Krisis Lingkungan di Tengah Pandemi
Oleh: Nihlah Adlina*
Pencemaran Lingkungan merupakan perubahan faktor abiotik akibat kegiatan yang melebihi ambang batas toleransi ekosistem biotik, misalnya pengunaan kendaraan bermotor ataupun alat pengelola bahan baku yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan.
Lingkungan, di tengah pandemi Covid-19, mengalami beberapa perubahan. Seperti, berkurangnya polusi udara yang disebabkan oleh tidak berproduksinya beberapa kegiatan industri, dan berkurangnya penggunaan kendaraan. Dan hal tersebut, merupakan dampak yang sangat positif terhadap lingkungan.
Peran dalam Mencegah Penyebaran Covid-19
Penyebaran pandemi yang begitu cepat menyebabkan negara-negara di dunia mengalami masalah yang sama. Beberapa negara lebih memilih lockdown untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Sementara Indonesia menerapkan peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang bertujuan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Pemerintah juga menyemprotkan disinfektan di jalanan perkotaan hingga perdesaan, peningkatan jumlah ADP, dan alat kesehatan untuk penangan pasien.
Berbagai bentuk penanganan dalam mencegah penyebaran pandemi tentu menimbulkan dampak negatif dan positif bagi lingkungan. Dampak negatif yang muncul yaitu bertambahnya jumlah sampah rumah tangga dan sampah medis, serta pencemaran lingkungan dari penyemprotan disinfektan. Sampah medis yang dihasilkan, seperti plastik medis, sarung tangan, masker yang sekali pakai, jarum suntik, dan sampah radioktif, dapat menularkan penyakit yang berbahaya.
Dampak positifnya, polusi udara karena mobilitas manusia berkurang sejak penerapan PSBB. Hal tersebut, dapat mengurangi jumlah karbon monoksida yang dihasilkan. Berkurangnya jumlah karbon monoksida dan nitrogen dioksida sangat berpengaruh pada lingkungan yang biasanya dihirup dalam jumlah yang banyak. Lapisan ozon pulih kembali dan menghasilkan udara yang sehat.
Pentingnya Menjaga Lingkungan Selama Pandemi
Menjaga kebersihan lingkungan termasuk rumah, sama pentingnya dengan menjaga kebersihan tangan. Rumah yang kotor selain mengganggu kenyaman juga bisa menjai sarang bakteri dan virus. Di tengah pemberitaan penyebaran Covid-19, kita juga harus tetap menjaga linkungan rumah dan lingkungan sekitar agar terbebas dari kuman dan virus.
Menjaga lingkungan rumah agar terbebas dari Covid-19 dengan memperhatikan kebersihan lingkungan di sekitar rumah. Membersikan permukaan yang sering disentuh dengan sabun dan air secara rutin. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk sementara. Menggunakan botol minuman sendiri untuk konsumsi air.
Yang harus diketahui, virus ini tidak muncul dengan sendirinya, namun ada peran manusia yang cenderung mempercepat proses penularan ke tubuh manusia.
Cara Menjaga Diri dan Lingkungan di Tengah Pandemi
Di tengah pandemi saat ini, masyarakat harus menjaga kondisi imunitas tubuh agar selalu sehat. Menjaga jarak dan menjaga kesehatan diri menjadi hal yang sangat penting dilakukan saat ini untuk terhindar dari wabah virus Covid-19. Tetap menggunakan masker, dan membawa hand sanitizer.
Salah satu cara untuk mematikan virus Covid-19 adalah dengan cara meneyemprotkan disinfektan atau antiseptik. Keduanya memang memiliki kegunaan untuk membunuh virus, akan tetapi berbeda dalam pengaplikasiaannya. Antiseptik digunakan sebagai pembunuh kuman pada kulit manusia, sedangkan disinfektan digunakan utuk membunuh kuman pada alat kesehatan.
Begitu pun ketika hendak membuat hand sanitizer, cara dan panuannya harus sesuai dengan rekomendasi WHO. Sedangkan cara untuk membuat antiseptik harus menyiapkan alat dan bahan terlebih dahulu, alat yang digunakan adalah cairan yang mengandung chloride.
Virus Covid-19 dapat tetap hidup di udara hingga 3 jam, pada tembaga hingga 4 jam, pada kardus 24 jam, dan pada plastik hingga 72 jam.
Dengan membuat sendiri larutan disinfektan, masyarakat bisa menjaga lingkungan rumah dan lingkungan sekitar untuk mematikan virus yang belum diketahui. Melakukan disinfeksi mandiri akan membantu dalam mencegah penularan virus.Termasuk juga self-isolation.
Upaya self-isolation atau karantina mandiri dapat menjadi pilihan bagi orang yang sedang kurang sehat, seperti flu, batuk, hingga orang yang masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP). Dokter akan menyarankan untuk tetap dalam rumah serta mengonsumsi multivitamin atau suplemen.
Isolasi diri secara mandiri sebaiknya dilakukan selama kurang lebih 14 hari. Sebagaimana kita ketahui, infeksi Covid-19 baru dapat menunjukan gejalanya setelah 2-14 hari masa inkubasi virus di dalam tubuh. Dengan istirahat yang cukup selama self-isolation, akan menambah daya tahan tubuh agar tetap kuat dan terhindar dari virus Covid-19.
*) Penulis adalah mahasiswa yang berdomisili di Gresik
