f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Ilusi Kesempurnaan

Oleh : Ahmad Rizky M. Umar*

Beberapa hari terakhir merebak kasus IM – mahasiswa “berprestasi” dari Universitas Islam ternama di Yogyakarta, yang disinyalir melakukan pelecehan seksual dengan korban yang cukup banyak. Ketika kasusnya pertama kali di-blow up, banyak yang tak percaya. Pasalnya, konon dari orang yang mengenal beliau dan keisengan saya mengecek media sosial yang bersangkutan (yang ini jangan diikuti ya), profilnya cukup “mentereng”. Tapi dengan banyaknya jumlah korban yang melapor –konon mencapai 30 lebih—susah untuk membantah tuduhan yang diberikan.

Saya tidak ingin fokus di kasusnya. Biarlah teman-teman LBH Yogyakarta dan jejaring yang mengadvokasi kasusnya secara hukum. Mari menghormati proses yang berjalan. Tapi ada satu hal yang saya kira juga perlu kita pelajari dari kasus ini dan rekam jejaknya selama ini: jangan terjebak oleh ilusi ‘kesempurnaan’ dan citraan-citraan yang dihadirkan. Kasus IM menggambarkan sebuah “ilusi kolektif” yang muncul dalam masyarakat kita –masyarakat Muslim Indonesia—yaitu sebuah ilusi tentang kesempurnaan. Ilusi ini melahirkan konstruksi masyarakat yang bertumpu pada figur, dan bukan pemikiran atau gagasan, serta menjadikan orang seperti “fanatik” pada persona orang yang diidolakan.

Kesempurnaan Figur sebagai “Ilusi”

Figur IM ditampilkan –atau mungkin ia menampilkan dirinya, diamini oleh orang lain— sebagai seorang figur yang sempurna. Ia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, ustadz, intelektual muda, pandai berbahasa Arab, hingga terakhir menjadi hafizh, dan lain-lain. Beliau diundang dan berbicara kemana-mana dengan profil ini. Pendeknya, citra yang hadir adalah seseorang yang ‘tanpa cacat; seperti sosok Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman Al-Shirazy.

Salahkah hal tersebut? Tentu tidak sepenuhnya. Ada banyak orang yang ditampilkan dan menampilkan dirinya seperti itu, baik yang relijius maupun yang lebih “sekuler” (dalam arti tidak menampilkan simbol keagamaan). Ini bagian dari hak individual, perlu dihormati, apalagi jika ternyata ada “pasar” yang menyukai figur-figur model seperti ini.

Namun, menjadi masalah yang pelik jika ada orang-orang yang menggunakan kesempatan semacam ini untuk kepentingan pribadi. Yang ekstrem: menciptakan relasi kuasa yang timpang dengan motif memberikan dan menebar inspirasi (macam orang-orang semuanya tidak punya motivasi saja). Hingga memanipulasi masyarakat ketika ia disudutkan. Saya melihatnya tidak hanya di kasus IM, tetapi juga di beberapa fenomena lain yang sempat muncul di media.

Baca Juga  Pentingnya Sikap Positif Seorang Muslim

Di sini, kita melihat sebuah fenomena yang, menurut saya, lebih luas dari soal IM dan perilaku-perilakunya: menampilkan kesempurnaan sebagai sebuah ilusi. Menampilkan diri sendiri di hadapan media dan khalayak banyak dengan tampilan yang diinginkan oleh masyarakat, bukan genuine diri sendiri. Dengan kata lain: menampilkan sebuah Ilusi tentang “kesempurnaan” dengan tujuan-tujuan yang sifatnya jangka-pendek; dari sekadar menutupi insecurity sampai pada tujuan komersial atau politis.

Hal yang sebenarnya tidak perlu jika kita percaya bahwa manusia itu adalah tempat salah, khilaf, dan lupa.

