Iduladha: Antara Pengorbanan dan Ibadah?

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Umat Islam sebentar lagi akan merayakan hari raya Iduladha. Biasanya, banyak orang menyebutnya dengan istilah hari raya haji atau hari raya Kurban. Disebut hari raya Haji karena, pada tanggal 10 Dzulhijjah umat Islam yang sedang berhaji menunaikan rukun haji terakhirnya dengan menyembelih hewan kurban. Pada hari raya Iduladha identik adanya penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu. Semakin mendekati hari raya Iduladha banyak masjid yang sudah membuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin berkurban. Pedagang hewan juga semakin laris seiring dengan permintaan pasar.

Kurban secara bahasa berarti dekat. Dalam Islam, kurban juga disebut udhiyah yang diartikan sebagai hewan sembelihan, seperti; unta, sapi atau kerbau, dan domba atau kambing yang disembelih pada hari raya Iduladha (10 Dzulhijjah) dan hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu ayat Al-Qur’an yang sudah tidak asing ditelinga kita mengenai perintah berqurban yaitu QS. Al Kautsar: 2, yang artinya

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Pada ayat tersebut, Allah menegaskan kepada kita bahwa ibadah kurban merupakan ibadah yang perlu dilaksanakan selain shalat, terutama bagi yang mampu.

Melihat sejarah kurban menurut Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, kurban dilakukan pertama kali oleh kedua putra Nabi adam (Habil dan Qabil) kepada Allah. Secara formal kurban bermula dari Nabi Ibrahim As. Yaitu, tatkala ia bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail As, seorang putra yang dicintainya.

Cerita Ibrahim dan Ismail

Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada Nabi Ismail, lalu dengan gagah berani Nabi Ismail berkata “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku dan termasuk orang yang sabar”. Dengan penuh keyakinan dan ketaatan, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Sebelum penyembelihan Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengikatnya dengan tali serta menajamkan pisau, selain itu meminta agar pakaiannya diberikan kepada Siti Hajar sebagai kenang-kenangan.

Akhirnya, Nabi Ibrahim memulai proses penyembelihan dengan menyebut nama Allah. Saat menyembelih, tanpa melihat putranya Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing. Selamatlah Nabi Ismail dari peristiwa penyembelihan tersebut. Lewat perintah menyembelih anaknya, Allah hendak menguji ketaatan Nabi Ibrahim. Kisah tersebut diabadikan dalam Qs Ash-Shaffat ayat 102-110. Peristiwa ini merupakan asal mula kurban disunnahkan atau sangat dianjurkan bagi orang yang mampu di hari raya Iduladha.

Apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada putranya merupakan bentuk kerelaan dan pengorbanan seorang ayah terhadap sesuatu yang ia cintai. Begitu juga dengan berkurban, seorang muslim merelakan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban, lalu disembelih, dan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Biasanya, manusia enggan melepaskan terhadap sesuatu yang telah dimiliki, sehingga dapat kita jadikan ibrah dari kisah Nabi Ibrahim untuk mendidik diri kita dan keluarga dalam memaknai makna pengorbanan. Merelakan adalah sesuatu yang berat namun jika segala sesuatunya karena Allah maka akan terasa mudah.

Berkurban karena Allah

Penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan karena Allah. Apabila kita berkurban agar dipandang sebagai orang kaya, malu dengan tetangga, agar dipandang alim, maka sedari awal niat tersebut sudah salah. Niat harus ditujukan semata-mata karena Allah, tidak ke yang lainnya. Kurban merupakan salah satu ibadah sosial, akan timbul rasa kepedulian, toleransi, dan hubungan baik antara yang kaya dan miskin. Mengapa demikian, karena daging kurban nantinya akan dibagi-bagikan yang sepertiga untuk yang berkurban, sepertiga untuk fakir miskin, dan seperti sisanya untuk dihadiahkan kepada orang lain. Pada kesempatan ini semuanya dapat merasakan nikmatnya daging kurban.

Banyak makna mengenai manfaat berkurban, baik dari segi ruhiyah maupun sosial-kemasyarakatan. Secara ruhiyah kurban dapat meningkatkan kesadaran ritual pada diri pelakunya. Sedangkan, secara sosial-kemasyarakatan, kurban dapat bermakna apabila ada kerelaan dan keikhlasan pada diri orang yang berqurban, yang nantinya berimbas pada sesama yaitu fakir miskin dan mustadzafiin. Menurut Choirul Mahfud menyebutkan beberapa manfaat kurban diantaranya;

Pertama, dihapuskan dosa dan salahnya. Kedua, hewan kurban akan menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat nanti. Ketiga, orang yang berkurban dicintai Allah. Keepat, orang yang berkurban akan dikuatkan imannya. Kelima, orang yang berkkurban akan dibahas dengan pahala yang berlipat.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa dengan melaksanakan kurban di hari raya Iduladha kita dapat belajar antara pengorbanan dengan memberikan apa yang kita cintai dengan maksud beribadah kepada Allah. Agar dapat merasakan manfaat dari berkurban, maka cobalah ! Semoga bermanfaat.

Leave a Comment