Stigmatisasi dan Preferensi Memilih Calon Pasangan Hidup
Stigmatisasi Calon Pasangan
Dunia selebritis nampaknya membuat warganet terkaget-kaget melihat postingan foto artis Marshel dan Celine kompak berbaju putih,backgroud biru. Asumsi warganet menangkap kalau itu sebagai tanda mempersiapkan pernikahan. Hal lain yang membikin terkejut warganet soal caption yang ia tulis. “Dari kemarin becanda terus, sekarang gilirannya serius kali ya. Biar semua percaya. MarCeline Si Cantik Milik si Pemberani,” tulis Marshel.
Kata “Si Cantik Milik Pemberani” dalam tafsir bebas penulis memiliki beberapa spekulatif makna. Pertama, paras cantik tidak selamanya hanya bisa didapatkan oleh cowok yang tampan. Begitu juga sebaliknya,Paras yang tampan bukan hanya untuk yang cantik saja. Kedua, modal keberanian diri atau mental untuk melamar menjadi syarat cepat si calon pasangan mau menerima lamarannya. Ketiga, dari kata itu memberikan makna bahwa kepribadian humoris yang dimiliki oleh Marsel menjadi point tersendiri. Ternyata cewek atau cowok memiliki berbagai selera pilihanya, sesuai dengan karakter yang ia sukai; yang mungkin menurut kacamata warganet hal yang mustahil bisa disatukan atau dipertemukan.
Eksklusif Memilih Calon Pasangan
Terlepas dari subtansi yang diunggah oleh mereka, benar atau tidaknya akan melangsungkan pernikahan atau sekadar hiburan, settingan semata. Bukan menjadi hal yang dipersoalkan. Yang ingin penulis sampaikan adalah di dalam kultur masyarakat modern sekarang akhirnya muncul kelas sosial baru. Memilih pasangan hanya dari sudut padangan status sosial dan menyampingkan kreteria yang lain terutama yang diatur dalam Islam itu sendiri. Terjadilah sebuah stigmatisasi,pandangan yang eklusif dalam memilih calon pasangan hanya dari sudut kacamata status sosial saja.
Untuk memperkuat kenapa terjadinya stigma tersebut,penulis mengamati berbagai aktivitas dunia sosial media terutama melalui Instgram dan Video Tiktok. Banyak sekali konten yang menampilkan kreteria atau pasangan yang di idamkan.sekilas melihat dari salah postingan yang melintas menuliskan perjodohan atau pasangan melalui status sosial, sebagaimana contoh TNI, polisi, dokter menjadi idaman pasangan yang berkarir di dunia kesehatan (bidan, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya), para pengusaha cewek atau cowok, cocok untuk orang-orang yang sefrekuensi dengan karirnya, style hidup yang mewah. Model kyai, ustaz, atau mubaligh cocok untuk identitas yang serupa modelnya.
Fenomena tersebut membuat insecure bagi kalangan masyarakat, terutama anak muda yang ingin memilih pasangan. Sehingga akan membentuk konstruk atau paradigma yang kurang tepat,sempit, pesimis ketika ingin memilih pasangan; karena tidak memiliki atau beda status sosial. Hal ini terjadi ketika ngobrol, berdiskusi dengan teman-teman. Yang dirasakan adalah insecure, merasa tidak pantas, bukan kelasnya karena terlalu jauh status sosialnya; hanya seorang tukang kuli bangunan, kurir, pekerja serabutan, pekerja pabrik atau hanya seorang guru honorer musthahil bisa mendapatkan idaman seperti pasangan-pasangan di atas memiliki status sosial yang diakui keberadaanya.
Ketika kawula muda-mudi memilih pasangan hanya dari status atribut (status sosial), yang dikhawatirkan ke depan adalah timbulnya sebuah pandangan dan penilian eksklusif, kurang tepat dan mengakibatkan terbungkamnya logika serta gugupnya menghadapi dinamika dalam urusan rumah tangga.
