Mengenal Perilaku Blamer dalam Diri Kita
Kita terlalu menikmati kegalauan yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri. Kita faham betul bagaimana dan oleh siapa kisah dan perjalanan yang begitu memilukan itu hadir, menurut kita. Hanya saja, kita selalu menempatkan diri sebagai korban guna mendapatkan perhatian dan rasa iba dari orang lain.
Dalam menjalankan peran, tanpa sadar, kita mengubah realita serta alur ceritanya seakan-akan kitalah mahluk yang paling terdzalimi di kehidupan ini. Kita juga sibuk mengalahkan dan memojokkan “Dalang Bayangan”, sehingga lupa bagaimana lagi caranya agar kita terus tersenyum. Jika begitu, bagaimana kabarnya bahagiamu?
Perilaku Blamer Sudah Menjadi Jati Diri Anak Bangsa
Sebagai mahluk sosial, kita sering mendapati berbagai kisah menarik seputar kehidupan, baik itu dari kehidupan nyata maupun maya. Dalam tulisan kali ini saya berusaha membahas perilaku blamer para remaja masa kini yang kerap muncul diberbagai media. Perilaku blamer bukan hal asing bagi kita. Karena sekarang sudah menjadi pribadi anak bangsa, terutama bagi mereka yang terkena penyakit Tuna Asmara dan Tuna Kasih Sayang.
Perilaku blamer ialah perilaku yang kerap menyalahkan orang lain dan menjadikan orang lain sebagai tokoh antagonis. Sebagai contoh, misalnya dalam sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan, terdapat masalah yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi karena sifat blamer sudah mendarah daging sebagai kepribadian, maka pelaku akan muncul di media sosial dengan perantara kata galau yang terkesan bahwa dia adalah korban, dan mahluk yang paling terdzalimi dalam hidupnya.
Pengidap Perilaku Blamer
Biasanya para pelaku blamer dengan mudah akan menunjukkan keadaan hubungannya di media sosial. Katanya, dia tidak diberi kabar, tidak di-chat duluan dan bahkan dia ditinggalkan dengan berbagai ribu macam alasan lainnya. Lalu semua masalahnya dia timpakan kepada partnernya sebagai dalangnya, dan mengatakan semua lelaki/perempuan itu sama saja.
Mereka hanya menginginkan manisnya saja, setelah manisnya habis ia akan cari pengganti. Misal anggapan bahwa lelaki suka selingkuh dan menghadirkan masalah terus menerus yang ujungnya si perempuan terluka dan kecewa. Atau sebaliknya. Demikianlah cara pandang si pengidap perilaku blamer ini terhadap masalah yang ia hadapi. Selalu menyalahkan sesuatu yang di luar dirinya sendiri.
Contoh lainnya ketika kesulitan dalam masalah keuangan, susahnya mencari pekerjaan, atau gaji disuatu perusahaan tempat ia bekerja sangatlah kecil. Ia akan mengatakan semua ini adalah kesalahan sistem pemerintahan atau instansi tempat dimana ia bekerja. Semuanya jadi salah dan dia adalah kebenaran yang tidak boleh digugat.
Parahnya, sekarang banyak anak bangsa yang tampil di media sosial dengan perilaku demikian, sehingga aktivitas dalam kesehariannya tertelan oleh kekecewaaan dan bahkan ada yang sampai putus asa dalam menjalani hidup. Hingga memandang kehidupan ini adalah derita yang tidak berujung untuk dijalani.
Demi Ketenaran Apapun Dilakukan
Lalu bagaimana dengan kisah bahagianya? Apakah para pengidap pribadi blamer ini pernah merasakan hal semacam itu dalam menjalani hidup? Saya rasa sangat sedikit para remaja yang menampakan cerita hidup bahagianya di media sosial. Kalau tidak luka dan kecewa minimal meraka akan menampilkan kisah lebay-alay.
Karena bagi mereka, kisah dan cerita bahagia merupakan kisah klise yang hanya terjadi dalam cerita fiktif atau film. Kisah tersebut akan bertolak belakang dengan harapannya untuk mendapatkan rasa prihatin dari orang lain. Ditambah dengan fenomena sekarang, di mana banyak orang di sekitar kita yang harus mengesampingkan akal sehat dan harga diri demi mendapatkan ketenaran.
Untuk itu, bagi mereka, di media sosial perlu tampil dengan serendah mungkin, sehina mungkin dan bahkan semenderita mungkin. Lalu dengan rasa malu yang sudah hilang, akhirnya mengangkat tangan meminta bantuan atau mengharapkan uluran tangan dari orang lain. Minimal mendapatkan like dan balasan story agar terkesan kalau orang lain sedang memperhatikan apa yang tengah mereka lakukan.
Miris, ketika perilaku demikian mampu mengubah sikap mereka menjadi orang yang suka mengalahkan tanpa bisa melihat kembali bagaimana keadaan diri mereka yang sebenarnya (responsible). Alhasil mereka seperti disindir oleh iklan rokok “lo yang salah, lo yang marah” kalaupun ditegur mereka yang galak.
Bermuhasabah, Solusi Agar Terhindar dari Perilaku Blamer
Untuk terlepas dari pribadi yang demikian, mereka perlu melihat kembali pada dirinya, bercermin menampilkan sikap dan perilakunya sendiri. Mereka perlu menjabarkan satu demi satu apa yang tengah mereka lakukan dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Mereka perlu memahami kesalahan yang ada pada dirinya sendiri.
Sebagaimana contoh di atas, apabila lelaki pergi atau mencari yang lain, mereka perlu mencerna ucapan dan perilakunya, kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga lelakinya pergi. Atau sebaliknya, Kalau perihal dengan masalah pekerjaan, mereka perlu melihat kembali kepada dirinya, mengapa dia susah mendapatkan pekerjan, atau kenapa dia mendapatkan gaji yang kecil.
Dengan demikian, sebelum menyalahkan orang lain dari sesuatu yang di luar dirinya, para pengidap perilaku pribadi blamer ini akan memulai melihat sesuatu dari dalam dirinya, dan memperbaiki segala masalah dari merubah dirinya sendiri. Mereka akan bersikap dan sebisa mungkin menjadi pribadi yang bertanggung jawab, minimalnya mereka bertanya pada dirinya.
“Apakah kesalahan yang sudah saya perbuat, adakah kekurangan yang saya tunjukkan, atau di mana letak kesalahan dan kekeliruan yang sengaja maupun tidak sengaja dilakukan. Saya harus bagaimana, tampil seperti apa, berkata apa, bahkan bekerja harus bagaimana”. Itulah yang harus kita lakukan agar terhindar dari perilaku blamer (editor : Jajang)
Ketua Bidang Kader IMM Tamaddun FAI, 2020-2021.
