f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hakikat cinta

Rabi’ah Al-Adawiyah, Dasar dan Hakikat Cinta Ilahi (2)

 

Sebagaimana yang telah penulis jelaskan pada artikel sebelumnya “Rabiah Al-Adawiyah, Teori Cinta Ilahi dan Konsepnya dalam Tasawuf (1)“; bahwa cinta dalam ajaran Tasawuf merupakan ajaran utama yang dijadikan oleh seorang sufi menuju kehidupan yang zuhud.

Rabi’ah dengan teori cinta ilahinya telah memberi konsep baru dalam dunia para sufi (Tasawuf), bagaimana dahulu para sufi dalam beribadah kepada Tuhan karena takut neraka dan mengharap masuk syurga. Dengan teori cinta Rabi’ah bahwa yang menjadi landasan mereka beribadah diubah dengan rasa cinta yang sebenar-benarnya cinta kepada ilahi.

Dasar Ajaran Cinta Ilahi

Pada artikel sebelumnya telah saya sebutkan beberapa faktor utama yang mengantarkan Rabi’ah Al-Adawiyah mencapai tingkat ajaran cinta ilahi adalah ajaran Islam yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak kecil. Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan beberapa dasar cinta kepada-Nya.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah amat berat siksaaan-Nya. (niscaya mereka menyesal),” (QS. Al-Baqarah, 2:165).

Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:

“Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imran 3:31-32).

Rasulullah Saw juga bersabda mengenai ajaran cinta kepada Allah:

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain, mencintai seseorang karena hanya Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemperkan ke dalam neraka.”

Baca Juga  Mengelola Bakat

“Cintailah Allah, karena ialah yang mencurahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu, dan cintailah aku karena mencintai Allah, da cintailah keluarga rumahku karena mencintai aku.”

“Tiga hal yang membuat manusia diharamkan terhadap neraka dan neraka haram atasnya, yaitu iman kepada Allah, cinta Allah dan rindu bertemu dengan-Nya dalam hara api cinta cinta kepada-Nya daripada kembali dalam kekufuran.”

Berdasarkan dalil diatas itulah, Rabi’ah Al-Adawiyah mengenal teori (jalan) cinta kepada Tuhan. Selain itu juga, pengalaman keagamaan Rabi’ah mampu membawahnya ke puncak maturasi (kematangan) dalam beragama.

Dalam psikologi agama, pengalaman keagamaan adalah seluruh aktivitas manusia dalam memeluk dan menjalankan agama dengan segala macam praktik-praktiknya. Di dalam pengalaman tersebut terkandung pengertian (tentang hal yang berkaitan dengan agama)  dari dan oleh karena menjalankan agama.

Dari pengalaman keagamaaanya yang dimulai sejak masa kanak-kanak, Rabi’ah mampu mencapai puncak maturasi dan mendapat pengertian tentang dan dalam wujud cinta kepada Tuhan.

Hakikat Ajaran Cinta Ilahi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cinta dapat berarti: suka sekali, kasih sekali, terpikat, ingin sekali, atau susah (khawatir). Sedangkan menurut ilmu psikologis, cinta adalah perasaan khusus yang menyangkut kesenangan terhadap atau melekat pada objek, cinta berwarna emosional bila muncul dalam pikiran dan dapat membangkitkan keseluruhan emosi primer, sesuai dengan posisi objek itu berada.

Tanpa terlepas dari pengertian diatas, yang dimaksud dengan cinta dalam dunia sufi yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab hubb atau mahabbah. Tanpa dipungkiri banyak orang yang telah berbicara tentang cinta dan berspekulasi tentang etimologinya.

Al-Qusyairi menyebutkan beberapa pendapat tentang cinta Ilahi sebagai berikut:

Pertama, cinta disebut cinta karena orang yang mengatakan ahabba untuk menggambarkan unta yang sedang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi. Maka demikian pula, sang pecinta (muhibb) tidak akan mengerakkan hatinya menjauh dari mrngingat kekasihnya (mahbub).

