Tikungan Spiritual Menuju Tanjung Harapan
Rentang waktu 46 tahun durasi, 1975 hingga 2021 dan dari waktu yang tersisa, merupakan sikap dan karakter Sang Pencerah dalam menggenapi bilangan karsa dan karya mensyukuri anugerah hidup.
Dialektika antara guru dan murid penuh drama dan problematik, membuncahnya sifat mengasihi dan menyayangi kadang berwujud emosi jiwa, kemarahan, dan berujung murka. Itulah kekuatan energi cinta. Dalam banyak hal serpihan, anasir, dan butiran cinta penuh hijab yang kelak menghantarkan Sang Murid pada proses mensublimnya keindahan jiwa.
***
Percikan api cinta mewarnai dan berpendarnya sinaran energi itu, menerobos ruang dan palung kalbu. Usia 23 tahun Sang Murid berbanding naik dengan usia Sang Guru yang ketika itu berkepala tiga. Keduanya pada gejolak dan kecamuk kekuatan energi cinta yang terkadang bermakna dan berwujud dalam perbuatan bersulih jalan. Ya, jalan cinta keduanya proses penuh misteri dan kini bagi saya dan mungkin juga Anda menjadi pengetahuan dan hikmah.
Kota Cilegon, Banten ketika itu adalah takdir yang menautkan kedua insan oleh ruang, waktu, dan energi semesta. Keduanya menemui jalan takdir kehidupan yang mungkin saja keduanya tak meniatkan perjumpaan itu. Namun lagi-lagi energi cinta dalam banyak hal menyimpan banyak misteri, fenomena, dan keajaiban. Siapa menduga, awal mula perjumpaan itu menjadi titik awal merangkai menjadi garis edar dan orbit Sang Guru dan Sang Murid memahat kisah dinding takdir. Cinta.
Ego sektoral dan perbedaan sudut pandang guru dan murid telah mencipta sembilan episode dan alur kisah keduanya. Mempertentangkan benar versus cinta. Benar pada dimensi asumsi pikiran dibenturkan dengan energi mengasihi menyayangi. Terjadilah perbedaan, bersulih jalan, dan perenungan. Inilah embrio dan proses dialektika yang melahirkan pahaman dan capaian ‘Pemikiran Ruuhi’, suatu energi given tiupan Ilahiah.
Tiupan Ilahiah pada setiap insan yang terlahir di planet bumi untuk menapaki jalan takdir kehidupan adalah anugerah diatas anugerah. Sungguh ajaib! Anasir Ilahiah yang kekuatannya dapat mengeringkan bilangan debet air lautan dan samudera. Kelembutan energinya dan bukan kekuatannya. Yupz, kelembutan dan kehalusan energi-Nya diatas segala kekuatan energi semesta yang ada.
***
Kelindan dealektika pikiran guru dan murid adalah tabir rahasia yang terbuka helai demi helai. Pikiran, panca indra, dan aksioma adalah proses lahirnya pengetahuan. Namun siapakah owner dan pengendali pikiran insan? Tiupan Ilahiah, yang dengan-nya membuat insan mewujudkan esensi, eksistensi, dan substansi bilangan takdir pikirannya.
Tiupan Ilahiah adalah milik-Nya, Allah. Yang Maha Meniupkan. Ruang, waktu, materi, dan energi adalah khasanah semesta menggenapi, menaungi, dan meliputi sifat Maha Pengasih Penyayang.
Dan tiupan Ilahiah itu ada pada guru dan murid, karena setiap insan merangkap kedua peran itu. Murid sejati dan guru sejati. Siapapun. Kita.
Perjalanan dan pendakian guru dan murid telah mematangkan keduanya. Ranum. Bukan kearifan, bukan kebijaksanaan, dan bukan tingginya moralitas. Namun khasanah keagungan cinta meliputi arif, bijak, dan tingginya moral keduanya. Saya dan mungkin juga Anda tengah memahami dan menjalani capaian itu. Diperjalankan oleh ‘Tiupan Ilahiah’ dalam menggenapi bilangan takdir-Nya.
Pengadaan segala yang ada berwujud alam semesta, galaksi, tata surya, dan manusia oleh Sang Khalik, Allah. Maha Pengada. Boleh jadi karena tiupan Ilahiah. Visi dan misi untuk mengjejawantahkan percikan eksistensi api cinta. “Temui, gauli, dan akrablah dengan tiupan Ilahiah didalam setiap dirimu, pada palung akalmu, palung pikiranmu, palung kalbumu, palung jiwamu, dan luasnya semesta.” Dia bersamamu untuk dan atas nama cinta-Nya. Itulah kalam Sang Bijak.
Pada capaian kesadaran bersama tiupan Ilahiah, sejatinya kita sebagai insan bersublim pada lelaku hidup sadar diri, tahu diri, dan sadar diri. Untuk menetralisir pikiran sadar, pikiran dibawah sadar, dan pikiran tak sadar pada kejernihan dan kebeningan jiwa. Membebaskan segala polutan yang mengotorinya. Pilihan jalan ini paling tidak dapat menghantarkan untuk hidup senantiasa menerima, menjalani, dan mensyukuri anugerah hidup ini dalam kebahagiaan yang paripurna.
***
Kegaduhan dan kerumitan mengikuti keliaran pikiran, terkadang menghantarkan kita untuk bersulih jalan untuk menunda dalam mengeksekusi perbuatan yang bermanfaat atau berfaedah untuk diri sendiri dan orang lain.
Alih-alih berbuat, terkadang kita mencari alasan pembenaran, berdalih, dan debat kusir dengan diri sendiri yang muaranya rasa gelisah berkesinambungan. Pada situasi dan kondisi psikis seperti ini. Berhentilah sejenak dalam hening. Gaulilah tiupan Ilahiah yang selalu setia menemani mu dengan mesra.
Dan kembalilah berjalan pada jalan tuntunan dan bimbingannya. Sang Guru sejati penunjuk peta jalan hidup mu. Bersetialah dengan proses jalan yang sedang kita tapaki. Sekelumit mutiara hikmah dari Sang Pencerah. Itu.
Wiraswasta dan Penulis.