Ilusi Kesempurnaan dalam Masyarakat Kontemporer

Masalahnya, citra dan figur semacam ini sebenarnya secara tidak sadar kita produksi dalam masyarakat kita. Tentu dengan banyak ragamnya. Dalam masyarakat kita, sosok yang seringkali dijadikan “inspirasi”, “idola”, “tokoh” adalah sosok-sosok yang menampilkan diri sebagai sosok yang tak pernah cacat, berprestasi, tidak nakal, dan (dalam konteks masyarakat Indonesia) religius serta taat beribadah.

Tiga tahun silam, kita mendengar seorang mahasiswa Indonesia di Belanda yang mengklaim diri sebagai “Habibie Muda”. Penemu sukses dengan beragam prestasi yang ‘wah’ di bidang astronomi dan teknologi pertahanan. Siapa yang tidak kagum? Belakangan, terbongkar bahwa mayoritas klaim itu adalah kebohongan dan ilusi. Yang bersangkutan adalah mahasiswa Doktoral di bidang Virtual Reality, masih belum selesai kuliah, dan tidak pernah terlibat proyek angkasa luar.

Risetnya, padahal, bagus dan publikasinya juga cukup bernas. Yang kemudian seakan terhapus ketika ilusi kesempurnaannya terbongkar di media-media Indonesia.

Mungkin akan banyak yang mengklaim bahwa masalah semacam ini bisa jadi sifatnya personal. Tapi tentu kita perlu sedikit lebih kritis. Mengapa klaim-klaim seperti ini bisa muncul dan kadung diterima dalam masyarakat kita?

Jawabannya tentu kompleks dan perlu riset sosiologis yang lebih panjang. Tapi ada satu fenomena yang bisa kita observasi dari kasus IM atau mahasiswa Indonesia di Belanda tersebut: ilusi tentang kesempurnaan ini bisa muncul karena imajinasi tentang kesempurnaan memang banyak tertanam dalam benak kolektif kelas menengah hari ini.

Sedikit contoh sederhana. Citraan semacam ini banyak kita jumpai dalam novel-novel ‘religi’ hari ini. Ayat-Ayat Cinta, misalnya, menampilkan sosok Fahri dengan kelewat sempurna. Lulusan pesantren, pandai, mahasiswa Master, dicintai banyak wanita. Konon jilid dua-nya lebih hebat lagi: intelektual muda, pengusaha, punya sopir pribadi, tinggal di Inggris Raya (Edinburgh, lagi) dan berbicara dalam forum internasional.  

Baca Juga  Dakwah dalam Perkembangan Dunia Digital

Tentu ini adalah cerita fiksi. Namun, ketika saya berkesempatan kuliah di Inggris dan Australia, serta berinteraksi denga akademisi-akademisi di sana, saya jadi tertawa miris sendiri. Sosok seperti Fahri bisa dibilang tidak ada bahkan untuk ukuran orang-orang Inggris dan Eropa. Beban akademik yang mumet membuat akademisi dan mahasiswa-mahasiswa PhD harus bekerja keras untuk mendapatkan posisi permanen di Universitas. Sudah itu, mereka harus menulis dan riset untuk bisa mempertahankan posisinya, mengajar dengan banyak jam, mengoreksi tugas mahasiswa sampai begadang di akhir pekan, hingga mengurusi administrasi kampus.

Maaf, beberapa di antaranya adalah curhat saya sendiri, hehehe.

Belum lagi jika mereka kuliah melalui loan, yang biasanya akan mengurangi gaji mereka hingga beberapa tahun kemudian. Inilah yang membuat kita menyaksikan banyak demonstrasi dan strike dosen di Inggris beberapa tahun terakhir.

Jadi, ketika Ayat-Ayat Cinta menampilkan sosok Fahri dengan pencapaiannya yang sempurna semacam itu, imajinasi yang dipakai, bisa jadi, adalah imajinasi dosen di Indonesia yang bisa mengajar paruh-waktu, mengerjakan bisnis dan proyek pemerintah, punya usaha, dan bisa mempekerjakan asisten untuk menulis publikasi. Tentu tidak semuanya seperti ini, tapi yang jelas hal semacam ini susah ditemui di Inggris.