Baca Juga  Cak Dlahom dan Kisah Sufi dari Madura

Kedua, cinta terambil dari kata habb (biji-bijian, mufradnya habbah), dan habbat al-qalh adalah apa yang menopangnya. Dengan demikian cinta dinamakan hub karena dia tersimpan dalam habbat al-qalb. Dikatakan kata habb dan hubb hanyalah variasi pembaca (artinya sama).

Ulama-ulama ma’ani menjelaskan, mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu karena indahnya dan lezatnya bagi orang yang mencintai. Dalam tasawuf, mahabbah yang dimaksud adalah cinta kepada Allah, ini adalah cinta tertinggi. Menurut para ahli tasawuf cinta yang meliputi ilham, pancaran, dan luap-luapan hati, cinta dengan segala perasaan dan keberadaannya.

Cinta adalah senantiasa cenderung dan berpaling kepada sang kekasih dengan hati yang merasa cinta. cinta berarti bahwa si pecinta menyesuaikan diri dengan keinginan yang dicintai.

Abu Yazid al-Bistami mengatakan: “cinta adalah mengabaikan hal-hal sebesar apapun yang datangnya dari dirimu  dan memandang besar hal-hal sekecil apapun  yang datang dari kekasihmu.

Cinta kepada Allah adalah cinta yang paling tinggi. Cinta adalah keadaan spiritual yang sangat tinggi, oleh karena itu sangat sulit sekali untuk didefinisikan. Menurut Rumi, akal yang berusaha menjelaskan adalah seperti keledai di dalam paya, dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping.

Menurut Ibnu arabi, orang yang mendefinisikan cinta berarti dia tidak tahu tentang cinta, orang yang merasakan alirannya berarti dia tidak mengenalnya, dan orang yang merasa puas dengan cinta berarti dia tidak mengerti cinta, karena cinta adalah minum tetapi tidak pernah merasa puas.

Hakikat Cinta Ilahi Menurut Rabi’ah

Banyak sekali kalangan para sufi yang memperbincangkan cinta kepada Tuhan dan berusaha menguraikannya. Dan teori cinta yang mewarnai semua ajaran sufi bermula dari ungkapan atau teori cinta yang dimunculkan oleh Rabi’ah Al-Adawiyah.

Baca Juga  Belajar dari Malala, Mengubah Dunia dengan “Pena”

Cinta bagi Rabi’ah sukar untuk didefinisikan, karena cinta berisi kerinduan kepada yang dicinta. Meski demikian, Rabi’ah telah membuat rumusan analisis melalui serangkaian kata berikut ini:

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta

Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu

Cinta karena diriku

Adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu

Cinta karena diri-Mu

Adalah keadaan-Mu menyingkapkan tabir hingga Engkau kulihat

Baik untuk ini maupun untuk pujian bukanlah bagiku, bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.”

Mengomentari syair tersebut, Al-Ghazali mengatakan bahwa mungkin yang dimaksud cinta karena kesenangan (hub-al hawa) adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah kepada Rabi’ah. Dan Rabi’ah mencintai Allah, karena Dia adalah dzat yang berhak mendapatkan cinta, karena keindahan dan keagungan-Nya yang tersikap untuk Rabi’ah.

Dari komentar Al-Ghazali diatas dapat disimpulkan bahwa Rabi’ah Al-Adawiyah, meskipun tidak mendefiniskan tentang cinta, tetapi dia telah merumuskan cintanya.

Pertama, cinta karena yang mencinta (dirinya sendiri) adalah keadaan sang pencipta (hamba) selalu ingat kepada Yang Tercinta (Tuhan).

Kedua, cinta karena Yang Dicinta (Allah) adalah keadaan Yang Tercinta (Tuhan) yang bersedia membukakan tabir-Nya kepada sang pecinta (hambah).

Kedua ide yang disebutkan Rabi’ah diatas sesuai dengan ide tentang sebab cinta yang dilotarkan oleh Al-Ghazali. Pertama, cinta timbul karena mencintai diri sendiri atas segala kenikmatan dalam hidupnya. Kedua, cinta yang timbul karena yang dicinta itu sendiri, keinginan Rabi’ah untuk membuka tabir Allah yang mengantarkan cintanya kepada puncak cinta ilahi. Wallahu A’lam Bissawab

Bagikan
Post a Comment