f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menjadi

Parenting: Membesarkan Anak Menjadi Feminis

Maraknya tindakan pelecehan dan kekerasan pada perempuan khususnya pada anak baik secara fisik maupun verbal semakin membuat was-was orang tua. Parahnya, kita tak menyadari bahwa tindakan tersebut juga kerap kali dilakukan oleh orang terdekat sendiri termasuk salah seorang keluarga di dalamnya.

Kita tidak dapat memungkiri bahwa patriarki memang telah menjadi budaya yang tumbuh subur di negeri ini. Oleh karena itu saya tertarik dengan buku A Feminist Manifesto yang menawarkan tips kepada orang tua bagaimana membesarkan anak, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan agar menjadi seorang feminis.

Seorang perempuan yang memilih menjadi feminis bernama Chimamanda Ngozi Adichie menulis sebuah buku A Feminist Manifesto, berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadinya yang sejak kecil hingga menjadi seorang ibu harus mengalami diskriminasi dan tindakan rasis di lingkungannya. Melalui buku ini ia berharap di kemudian hari laki-laki dan perempuan akan jauh lebih bahagia tanpa beban stereotip juga sedikit merubah dunia yang patriarki ini.

Sebenarnya pengalaman penulis dari buku tersebut masih relevan sampai sekarang. Seperti stereotip yang membentuk perempuan untuk tidak memiliki ambisi yang terlalu tinggi, dianjurkan untuk tidak menunjukan kemarahan dan agresifnya juga laki-laki yang dituntut untuk tidak boleh lemah dan menangis. Orang tua tanpa sadar telah membesarkan mereka untuk menutupi diri mereka yang sebenarnya.

Mengerjakan Pekerjaan Domestik Bersama-sama

Meski orang tua tidak melakukan pekerjaan domestik dengan pembagian 50 : 50, tetapi orang tua telah menunjukan pada anak-anak bahwa mengasuh anak, mencuci, memasak, menyapu dan seterusnya kecuali menyusui, mutlak bukan sepenuhnya pekerjaan seorang perempuan. Penulis juga memberi saran untuk menghilangkan kata “bantuan” atas pekerjaan yang dilakukan oleh seorang ayah sebab anak dan rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama.

Baca Juga  Teknologi dan Ironi Sikap Pelaku Pendidikan Saat Pandemi

Selain itu, seorang perempuan untuk tidak mendefinisikan dirinya semata-mata hanya sebagai seorang ibu saja tetapi jadilah manusia yang sepenuhnya. Hal ini terjadi karena kerap kali seorang ibu beranggapan untuk bisa melakukan segalanya di luar kemampuannya, padahal mendiskusikan dan meminta sebuah pertolongan bukanlah perkara yang salah.

Mengajarkan Anak Tentang Silsilah ‘Peran Gender’

Orang tua tidak seharusnya mengatakan pada anak bahwa mereka harus atau tidak boleh melakukan sesuatu karena mereka perempuan atau laki-laki. Perbedaan gender yang sebenarnya adalah yang bersifat kodrat saja seperti perempuan yang memiliki vagina, payudara, dapat menstruasi, melahirkan dan menyusui.

Untuk alasan apapun orang tua sebaiknya tidak mengatakan, “Karena kamu perempuan maka kamu harus…” dan sebaliknya, “Karena kamu laki-laki maka kamu harus.. ” Tetapi kita masih sering menjumpai hal tersebut. Contohnya di tempat bermain atau di sekolah maka orang tua biasanya mengucapkan pada anak perempuanya untuk ‘jangan menyentuh ini-itu’ atau ‘diam dan bersikap baiklah’.

Sedang untuk anak laki-lakinya mereka memberi banyak ruang dan sedikit aturan. Dan tanpa sadar lagi lagi orang tua telah mengajarkan pada anak perempuan khususnya untuk menjadi.

Mengajarkan Anak untuk Membaca dan Mencintai Buku

Di tengah dunia digital orang tua dituntut lebih keras untuk mengajarkan anak mencintai buku sejak dini dan cara terbaik adalah dengan memberikan contoh. Ketika mereka melihat orang tua gemar membaca maka berjalannya waktu mereka akan menyadari bahwa membaca adalah sesuatu yang penting.

Dengan membaca akan membantu mereka memahami dan mempertanyakan dunia, membantu mengekpresikan diri, dan tentu akan membantu banyak hal di kemudian hari. Salah satunya yakni bisa memilah mana tulisan kabar yang dapat dipercaya ataupun tidak.

Baca Juga  Renungan Untuk Meminimalkan Tangisan Anak
Memilih Bahasa yang Akan Disampaikan

Lelucon seksis yang kerap kali orang lontarkan untuk orang lain khususnya untuk perempuan. Salah satunya diakibatkan oleh bahasa yang ia dengar sejak kecil. Mereka menganggap hal tersebut lumrah pun karena sebelumnya memang orang tua menganggap hal tersebut lumrah. Oleh karena itu sebaiknya pikirkan dan putuskanlah hal-hal yang akan orang tua katakan kepada anak-anak.

Contohnya adalah orang tua yang tidak mau memanggil anak perempuannya dengan sebutan ‘tuan puteri’. Mereka bermaksud baik dengan tidak mengatakan ini. Sebab ‘tuan puteri’ penuh dengan asumsi, kelezatan seorang gadis, pangeran yang akan datang menyelamatkannya, dan sebaigainya.

Memberikan Pendidikan Seks Sejak Usia Dini

Penyebab maraknya tindakan pelecehan dan kekerasan pada perempuan salah satunya adalah karena orang tua yang kerap menganggap pembahasan seks dengan anak adalah masalah tabu. Sementara dunia digital semakin kencang dan anak-anak dengan mudah bisa mengaksesnya kapanpun mereka mau.

Meski memberikan edukasi dengan awal yang canggung tapi anak akan mengerti. Seperti mengenalkan organ intim dan fungsinya, kemudian mereka akan mengalami puber dan kapan mereka boleh melakukan hubungan seksual yang sehat.

Mengenalkan Identitas Diri

Satu hal yang penting adalah mengenalkan identitas pada anak-anak sejak dini. Ajari anak untuk bangga dengan dirinya sendiri, menjadi cantik tidak melulu harus putih, tinggi dan langsing sebab standarisasi hanya berlaku untuk dirinya sendiri. Kemudian tentang riasan dan fashion, biarkan mereka memilih sesuai selera masing-masing tanpa ada paksaan dari luar yang mengikuti tren pasar.

Dengan demikian anak-anak bisa menerima bahwa perbedaan itu normal, mereka bisa tetap menghormati orang lain entah gendut maupun kurus, kulit putih maupun kulit hitam, entah hetero maupun homo dan seterusnya. Sehingga diskriminasi dan tindakan rasis semakin hari bisa bisa dikurangi.

Bagikan
Post a Comment