Sobat Ambyar, Mari Bersabar
Oleh: Dita Fitria Wati
Hal hal yang besar akan datang kepada orang-orang yang senantiasa berikhtiar, mari bersabar sobat ambyar!
Dunia musik tanah air dirundung duka. Maestro seni musik campursari telah pergi. Didi Kempot, sang musisi legendaris meninggal dunia pada Kamis (5/5/2020).
Kabar tersebut mengejutkan seluruh penikmat campursari dari berbagai penjuru dunia. Sobat Ambyar, nama penggemarnya, sangat kehilangan sosok inspiratif bagi mereka. Berbagai elemen masyarakat pun dibuat terkejut dengan kabar tersebut, termasuk presiden Jokowi. Beliau turut berduka cita atas meninggalnya sang maestro campursari itu.
Jejak penyanyi campur sari ini memang sudah tidak diragukan lagi kapasitas dan kapabilitasnya. Dimana, semasa hidupnya Didi Kempot sudah melalang buana dikanca musik nasional. Dengan menggelar berbagai konser dan menciptakan lagu-lagu bernuansa Jawa.
Adik kandung pelawak Mamiek Prakoso ini memulai karir musiknya benar-benar dari titik nol, yakni sebagai pengamen jalanan. Dan yang menarik, dari awal hingga mampu meraih popularitas dan mendapat berbagai penghargaan, sikapnya konsisten dalam jalur musik yang dilahirkannya yaitu campursari.
God Father of Broken Heart
Eksistensi Didi Kempot di panggung musik tanah air, sejatinya telah ditempuhnya sejak tahun 90-an. Pakdhe Didi sapaan akrabnya kerap dijuluki god father of broken heart atau Bapak Loro Ati Nasional, Bapak Patah Hati Indonesia.
Selama ini, lagu-lagu Didi Kempot memang kebanyakan tentang patah hati. Meski ada beberapa judulnya terkait nama tempat, seperti Stasiun Balapan, tapi tetap saja lirik lagunya mengisahkan kesedihan.
Dengan lagu-lagu patah hatinya tersebut, penyanyi campursari ini pun dikenal dengan sebutan God Father Of Broken Heart. Selain itu, lagu-lagunya tak hanya disukai oleh orang dewasa saja tapi kaum milenial anak muda pun suka dengan lagu-lagu Didi Kempot.
Sang Inspirasi Kaum Muda
Kiprahnya menginspirasi kaum milenial agar tetap menjadi diri sendiri dan mencintai budaya lokal tanpa malu atau gengsi. Didi Kempot yang notabene merupakan penyanyi campur sari, mampu menghipnotis penggemar dari segmen milenial.
Lagu-lagu berbahasa Jawa yang dilantunkannya kini sering diputar oleh muda-mudi Indonesia. Para penggemarnya bersatu dalam payung komunitas Sobat Ambyar, mereka melabel dirinya Sadboys dan Sadgirls. Selain itu, kiprahnya di dunia campursari begitu konsisten.
Meskipun dirinya terkenal namun tidak menghilangkan tradisi Jawanya. Didi adalah sosok yang rendah hati, humble dan tidak membedakan status sosial. Sosoknya mengajarkan kepada milenial untuk selalu menghargai dan tidak meninggalkan tradisi Jawa.
Sebelum pembatasan sosial akibat pandemi virus corona, Didi Kempot sempat menggelar konser “Tresno Ambyar” awal tahun ini. Didi Kempot pun ikut andil dalam konser amal dari rumah untuk membantu orang yang terkena dampak COVID-19 pada April 2020. Maret lalu, dia pun meramaikan konser #dirumahaja untuk menghibur orang-orang yang berdiam diri di rumah selama pandemi sekaligus menggalang donasi.
Hari Patah Hati Nasional
5 Mei 2020 dijuluki sebagai Hari Patah Hati Nasional, mengapa tidak? Kepergian Didi Kempot sangat menyayat di hati seluruh masyarakat. Banyak orang berduka. Mendung yang terus menggelayut semakin menambah kegetiran berita duka tersebut.
Berita kepergiannya sungguh bagaikan palu godam yang menghantam tanpa aba-aba. Kita semua sadar bahwa kita semua memang akan mati. Kita hanya tak siap, bahwa jadwal keberangkatan Didi Kempot ternyata secepat itu.
Dan seperti selayaknya orang baik, untuk mengenang kebaikan-kebaikannya adalah hal yang teramat mudah, dan untuk mencoba tidak sedih atas kepergiannya adalah hal yang teramat susah. Di sini, kita semua sedih melepas seseorang yang lagu-lagunya menemani di saat hati kita sedang merasa ambyar.
Sang maestro telah pergi
Namun karyanya tak akan pernah pudar dan terus abadi.
