f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hilang

Kala Balita Mengingatkan Sang Ayah untuk Berhenti Merokok

Saat kita mendapati seorang balita yang mengetahui ayahnya lagi asyik merokok, kemungkinan besar ia akan merasa bodo amat dengan apa yang sedang ia lihat di hadapannya. Di pikirannya boleh jadi benda kecil berbentuk silinder dengan panjang ±8 cm yang dihisap sang ayah adalah benda yang biasa saja dan tidak menarik baginya.

Namun tidak dengan keponakan saya yang berumur 4 tahun ini, panggil saja Zara. Bocah dengan wajah lucu nan mengemaskan, rambut seleher, pipi layaknya bakpao 2 ribuan, disertai tingkah laku dan pola pikir yang kian progresif ini kerap kali mengingatkan sang ayah agar berhenti merokok. Alasannya sangat out of the box sekali; darah tinggi.

 “Ayah kok rokok’an lagiii?,” ujarnya dengan nada tinggi, serta mimik muka yang cukup serius.

“Memangnya kenapa?”

“Mengko ayah darah tinggi pripuuun?” ujarnya dengan diksi yang cukup diplomatis.

“Yaa tinggal minum obat,” Zara di-skakmat langsung oleh ayahnya. Ia pun terdiam dan mungkin membatin, “Huh… si ayah, ewoh tenan lek dikandani.”

Setelah mendengar dan melihat langsung percakapan antara anak dan bapak itu, sontak membikin saya tertawa. Kritis sekali dia punya pemikiran.

Balita Pemberani

Dari sini, saya pikir ada tiga faktor yang membuatnya kritis dan berani menyampaikan kritik dan pendapat ala balita.

Pertama, tentu karena ia sudah masuk TK, dengan begitu peluang menambah wawasan dan pergaulan dengan kawan sebayanya semakin luas. Keingintahuannya pun semakin progresif seiring dengan tumbuh kembangnya.

Kedua, asupan gizi yang senantiasa diperhatikan oleh kedua orang tuanya membuatnya aktif, energik, dan penuh percaya diri. Dengan begitu, fungsi dan kerja otaknya lebih cemerlang dan sangat Muhammadiyah. Berkemajuan maksudnya.

Baca Juga  Menghadapi Pasangan Egois Ala Pak Irud

Ketiga. Zara memang sudah berprestasi sejak dari lahir. Bagaimana tidak, saat menginjak usia 2-3 tahun saja ia telah menyabet 3 penghargaan yang cukup mentereng tingkat kecamatan. Di antaranya, juara 1 best photo kategori cute action yang diselenggarakan oleh Manajemen Artis Cilik (MAC), penghargaan apresiasi kolase, dan juara harapan 1 Alat Pembelajaran Edukatif (APE) ibu dan anak tingkat kecamatan.

Anak ini memang pintar sedari lahir. Lha bagaimana tidak, sejak mbrojol saja tidak merepotkan orang tua, kok. Sebab, ia memang ingin keluar sendiri–tanpa dibantu bidan–dengan selamat.

Namun saya rasa ada satu faktor yang membuat si balita Zahra terus-menerus mengingatkan sang ayah untuk berhenti merokok. Faktor itu tentu saja bersinergi dengan sang ibu agar selalu menginterupsi sang ayah setiap kali Zara melihat ayahnya sedang asyik ngudud.

Cara Kreatif Membuat Ayah Berhenti Merokok

Melihat nihilnya perubahan terhadap sang ayah, Zara mencari alternatif lain untuk menyudahi kebiasaan ayahnya; menyembunyikan rokok dan korek di tempat yang tak mudah dijangkau mata. Dan saya pikir, itu adalah langkah yang sangat Sun Tzu. “Win-win solution”.

Tak dipungkiri, ide ini ternyata cukup ampuh untuk membikin ayahnya kelimpungan mencari rokoknya.

Ia pun seringkali bekerjasama dengan saya tatkala sedang asyik menulis.

“He mas! Diem bae yak!” Begitu ujarnya sembari menyembunyikan rokok tepat di belakang kursi tempat saya bekerja. Ia melancarkan aksinya sesaat sebelum sang ayah keluar dari kamar mandi.

Perihal efek samping yang dikatakannya (darah tinggi), usut punya usut, ia dapatkan dari pengalamannya sendiri. Kisah ini berawal dari pemberontakannya ketika saya mencoba untuk mencium jidat dan pipi tembemnya saat ia sedang asyik menonton kartun atau baru bangun tidur.

Baca Juga  Antara Mamak dan Kota Istimewa (1)

Mengetahui hal itu, si mbah segera menghentikan aksi saya, dan bilang, “Jangan ganggu dia ketika hatinya sedang tidak enak’an. Boleh jadi ia darah tinggi sejak dini, karena marah-marah terus.”

Dari penuturan si mbah-lah Zara terispirasi untuk menggunakan kata ‘darah tinggi’ sebagai senjata untuk memperingatkan ayahnya agar berhenti ngudud.

Anak yang Peduli Orang Tua

Tapi sayangnya sang ayah tak dapat menghentikan kebiasaannya sebagai warga yang juga turut serta memberikan sumbangsih kepada petani tembakau dan cengkeh, serta pendapatan negara dari kretek yang selalu ia bakar setiap harinya.

Kendati demikian, setidaknya Zara sudah membuktikan bahwa ia bisa menjadi anak yang peduli terhadap kesehatan orang tuanya untuk terus istiqomah dalam memperingatkan sang ayah untuk tidak lagi menjadi ‘ahlih isap’ atau setidaknya mengurangi porsi kretek setiap harinya. Karena ia mencintai sang Ayah dan tahu bahwa yang dilakukan ayahnya tidak baik.

Selain itu, semata-mata agar terhindar dari penyakit yang sewaktu-waktu dapat datang dan menghinggap pada tubuh sang ayah; darah tinggi. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa yang kadang terlalu sombong untuk mendengar sentilan anak. Padahal tidak dapat dipungkiri juga, bahwa kadang nasehat anak itu benar adanya. Namun, ego dan nafsu manusia memang selalu menjadi penghalang nalarnya, terkadang.

Bagikan
Post a Comment