBN Menurut Abdul Qadim Zallum dalam Mengatasi Pandemi Covid-19

Istilah “intelijen” sendiri berasal dari kata “intelegensia” yang berarti “kecerdasan”. Ini bermakna bahwa pekerjaan intelijen memerlukan kecerdasan dan tentu saja strategi. Namun ada juga yang mengartikannya sebagai “informasi”. Definisi intelijen pun memiliki definisi lain yakni sebagai pengetahuan tentang informasi yang harus dipenuhi oleh pejabat pemerintahan–baik sipil maupun militer–yang bekerja untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional.

Untuk mengetahui lebih lanjut, mari kita flashback ke belakang sejenak untuk mengetahui definisi tentang intelijen dari kacamata sejarah.

Pada tahun 1955, Amerika membentuk komite penelitian kegiatan intelijen (komite pengaturan administrasi aparat pemerintah) yang dipimpin oleh Herbert Haufer (kemudian dikenal dengan nama Komite Haufer).

Komite Haufer lalu mengajukan definsi intel, bahwa intelijen adalah proses mendapatkan segala hal yang harus diketahui sebelum melakukan sebuah tindakan atau pekerjaan, dan itulah yang akan menyelesaikan semua masalah yang sebelumnya sudah diketahui, hal ini dilakukan dalam rangka mengatur rencana pekerjaan.

Para pakar pun mendefinisikan intelijen berbeda-beda. Namun ada satu yang menarik perhatian saya. Ladias Farago seorang jurnalis berpendapat bahwa intelijen berarti kemampuan memahami dan menilai informasi yang didapat oleh manusia dengan cara-cara wartawan. Definisi informasi di sini adalah informasi yang tak hanya pada satu otak orang, namun lebih dari itu yakni informasi yang berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

Tidak Jauh Berbeda dengan Kerja-kerja Jurnalis

Jika melihat kerja senyapnya dalam mengintai target untuk kemudian disajikan dalam sebuah data valid terhadap suatu objek pengamatan. Saya pikir, tak jauh berbeda dengan kerja-kerja jurnalis dalam melakukan sebuah liputan investigasi terhadap suatu tindakan kriminal atau korupsi, misalnya.

Bedanya terletak pada pengelolaan dan penyampaian data.

Baca Juga  Rumah Rahasia Bapak

Jika pada sebuah liputan investigasi, seorang wartawan akan mengelola dan menyajikan data yang diperoleh dari penelusuran langsung atas objek dengan penyamaran atau menelusuri dokumen-dokumen penunjang (dokumen cetak, foto, video, dan rekaman suara), lalu menyebarluaskannya kepada publik melalui media.

Jika pada kegiatan intelijen, seorang agen akan menghimpun data selama pengamatan–secara terperinci dan tepat–lalu mengelolanya, kemudian data-data tersebut dilaporkan kepada–katakanlah–kantor pusat untuk kemudian dilakukan uji validitas ulang. Jika valid dan terbukti melanggar hukum, maka seseorang atau kelompok tersebut akan diproses hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini dilakukan tentu saja dalam rangka–sekali lagi–menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Adapun tugas seorang intelijen di antaranya menggagalkan hingga meniadakan ancaman terhadap kedaulatan negara, keselamatan warga negara, hingga integrasi wilayah negara, kegiatan pengamanan tersebut dilakukan melalui pengamatan secara kontinyu dan bersifat sistematik terhadap berbagai potensi yang dapat ditimbulkan akibat objek yang dapat memicu ketegangan dan/atau kerusuhan dalam sebuah negara atau wilayah.

Lalu bagaimana seorang agen dalam melancarkan aksinya?

Kegiatan Klandestin

Kegiatan rahasia (klandestin) adalah kegiatan yang dilakukan oleh organisasi atau kelompok untuk memperoleh informasi secara rahasia dan tertutup. Karena kegiatan klandestin bersifat sangat rahasia layaknya dokumen negara, maka implikasi dari suatu kegiatan klandestin yang terbongkar bukan hanya kegagalan mencapai sasaran yang dikehendaki. Namun lebih dari itu, mereka yang melakukan kegiatan klandestin akan terancam tuntutan hukum, bahaya secara fisik, hingga risiko terbongkarnya anasir-anasir dari organisasi klandestin.

Sebelum melakukan aksi klandestin, seorang agen akan melakukan casing terlebih dahulu. Casing adalah pemeriksaan visual terhadap suatu instalasi atau suatu daerah untuk menentukan kecocokannya dengan tujuan operasi dan untuk mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan.

Baca Juga  Menganggap Suara Perempuan adalah Aurat itu Keterlaluan

Tujuannya adalah untuk mengetahui rute terbaik untuk mencapai suatu lokasi atau daerah yang dituju, bagaimana membawakan diri tanpa menarik perhatian (penyamaran), bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam, hingga menentukan rute terbaik untuk meninggalkan daerah tersebut.

Kegunaanya tak lain adalah untuk menentukan dan menetapkan tempat-tempat pertemuan, safe house, penerimaan perbekalan dari darat maupun laut, penyembunyian logistik, perlengkapan, hingga peralatan yang digunakan selama kegiatan klandestin berlangsung.

Dalam pelaksanaannya, seorang agen harus melakukan penyamaran atau kedok (yang dilakukan secara wajar, sesuai dengan kedok yang digunakan); pengukuran (dilakukan tanpa menarik perhatian dan pelaksanaannya dipersiapkan terlebih dahulu); pengamatan; pencatatan pengamatan (dilakukan di lokasi yang aman); dan pemeriksaan ulang (jika memungkinkan, pemeriksaan diulang kembali agar laporan casing benar-benar valid).

Kira-kira seperti itulah gambaran kerja seorang agen intelijen dalam menjalankan misi dan tugas negara. Ancaman besar tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi seorang agen. Karenanya kelihaian membaca keadaan, taktik, dan strategi yang matang diperlukan semata-mata untuk keberhasilan sebuah misi.

Pada titik ini, agaknya Sun Tzu memang benar bahwa senjata terbaik dalam peperangan adalah “pemahaman yang mendalam tentang musuh”. Jika abai terlebih lengah sedikit, maka nyawa taruhannya. Seperti pada semboyan yang terkenal itu:

“Berhasil tak dipuji

Gagal dicacimaki

Hilang tak dicari

Mati tak diakui.”

Referensi: Y. Wahyu Saronto. 2018. Intelijen: Teori Intelijen dan Pembangunan Jaringan. CV Andi Offset. Yogyakarta.

Bagikan
Post a Comment