f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
karbala

Tragedi Karbala Perspektif Wasathiyah

نَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (At Taubah 36)

Di dalam tafsir Al Muyassar, Sesungguhnya jumlah bulan dalam satu tahun dalam ketetapan Allah adalah dua belas bulan. Allah menetapkannya di lauhul mahfuzh pada pertama kali diciptakannya langit dan bumi. Dan di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan haram, Allah mengharamkan peperangan pada waktu tersebut; yaitu tiga bulan berurutan, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; dan satu bulan lagi Rajab. Kabar agung yang disebutkan ini, berupa jumlah dua belas bulan dan pengharaman empat bulan di antaranya, adalah ketetapan agama yang lurus; maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dengan melakukan peperangan pada empat bulan haram itu dan menodai kehormatannya.

Dan perangilah orang-orang musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kalian semua. Dan ketahuilah bahwa Allah menyertai dengan pertolongan-Nya orang-orang yang bertakwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan barangsiapa yang Allah menyertainya niscaya tidak akan dikalahkan siapapun.

Mengenai Bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab

Di balik penciptaan 2 bulan tersebut, tentunya ada sebuah pelajaran yang harus diambil oleh manusia. Yakni mengenai bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam, dan Rajab. Di sini Allah memerintahkan kita untuk memuliakan bulan-bulan haram tersebut dengan cara memperbanyak beribadah dan beramal sholeh. Allah Juga mengharamkan hambanya untuk berperang pada bulan-bulan ini, akan tetapi kalau kita diserang maka kita wajib untuk mempertahankan diri.

Baca Juga  Islam Moderat sebagai Ideologi Keagamaan bagi Umat Islam Indonesia

Namun demikian, saya sebagai penulis ingin mengungkapkan sedikit terkait dengan kejadian masa lalu, tepatnya pada 10 Muharam tahun 61 Hijriah. Di mana pada saat itu, cucu nabi, Husein terbunuh di padang Karbala. Tentunya di sini menampilkan sudut pandang Wasathiyah umat pertengahan,

Di dalam tafsir al misbah dijelaskan bahwa umat Islam dijadikan sebagai ummatan wasathan (pertengahan) adalah moderat dan teladan. Sehingga dengan demikian keberadaan umat Islam dalam posisi pertengahan tersebut, sesuai dengan posisi Ka’bah yang juga berada di pertengahan. Posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia berlaku adil.

Posisi Pertengahan yang menjadi Menjadi Teladan bagi Semua Pihak

Hal ini terjadi karena semenjak masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib terjadi banyak fitnah di antara umat Islam sehinggah menyebabkan perpecahan terjadi di kalangan umat islam. Dan sebagian kitapun masih gagal paham dalam memahami sejarah tersebut.

Ketika Ali Bin Abi Thalib wafat di bunuh oleh seorang khawarij yang bernama Ibnu Muljam, beliau di bunuh saat berwudhu yang hendak melaksanakan sholat shubuh. Tiba-tiba ibnu Muljam datang dan mengayunkan pedangnya yang terhunus tepat mengenai kepalanya dan beberapa saat beliau wafat.

Pasca terbunuhnya Ali Bin Abi Thalib, Al Hasan menggantikan Ayahnya menjadi Khalifah, dia dibaiat oleh penduduk Khufah. Al Hasan tinggal di kufah selama 6 bulan dan kemudian datanglah Mu’awiyyah yang menemuinya. Al Hasan kemudian mengirimkan surat utusan dan menyerahkan semua ke-khalifahan kepada Mu’awiyyah agar umat Islam tidak mengalami sebuah perpecahan dan pertumpahan darah

Pada tahun 50 Hijriyyah tanggal 15 Rabiul Awwal, Al Hasan meninggal karena di rancun oleh istrinya yang bernama Ja’adah Binti Al-Asy’ats bin Qais atas pengaruh dari Yazid dengan iming iming akan menikahinya. Racun tersebut yang membuat semua isi perut Al Hasan keluar dan ia meninggal.

Baca Juga  Rona Bahagia dan Raut Khawatir di Balik Sebuah Pesta
Periode Mu’awiyyah Menjadi Khalifah pada Tahun 41 Hiriyyah yang disebut sebagai Aam Jama’ah (Tahun Kesatuan)

Sebab, pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menentukan suatu khalifah. Tatkala Mu’awiyyah Wafat, penduduk syam membaiat Yazid. Kemudian dia mengutus seseorang untuk ke Madinah agar orang yang ada disana membaiat dirinya. Namun Al Husein tidak mau.

Tatkalah Yazid di baiat, mereka kembali mengirimkan surat dan memintanya datang ke kufah dan menemui mereka. Di sisi lain ada 100 orang yang membaiat Al Husein di kufah. Akan tetapi Al Husein tetap berangkat untuk menemui penduduk kufah yang telah membaiatnya menjadi khalifah. Ibnu Abbas melarang Al Husein untuk berangkat ke kufah karena di kufah banyak orang yang munafik dan berniat jahat kepada Ahlul Bait.

Pada tanggal 10 Dzulhijjah, Al Husein berangkat menuju kufah disertai keluarganya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, serta anak-anaknya. Kemudian, Yazid bin Mu’awiyyah segera mengirimkan surat kepada Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuh Al Husein. Ubaidillah bin Ziyad mengirimkan pasukan sebanyak 4000 orang yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash.

Tepat pada 10 Muharam 61 Hijriyyah, pasukan Ubaidillah bin Ziyad bertemu dengan rombongan Al Husein di padang Karbala. Pada akhirnya Al Husein diseberbu oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dihujami anak panah dan tombak. Al Husain di bunuh dan di penggal kepalanya oleh Sinan bin Annas bin Amr Nakhai.

Ibrah dari Tragedi Karbala

Tentang pembunuhan tersebut, terdapat kisah yang memilukan di mana hati kita tidak mungkin sanggup menanggungnya. 26 orang lainya terbunuh dalam pembantaian karbala tersebut. Imam As Suyuthi dalam kitab Tarikh Al Khulafah menyebutkan bahwa tatkala Al Husain dibunuh di karbala, dunia seakan berhenti selama 7 hari, sedangkan matahari merapat kedinding laksana kain yang menguning. Bintang bintang saling bertabrakan. Terjadi gerhana matahari dini hari itu. Ufuk langit memerah selama enam bulan serta ufuk merah tersebut kelihatan terus menerus yang sebelumnya belum terjadi seperti itu.

Baca Juga  Berhasil Membuat Orang Tua Tersenyum, Tetapi Gagal Menjadi Diri Sendiri

Dari kisah di atas yang penulis paparkan, ada beberapa ibrah yang harus kita pahami bersama. Yang pertama, apa yang terjadi pada masa itu semata-mata hanya untuk merebut kursi jabatan khalifah sampai-sampai mengorbankan cucu Nabi. Ketika seseorang haus kekuasaan, maka ia akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan dahaganya. Yang kedua, marilah kita cintai Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW karena kita kelak di yaumil qiyamah akan mengharapkan syafaatnya.

Ada sebagian orang yang memang sengaja menutupi tragedi Karbala ini dengan alasan peristiwa ini terlalu menyayat hati, akan tetapi ini adalah sebuah sejarah yang obyek kajian nya adalah manusia yang melingkupi ruang dan waktu. Di dalam sejarah kita bisa mengambil hikmah dari kejadian di masa lalu yang jelek, supaya kita jadikan pelajaran agar tidak terulang pada masa depan.

Bagikan
Post a Comment