f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketidakadilan

Ketidakadilan Gender dan Dampak pada Laki-laki

Umumnya, ketidakadilan gender diasosiasikan dengan perempuan yang termarjinalisasi dan dianggap sebagai kelas yang lebih rendah dibanding laki-laki. Namun, ternyata ketidakadilan gender bukan hanya berdampak buruk pada perempuan. Laki-laki juga merasakan dampak buruk dari ketidakadilan gender, meski banyak dari kita tak sadar. Bahkan, ketidakadilan gender menjadi salah satu penyebab laki-laki mati lebih cepat.

Lazim kita ketahui bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Kesenjangan harapan hidup makin melebar dalam tempo setengah abad terakhir. Kesenjangan yang makin lebar terjadi karena risiko melahirkan bagi perempuan makin menurun. Tentunya, faktor biologis juga berpengaruh dalam menentukan harapan hidup .

Secara alami, perempuan memiliki dua kromosom “X” dan hormon estrogen yang membuat lemak di tubuh perempuan lebih banyak berada di bawah kulit, sementara lemak di tubuh laki-laki berada di sekitar organ yang kelak bisa mengganggu kesehatan organ. Namun, ternyata ketidakadilan gender juga memberi pengaruh harapan hidup yang lebih panjang bagi perempuan.

Ketidakadilan Gender dan Harapan Hidup

Dalam Asia-Pacific Human Development Report Tahun 2016 yang berjudul Shaping The Future: How Changing Demographic Can Power Human Development disebutkan bahwa selain faktor biologis, faktor perbedaan perilaku mempengaruhi perbedaan angka harapan hidup.

Di mana laki-laki lebih rentan mengalami “kematian yang kejam”. Jika dijelaskan lebih lanjut, kematian jenis ini dapat datang dari pembunuhan, penganiayaan, kecelakaan, sampai risiko-risiko pekerjaan karena laki-laki identik dengan pekerjaan yang kasar dibanding perempuan.

Sejak kecil, kita selalu diajarkan bahwa laki-laki lebih kuat dari perempuan. Karenanya, masyarakat menganggap lazim jika laki-laki berkelahi, kebut-kebutan, dan melakukan kenakalan-kenakalan lain. Berdasarkan pandangan yang bias gender, laki-laki juga dituntut untuk lebih bekerja keras dibanding perempuan. Hal ini menempatkan laki-laki berada dalam risiko tinggi.

Baca Juga  Fokus Saling Dukung Soal Parenting, Jangan Lagi Bahas Kubu-kubu!

Seperti telah disebutkan di awal, kematian saat melahirkan berkontribusi besar terhadap meningkatnya harapan hidup perempuan. Sebaliknya, risiko “kematian yang kejam” tak banyak berubah dan lebih banyak mengancam laki-laki dibanding perempuan

Secara ringkas, angka harapan hidup di Indonesia ahun 1970 adalah 55,73 tahun untuk perempuan dan 53,39 tahun untuk laki-laki. Sementara itu, angka harapan hidup di Indonesia tahun 2015 adalah 71,17 tahun untuk perempuan dan 67 tahun untuk laki-laki. Dari angka tersebut terlihat bahwa peningkatan angka harapan hidup perempuan meningkat lebih pesat dibanding laki-laki.

Tekanan untuk Laki-laki

Ketidakadilan gender memberikan tekanan yang lebih tinggi bagi laki-laki dalam kehidupan. Meskipun secara ekonomi dan status sosial laki-laki lebih ber-privilege, namun dalam hal kualitas hidup laki-laki justru mengalami keadaan yang lebih buruk.

Realitanya, banyak laki-laki yang menanggung beban keluarga lebih banyak dibanding perempuan. Jika laki-laki berhasil akan menjadi sebuah kebanggan dalam keluarga. Namun sebaliknya, jika laki-laki gagal maka seluruh keluarga menanggung akibatnya dan tekanan luar biasa besar hanya ditanggung oleh laki-laki. Hal ini tentu membuat laki-laki makin tertekan.

Tapi banyak dari kita yang belum sadar. Buktinya, hingga saat ini baik laki-laki maupun perempuan masih ada yang berpandangan suami bekerja dan istri cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dengan berbagai alasan, banyak orang melarang perempuan untuk bekerja dan menjadikan laki-laki menanggung beban keluarga. Padahal, risiko dan tekanan yang muncul dari prinsip semacam ini membawa banyak keburukan bagi kaum adam.

Laki-laki dan Perempuan di Ruang Publik

Peran di ruang publik pun seperti itu. Laki-laki dianggap lebih pantas mengemban jabatan yang lebih tinggi. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan bisa mengemban peran dan kepemimpinan dengan sama baiknya. Bahkan beberapa perempuan seperti Jacinda Ardern (Perdana Menteri Selandia Baru), Angela Merkel (Kanselir Jerman), dan Sanna Marin (Perdana Menteri Finlandia) dianggap memiliki kepemimpinan yang lebih baik dibanding laki-laki.

Baca Juga  Ceruk Keahlian Akademik di Tengah Tangguhan Ekonomi

Lebih parah lagi, masyarakat menyudutkan laki-laki dengan ungkapan “perempuan itu memutuskan dengan perasaan, laki-laki dengan otak”. Selain salah kaprah, secara tidak langsung ungkapan ini mengarahkan pada anggapan bahwa perempuan wajar menyalurkan emosinya dan laki-laki tidak boleh menyalurkan emosi. Tentu emosi yang dimaksud adalah emosi dalam arti luas dan mencakup perasaan secara umum.

Perempuan wajar menangis, laki-laki tidak. Perempuan wajar jika banyak bercerita, sementara laki-laki harus lebih banyak memendam perasaan. Perempuan wajar jika bersimpati, sementara laki-laki mestinya lebih cuek. Anggapan-anggapan semacam ini membuat laki-laki yang lebih banyak menerima tekanan menjadi makin kesulitan dalam menanggung beban hidupnya.

Sebagai bukti, secara global laki-laki lebih mungkin bunuh diri. Angka bunuh diri laki-laki pun lebih tinggi dari perempuan. Menurut Our World in Data , di tahun 2017 saja terdapat 13,89 kasus bunuh diri oleh laki-laki per 100.000 penduduk di seluruh dunia, sedangkan angka bunuh diri perempuan hanya berada di angka 6,28. Tidak sampai setengah dari laki-laki. Seperti kita ketahui, bunuh diri umumnya disebabkan oleh depresi dan beragam tekanan dalam kehidupan.

***

Data dan realita yang diberikan dalam tulisan ini menunjukkan secara jelas bahwa bias gender juga memberikan tekanan pada laki-laki. Bisa dibilang, sebagian beranggapan karena bias gender ini laki-laki mati lebih cepat. Ditimbulkan oleh tekanan secara mental maupun risiko-risiko fisik yang menerpa dalam pekerjaan dan kehidupan secara umum.

Sudah saatnya kita, baik laki-laki maupun perempuan menyadari bahwa keadilan gender adalah kebutuhan bagi setiap orang tanpa memandang jenis kelamin. Jika tercapai, keadilan gender juga menjadi kebaikan bagi laki-laki, bukan hanya bagi perempuan.

Bagikan
Post a Comment