f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
selingkuh

Di Balik Tindakan Selingkuh Laki-Laki

Konstruksi tentang laki-laki sebagai tukang selingkuh, barangkali menjadi identitas yang tak bisa dihindarkan. Ketika ngopi, sering teman-teman perempuan di tongkrongan mengatakan kalau laki-laki suka selingkuh. Bahkan, beberapa teman laki-laki saya juga pernah mengeluh kalau dirinya pernah dicap sebagai tukang selingkuh oleh mantannya. Padahal, dirinya putus dengan pasangannya bukan karena selingkuh.

Begitu juga dengan saya. Oleh pasangan saya, sering dibilang tukang selingkuh. Awalnya saya  kesal karena pada faktanya tidak menduakan dirinya. Tetapi, lambat laun saya hanya bisa tabah. Ya, anggap saja bahwa telah menjadi “takdir sosial” kalau laki-laki dianggap tukang selingkuh.

Takdir sosial yang sebenarnya benar, tapi juga salah. Salah karena tidak semua laki-laki adalah tukang selingkuh. Namun, menjadi benar karena perempuan sering melihat dan menjadi korban dari sikap laki-laki yang selingkuh. Saya beberapa kali melihat teman perempuan saya diselingkuhi oleh pasangannya. Atau tak perlu jauh-jauh. Kerap kali kita disuguhkan dengan berita tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh artis laki-laki.

Mau tidak mau, saya harus mengakui konstruksi tentang laki-laki tukang selingkuh, memang benar. Meski begitu, sebagai laki-laki, saya merasa ada faktor mengerikan yang tidak diketahui banyak orang tentang tindakan selingkuh laki-laki.

Yang membuat laki-laki suka menduakan pasangannya karena adanya wacana yang dibangun masyarakat bahwa laki-laki harus kuat.  Sebuah wacana yang terus menyebar tanpa henti karena penyebarannya mudah sekali, yakni dari mulut ke mulut. Nah, wacana bahwa laki-laki harus kuat, pada akhirnya membuat laki-laki bertindak untuk mencari lebih dari satu pasangan.

Kenapa begitu? Karena semakin banyak laki-laki bisa menaklukkan banyak perempuan, akan dianggap kuat. Sebab, menaklukkan satu perempuan saja, susahnya bukan main. Sehingga, ketika bisa menaklukkan banyak perempuan, dianggap memiliki kemampuan yang luar biasa.

Baca Juga  Sudahkah Anak dengan Disabilitas di Indonesia Merdeka?

Meski keliru, tetapi tindakan tersebut justru dianggap normal, bahkan disoraki oleh yang lain. Dulu, saat masa remaja, saya pernah menjadi seorang buaya (sekarang sudah taubat, suwer). Seingat saya, pernah dua kali selingkuh dari kekasih. Ketika saya berhasil menduakan pasangan saya, yang terjadi bukan disalahkan oleh orang-orang. Melainkan, dianggap keren, bahkan dianggap hebat karena saya bisa menutupi perselingkuhan cukup lama.

Bahkan, dulu di lingkaran pertemanan saya, pernah ada sebuah permainan kecil-kecilan. Barang siapa yang bisa menaklukkan lebih dari satu perempuan, kemudian bisa menjaga rahasia perselingkuhannya, akan mendapatkan hadiah. Entah hadiah berupa rokok, uang, bola, dan benda-benda sederhana lainnya. Memang bendanya sederhana, tetapi yang istimewa adalah pengakuan dari teman-temannya, lantaran nanti akan dianggap jantan.

Siapa yang tak tergiur dengan sebuah pengakuan? Kalau Kata Fromm, manusia modern selalu ingin mendapatkan pengakuan. Kalau sudah dicap jantan oleh orang lain, rasanya kayak berjalan di karpet merah.

Hasrat  untuk berselingkuh semakin menyala karena adanya kesepakatan sosial bahwa laki-laki mempunyai wewenang mengambil keputusan di sebuah hubungan. Prestise yang pada akhirnya sering disalah artikan oleh laki-laki. Kerap kali laki-laki memaknainya sebagai kebebasan bertindak pada sebuah hubungan, termasuk memilih mau punya perempuan berapa.

Saya jadi teringat kejadian di tahun 2018 atau 2019, agak lupa dengan tahunnya. Tetapi masih ingat dengan momennya. Ketika bermain di sebuah taman, tiba-tiba ada orang dewasa duduk di sebelah saya. Cukup lama mengobrol dengannya dan banyak topik yang diperbincangkan. Salah satunya, dia cerita tentang penyebab laki-laki selingkuh, meski sudah menikah.

Kata orang tadi, laki-laki selingkuh bukan hanya faktor seks dan ekonomi. Penyebab lainnya karena laki-laki merasa dirinya bebas memilih mau menetap pada satu perempuan atau lebih dari satu perempuan.

Baca Juga  Memahami Etika “Titip Oleh-Oleh”; Cara Sederhana Saling Menghargai

Setelah pulang dari sebuah taman. Saya tersadar kenapa laki-laki dewasa tadi bisa tiba-tiba duduk di sebelah. Ternyata, semesta punya sebuah kejutan tak terduga. Soalnya, saya sadar kalau di masa remaja juga pernah melakukan tindakan yang sama. Saat menduakan pasangan, tidak terlalu merasa bersalah. Ya, karena saya merasa punya kebebasan dalam sebuah hubungan untuk memilih mau pacaran sama berapa perempuan.

Duh Gusti… betapa hinanya diri hamba kala itu. Untung saja, sosiologi dan berbagai peristiwa hidup membuat saya berubah memandang sebuah relasi pasangan.

Kalau ditanya, apakah tindakan selingkuh laki-laki menyebalkan? Setelah belajar tentang gender, saya sekarang akan menjawab begitu menyebalkan. Meski menyebalkan, kalau dipikir ulang, laki-laki dan perempuan sebenarnya sama-sama menjadi korban. Perempuan menjadi korban karena diduakan hatinya. Sedangkan laki-laki menjadi korban dari wacana dan kesepakatan sosial masyarakat yang bersifat maskulin.

Artinya kasus perselingkuhan yang selama ini terjadi, sebenarnya menjadi lingkaran setan. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya membumikan pendidikan gender sejak sekolah dasar.

Karena pendidikan gender mengajarkan untuk melakukan transformasi kehidupan, serta membentuk relasi yang berkeadilan. Tujuannya, agar laki-laki tidak mudah terjebak pada wacana maskulinitas dan perempuan tidak selalu menjadi korban dari relasi yang “sakit”.

Dengan realitas yang ada, apakah masih pantas untuk mengatakan laki-laki tukang selingkuh? Bukankah masyarakat kita yang membuatnya menjadi tukang selingkuh?

Bagikan
Post a Comment