f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pjj

PJJ Lebih Butuh Perhatian Mas Menteri Dibanding POP

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang sangat terdampak dari bencana non alam covid-19. Keadaan pendidikan saat ini sedang tidak baik, banyak kekacauan selama hampir dua semester. Ini bukan hal yang biasa terjadi, anak-anak lulus dan naik kelas tanpa ujian. Tidak hanya itu, tes masuk perguruan tinggi pun nyaris ditiadakan para calon mahasiswapun terombang ambing dalam keadaan tidak menentu.

Pihak penyelenggara tes masuk perguruan tinggi menarik ulur waktu dan teknik pelaksanaan tes. Yang awalnya tes dijadwalkan pada awal bulan Juli kini diundur ke bulan Agustus, awalnya diumumkan akan melasanakan tes secara tatap muka. Namun menjelang beberapa hari menuju hari H tiba-tiba berubah, tes dilaksanakan secara daring. Sehingga para calon mahasiswa merasa seolah-olah sedang diprank oleh pihak panitia ujian. Mereka yang berasal dari luar daerah, yang datang dari pulau, dan provinsi yang berbeda sudah mengeluarkan biaya yang banyak untuk datang ke lokasi ujian, membayar biaya penginapan dan juga biaya rapid tes untuk mendapatkan surat jalan.

Kerinduan saat Sekolah Ditutup dan Siswa Dirumahkan.

Sekolah lain yang ada di perkotaan melaksanakan pembelajaran jarak jauh ( pjj ), tapi banyak juga sekolah yang tidak melakukan pjj atau dengan sistem daring. Banyak kendala yang dihadapi oleh sekolah, siswa dan juga orang tua sehingga pembelajaran dengan sistem daring tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Pihak sekolahpun tidak ingin mengambil resiko untuk membuka sekolah dan mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar. Sehingga siswa-siswi hanya menganggur di rumah-rumah mereka tanpa aktivitas belajar.

Saya sendiri mengalami hal ini, ketika tahun ajaran baru dimulai pada awal Juli kemarin. Beberapa siswa datang ke rumah, menanyakan kapan sekolah akan kembali dibuka. “ibu guru,lama sekali kita libur, kapan kita akan sekolah”. Tanya Naya seorang anak  berusia 9 tahun. Saya merasa khawatir dengan keadaan anak-anak ini yang tidak menentu kapan pandemi akan berakhir.

Akhirnya saya meminta mereka datang ke rumah untuk sekedar belajar membaca, sesekali saya sisipkan dengan permainan edukasi agar imunitas tubuh mereka tetap terjaga. Betapa bahagianya mereka, walaupun yang datang hanya dua orang sampai lima orang setiap harinya.

Baca Juga  Pendidikan Kespro dalam Islam

Berbeda halnya dengan anak-anak di kota, orang tua mampu menfaislitasi baik secara materi maupun non-materi. Media pembelajaran dipenuhi, proses pembelajaran didampingi, fasislitas sarana untuk guru dan sekolahpun dilengkapi. Contohnya,saya punya keponakan usia sekolah dasar, setiap hari menerima tugas dari sekolah yang dikirim melalui WhatsApp orang tuanya. Bagi kedua orang tuanya itu tidak dirasa berat, selain karena kedua orang tuanya pun bekerja dari rumah, kuota internet selalu tersedia, dan  mengontrol tugas anak yang cuma satu orang itu tidak terlalu merepotkan.

Begitupun bagi para mahasiswa, android adalah barang yang sudah masuk dalam kebutuhan pokok yang harus dipegang oleh generasi milenial. Aktifitas mereka juga berada di pusat kota-kota besar sehingga tidak terkendala dengan gangguan jaringan hanya saja mereka butuh dana tambahan untuk mengisi kuota internet yang terus meningkat.

Tantangan Guru, Siswa dan Mahasiswa di Daerah 3T

Selain itu, di daerah-daerah pedalaman atau yang biasa disebut sebagai daerah 3T (Terdalam, Terbelakang dan Tertinggal). Jangankan anak-anak, sekolah saja tidak punya komputer, apalagi fasilitas internet seperti wifi. Guru-guru yang sudah tua, bisa dibilang gaptek, tidak bisa komputer atau bahkan tidak bisa mengoperasikan HP android, mereka mengalami kesulitan sejak ulangan akhir semester berlangsung.

Hal ini dikeluhkan seorang gadis remaja yang merupakan seorang mahasiswi dari salah satu kampus swasta di NTB yang selalu mendapat pelimpahan tugas dari ayahnya yang berstatus sebagai seorang guru di sekolah menengah atas hampir setiap hari dia harus mengerjakan semua tugas ayahnya sebagai guru, dimulai dari mengetik materi pelajaran, penugasan dan mengirimnya melalui WhatsApp atau Google classroom .