Tapi sadar atau tidak, fantasi-fantasi “kesempurnaan” semacam ini, yang tidak bersandar pada realitas, diproduksi terus-menerus di tengah masyarakat. Yang muncul ialah “talkshow” – seminar dan diskusi yang fokus pada pribadi orangnya, dan bukan isi dan argumennya. Ketika isi dan argumen itu dikritik, yang bersangkutan kemudian baper dan dibela habis-habisan oleh penggemarnya, tanpa mengkritisi lebih jauh argument yang bersangkutan.

Budaya ilmiah, yang mestinya dibangun melalui skeptisisme dan pembacaan cermat terhadap masyarakat, digantikan oleh seminar dan pribadi-pribadi “wow” yang menjual kesempurnaan pada audiens. Kita tidak lagi, meminjam ungkapan Khalifah Ali ibn Abi Thalib, mendengarkan apa yang disampaikan, malah hanya melihat siapa yang menyampaikan.

Baca Juga  Gaya Hidup Halal Muslim Kelas Menengah

Di dalam konteks budaya masyarakat seperti inilah akhirnya ada orang-orang yang menggunakan ilusi kesempurnaan untuk menutupi hal-hal ekstrem yang dilakukan.

Akhirnya, ilusi kesempurnaan membuat kita tidak lagi objektif dan gagal memahami orang sebagai “manusia” yang punya kesalahan dan mestinya berubah. Juga membuat kita kehilangan budaya jujur, apa adanya, dan tradisi kritis atas segala sesuatunya. Gagal melihat ketidaksempurnaan sebagai celah untuk perbaikan. Tidak mau mendengarkan perbedaan dan kritik. Dan akhirnya “gengsi” untuk mengakui kesalahan dan berubah. Titik ekstremnya: kita hanya mau melihat apa yang mau kita lihat, dan mendengar apa yang mau kita dengar.

Nalar Kritis Muslim

Pada akhirnya, kasus seperti IM hanya “gunung es”; ia menceritakan konstruksi masyarakat kita hari ini. Yang, sebetulnya, perlu kita refleksikan lebih jauh: jangan-jangan ada yang keliru dari cara beragama kita hari ini. Cara beragama yang secara tidak langsung mengedepankan imaji daripada konten, dan simbol daripada substansi. Cara beragama yang bukannya memberikan kesejukan, tetapi menjadi ilusi untuk menyembunyikan realitas yang ada di masyarakat.

Menurut saya, yang penting kita pelajari (terutama di bulan Ramadhan ini) adalah membangun nalar kritis dalam beragama. Menjadikan agama bukan hanya sebagai laku individual atau ritus ibadah dan kesalihan simbolik semata. Memahami kembali bahwa Islam terdiri dari ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah muamalah (sosial) yang sama pentingnya satu sama lain.

Rahmania, mari membangun tradisi beragama yang ilmiah, membuka diri terhadap kritik dan ketidaksempurnaan, mau menerima kritik dan ketidaksempurnaan diri, dan kritis terhadap ketimpangan-ketimpangan struktural dan sosial di masyarakat. Termasuk juga ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dan laku-laku ketidakadilan lain. Ini juga bagian dari “agama”, dan sesuatu yang tidak kalah bernilai dari ibadah mahdhah yang kita lakukan sehari semalam.

Dengan kata lain, mari membangun “Nalar Kritis” Muslim di abad ke-21 ini.

Billahi fii Sabilil Haq. Fastabiq al-Khairat.

*) Ahmad Rizky M. Umar adalah Ketua Pengurus Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) di Queensland, Australia dan Kandidat PhD di University of Queensland, Brisbane

Bagikan
Post a Comment