Islam, Sebagai Agama Inklusif Memilih Pasangan
Maksud dari Islam sebagai agama inklusif adalah menjadikan seluruh risalahnya dengan pandangan yang terbuka, menyeluruh dan mendalam dalam memahami serta mengimplementasikan dengan penuh keseimbangan dan keikhlasan. Dalam konteks memilih pasangan artinya ajaran Islam menjadi prioritas utama sebagai standarisasi yang menyeluruh untuk memilih pasangan.
Memilih pasangan hanya standarisasi kehendak diri sendiri, egois dan tidak memperhatikan apa yang diperintahkan Allah melalui perantara para Nabi dan Rasul, akan menjadi sebuah keangkuhan yang akan membawa malapetaka dalam kehidupan rumah tangganya. Karena itulah, Rasulullah Saw. berpesan kepada umatnya,” Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan golonganku…” (HR Ibnu Majah). Secara tersirat hadis tersebut memerintahkan untuk menikah sesuai dengan aturan yang diperintahkanya, terutama memilih pasangan.
Mencari pasangan hidup tidak boleh asal-asalan, hanya karena cantik, tampan, dan berseragam menjadi prioritas utama untuk dipilih. Kita ketahui pilihan tadi hanya sesaat dan akan punah. Yang awalnya cantik ganteng akan mengkriput, berseragam dinas ketika pensiun akan kembali orang yang biasa; ketika fisik bagus, tua renta akan melemah. Maka Islam melalui ajarannya selalu berpesan untuk memilih pasangan dengan mempertimbangkan 4 hal. ”Wanita biasanya dinikahi karena empat hal : hartanya, kedudukan, parasnya dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamanya), sebab kalau tidak demikian,niscaya kamu merugi.” (HR Muslim)
Jadi jelas sekali bahwa yang menjadi prioritas utama adalah karena keislamaanya. Keislaman yang seperti apa? Keislamaan yang mampu membawa bahtera rumah tangganya menjadi keluarga betauladan baik, terbuka dengan masyarakat, tidak anti-sosial, berwawasan luas akan paham ajaran Islam, menjaga kerukunan umat beragama dan saling mengerti hak dan kewajiban pasangan suami istri.
Ada sebuah data penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Universitas Kebangsaan Malaysia (UKB) sejumlah 160 orang sebagai subjek penelitian tentang preferensi memilih pasangan hidup. Preferensi religusitas menjadi pilihan paling banyak, kemudian karakteristik mahasiswa laki-laki cenderung memilih pasangan yang lebih muda dan yang memiliki daya tarik fisik; sedangkan mahasiswa perempuan lebih memilih pasangan yang lebih tua dan prospek keuangan yang baik.
Jadi, preferensi pemilihan pasangan hidup yang menjadi bagian paling vital karena itu kebutuhan seumur hidup, maka jangan hanya memandang hanya satu pilihan atau kriteria saja; karena hal tersebut akan membawa konstruk pemikiran masa depan pasangan materialistik, lebih suka citra (eksistensi) sosial, daripada sebuah nilai kehidupan rumah tangga yang cerdas dan berkualitas.
Lahir di Brebes, 28 Oktober 1998 . Sekolah Dasar ditempuh di MI Muhammadiyah Manggis ,Brebes (2010 ) , SMP Muhammadiyah 2 Sirampog ,Brebes (2013), SMK Muhammadiyah 1 Sirampog ,Brebes (2016 ) . S-1 Di Universitas Muhammadiyah Surakarta ( UMS ) dan S-2 Administrasi Pendidikan UMS .Pernah menjabat sebagai Ketua umum PR IPM SMP Muhammadiyah 2 Sirampog, Ketua Umum Pramuka SMK Muhammadiyah 1 Sirampog, ketua Umum forum Anak Sirampog , Ketua Umum PK IMM Muhammad Abduh FAI UMS Cabang Sukoharjo,cKetua Umum PC IMM Sukoharjo 2021. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Beprestasi UMS , dan Ketua Koordinator Umum Beasiswa BUMITA UMS. Saat ini mengajar di SMK Muhammadiyah 5 Surakarta. Akun Sosial Media Instagram @Adam-Dahlanisme.