Di wilayah pedesaan guru-guru tidak menggunakan komputer dan tidak menggunakan HP android, adanya hanya HP jankrik kata generasi milenial; HP yang hanya bisa untuk menelepon dan menjawab telepon, mengirim pesan singkat dan tambahan applikasi senter saja. Hal serupa pun terjadi di kalangan siswa-siswi di sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Mereka adalah anak-anak yang belum mengenal android apalagi komputer. Memiliki telepon genggam bukan suatu hal yang penting bagi mereka, sebab pekerjaan orang tua mereka tidak membutuhkan perangkat itu.

Baca Juga  Perihal Nyaman dan Upaya Mendidik dengan Hati

Pembelajaran dengan sistem dalam jaringan ini dinilai tidak mampu mengcover semua sekolah, dikarenakan beberapa kendala tersebut. Sehingga diperlukan perhatian secara khusus dan secara serius oleh kemendikbud. Mengingat pandemi ini tidak hanya terjadi sebulan atau dua bulan saja. Sekarang sudah memasuki tahun ajaran yang baru dalam kondisi yang sama dengan belajar jarak jauh. Bagaimana nasib mereka ?Anak-anak di desa akan semakin tertinggal dengan anak-anak lainnya yang tetap belajar dengan sistem daring.

PJJ Butuh Perhatian Serius di Tengah Pandemi ini.

Ini soal nasib bangsa ini ke depan, masa depan sumber daya manusia, kualitas pemimpin dan generasi penerus bangsa. Bagaimana nasib pendidikan dan anak-anak di Indonesia dari Sabang sampai Merauke ? Anak-anak Indonesia bukan hanya di Jawa yang dinilai sudah terakomodir dengan baik dengan PJJ.

Faktanya bukan hanya di daerah kami saja, di wilayah timur Nusa Tenggara Barat yang tidak terakomodir dalam sistem PJJ. Sebagimana data yang diungkap oleh ibu Retno Listyarti di ILC beberapa hari yang lalu bahwa 50% sekolah-sekolah di luar Jawa tidak terlayani dengan daring. Angka yang jauh lebih tinggi lagi di wilayah Papua 54 % sekolah tidak terlayani daring.

Bukannya menunjukkan rasa empati, Mendikbud malah sibuk dengan program POP nya yang tidak jelas arahnya ke mana dengan biaya yang selangit. Melihat realita yang terjadi, hal ini menunjukkan bahwa Mendikbud memang tidak peduli dengan kondisi pendidikan yang carut-marut di tengah pandemi ini. Hal senada diungkapkan oleh Prof. Azyumardi Azra di ILC pekan lalu bahwa adanya program ini (POP) menunjukkan tidak adanya empati mendikbud terhadap kondisi pendidikan yang tengah kocar-kacir.  Program yang dinilai tidak transparan dan hanya menghambur-hamburkan dana sebanyak ½ miliar itu tidak dibutuhkan dan tidak mengacu pada masalah yang dihadapi.

Baca Juga  Keterkaitan Pendidikan dan Akal Budi
Mendikbud Harus Memantau Daerah-Daerah yang Tidak Terjangkau Internet

Program POP yang hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat dan pendidik menghadirkan banyak kebingungan. Kenapa biaya sebanyak itu tidak dialihkan saja untuk program peningkatan kualitas guru, pengadaan sarana dan prasarana sekolah ? Menghadirkan fasilitas-fasilitas yang mendukung PJJ seperti komputer, wifi dan kuota gratis untuk para pelajar dan mahasiswa. Sesekali mendikbud harus turun langsung memantau daerah-daerah yang tidak mampu dijangkau oleh jaringan internet, hadirkan solusi untuk itu.

Di sisi lain, kami sebagai tenaga pendidik menunggu adanya konsep-konsep baru yang dihadirkan oleh kemendikbud di situasi darurat ini; seperti penyederhanaan kurikulum. Para tenaga pengajar butuh kurikulum yang adaptif dengan kondisi-kondisi darurat seperti yang sedang kita alami saat ini. Berbagai masalah dan keluhan tidak hanya datang dari sekolah-sekolah di daerah pelosok akan tetapi sekolah-sekolah di kotapun juga mengalaminya.

Mulai dari guru yang mengeluhkan adanya siswa yang tidak ikut pembelajaran daring, orang tua yang merasa kerepotan mengurus tugas anak-anaknya. Biaya tambahan untuk membeli kuota setiap hari dan juga anak-anak yang harus bergantian menggunakan laptop yang cuma satu untuk dipakai bertiga, bahkan berempat. Ditambah lagi kondisi kesehatan mental dan fisik anak yang setiap hari berada di depan hp dan laptop.

Kepada mendikbud, mengontrol pendidikan tidak semudah mengontrol aplikasi online yang semuanya bisa dilakukan dari jarak jauh, yang  mengacu pada sistem yang terprogram dari komputer melalui handphone para driver. Pondasi bangsa ini terletak pada kualitas pendidikan generasi mudanya.

 

Bagikan
Comments
  • Nurjanah Laila

    Tetap kreatif dan semangat PJJ

    Oktober 17, 2020
Post a Comment