Iklan Kosmetik Penyumbang Bibit Rasisme Pada Anak?
Ternyata, iklan-iklan kosmetik yang beredar di tengah masyarakat tanpa kita sadari membawa bibit rasisme. Melalui iklan, bibit rasisme itu telah disebarkan, ditumbuh kembangkan secara masif. Sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dan sepertinya kita masih cuek-cuek saja. Kalau toh ada yang tidak setuju itu hanya sebatas bisik-bisik tetangga. Nyatanya belum ada yang menyuarakan dengan resmi keberatan atas iklan-iklan kosmetik tersebut.
Ada sebuah percakapan tak terduga dari anak-anak saya yang mewakili tentang kesimpulan di atas. Begini ceritanya, pagi itu saya dan kedua anak perempuan saya tengah sama-sama berada di satu kamar. Saya sedang membersihkan almari baju saat kedua anak perempuan saya yang mulai remaja itu bercakap-cakap.
Tentang Cantik dan Kusam
“Mbak, bedak yang kamu belikan jelek”
“Lho, emang kenapa?”
“Wajah saya tetap saja, tidak tambah putih.”
“Yang penting kan cantik.”
“Ya tidak jadi cantik, wong malah kayak kusam begini.”
Saya yang semula tidak begitu ngeh dalam mendengarkan mereka tiba-tiba telinga seperti melebar dengan sendirinya lalu spontan mulut merespon dengan bertanya:
“Trus, kalau wajahnya menjadi putih bagaimana?”
“Kan tambah kelihatan cantik!”
“Ooo.. jadi cantik itu yang putih?”
“Lha begitu kan Bu? cantik itu yang wajahnya putih dan glowing.”
“Lho lho lho, keliru itu Nduk, cantik itu tidak hanya untuk yang memiliki wajah putih dan glowing-glowing gitu.”
Makna Kecantikan
Lalu saya pun berkata panjang lebar kepada mereka tentang makna cantik. Tidak benar kalau cantik itu hanya identik dengan warna satu kulit saja. Dalam hal ini mereka yang berkulit putih. Pengertian cantik sangatlah luas. Bahwa cantik itu elok, bagus, elegan. Cantik bisa bermakna keindahan. Maka jangan heran jika ada orang yang berkata: “Amboi, cantik sekali pemandangannya!”. Dan,cantik bagi perempuan tidak hanya dari sisi rupa atau wajah tapi juga mengenai kualitas diri. Begitu saya menjelaskan kepada kedua anak perempuan saya.
Beberapa bulan ini persoalan rasisme memang sedang kembali banyak diperbincangkan masyarakat. Penyebabnya adalah George Floyd seorang penduduk berkulit hitam yang mati setelah disiksa oleh seorang polisi berkulit putih pada akhir bulan Mei tahun ini. Demontrasi pun mewarnai tuntutan keadilan atas kematian George Flyod. Buntutnya, publik malah semakin dibuat geram dengan adanya komentar dari Samantha Katie James, mantan Miss Universe 2017 asal Malaysia. Dia melontarkan tanggapan terhadap para demontran yang menuai kritik pedas karena dinilai tidak pantas dan sangat rasis di tengah kerusuhan di Amerika Serikat.
Rasime Fisik yang Tertanam Sejak Dini
Perbedaan warna kulit memang sering menjadi penyebab dari berbagai tindakan rasis di muka bumi. Namun sebenarnya banyak sekali bibit-bibit rasisme yang perlu diwaspadai pertumbuhan dan penyebarannya. Karena rasisme memang bukan hanya soal warna kulit, tapi juga semua yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik yang bisa menimbulkan rasa superior diri terhadap orang lain baik individu maupun kelompok. Bentuk tindakannya pun bermacam-macam. Bisa mulai dari sekedar ejekan, sindiran, nama julukan, sampai ke tindakan kriminal dan anarkis yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.
“Oo, Umi kribo?”
“Rambut cantik itu yang berkilau hitam alami.”
“Eh, kurus amat sih, kayak orang cacingan saja.”
“Makanya jangan gendut-gendut, gak seksi gitu lhoo..tuh ada iklan pelangsing alami!”
“Nyari jodo kok yang item, tidak jadi perbaikan keturunan doong?”
“Kulit wajah gelap amat ya, harus beli pemutih nih?”
Beberapa contoh perkataan di atas adalah ucapan yang kerap kita dengar. Mungkin dari kita akan mengelak jika hal demikian disebut sebagai sebuah tindakan rasisme. Karena memang tanpa kita sadari sangat besar kemungkinan disebabkan iklan-iklan kosmetik yang mengandung bibit rasisme sudah bercokol dan terlanjur tertanam kuat di kepala kita. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun, sejak dari usia dini sampai dewasa mata kita, telinga kita terus menerus dibombardir oleh pernyataan-pertanyaan tentang makna kecantikan yang tidak tepat.
Anak-anak Tak Terlahir Rasis!
Maka, masa pandemi virus korona ini sungguh membawa hikmah tersendiri bagi saya. Saya bisa semakin dekat dan mengenal anak-anak saya. Saya jadi tahu, ternyata bibit rasisme dan kelakuan body shaming sudah bercokol pada anak saya. Dan, kisah yang saya alami bisa jadi merupakan satu dari kisah yang juga dialami oleh masyarakat. Jika ini tidak segera terdeteksi, siapa yang akan menjamin kelak tidak ada rasisme pada mereka di masa depan?
Oleh karena itu agar bibit rasisme tidak semakin tumbuh berkembang tentu solusinya adalah melalui pengasuhan dan pendidikan sejak dini. Adapun persepsi istilah cantik bisa juga jika kita tambahkan dari sebuah slogan kecantikan salah satu kosmetik di Indonesia. Iklan kosmetiknya menyatakan kalau cantik itu berani peduli. Menarik kan?
Yang pasti, pendampingan dan edukasi kita terhadap anak tentang iklan kosmetik sekali lagi tidak boleh disepelekan. Sebab, anak-anak tidak terlahir rasis!
*Penulis adalah Guru MI Manba’ul Ma’arif Kingking Tuban
