f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

The World of Married Couple’s

Oleh: Nur Imroatus. S*

Sepuluh tahun terakhir, saya sering mendapat curhatan dari banyak teman soal kehidupan rumah tangganya.

Macam-macam situasinya, mulai dari pasangan selingkuh, kekerasan fisik, pasangan posesif, dilarang bekerja, tidak dinafkahi, mertua terlalu ikut campur, dan sebagainya.

Selain mendengar, kadang saya sharing tentang solusi atau juga memberi motivasi.

Beberapa dari mereka langsung paham, tapi beberapa yang lainnya saya sampai harus mengulang-ulang hal prinsipil agar mereka tidak terjebak dalam situasi rumah tangga yang membuang-buang energi.

Beberapa bahkan meminta saya agar menulis buku tentang kehidupan rumah tangga.

Sempat terpikir, tapi lalu saya bingung sendiri karena menulis kehidupan rumah tangga beserta problematikanya pasti banyak sekali.

Yang ada malah saya dikira sok bener saja kehidupan rumah tangganya.

Sampai suatu ketika, drakor (drama Korea) “The World of Married Couples’s” viral.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menyukai drakor karena dramanya seringkali berlebihan. Kalaupun “terpaksa” menonton, biasanya saya pencet tombol mempercepat beberapa kali untuk segera tahu ujungnya seperti apa.

Akan tetapi, kali ini saya menonton drakor ini dengan tumakninah, tanpa adegan mempercepat. Saya seperti dapat inspirasi, “Nah, ini nih bahan tulisan banget”.

Seperti kita ketahui bersama, drakor ini ceritanya tentang kehidupan pasangan Lee Tae Oh (sutradara film) dan Ji Sun Woo (dokter dan direktur Rumah Sakit).

Si suami, Lee Tae Oh kemudian berselingkuh dengan Yeo Da Kyung (gadis muda anak pengusaha kaya).

Temanya standar, kebahagiaan rumah tangga yang hancur karena orang ketiga. Tema-tema seperti ini banyak kita jumpai di banyak film atau sinetron.

Bahkan, drakor ini sebenarnya adaptasi dari serial Doctor Foster. Jadi, saya sangat yakin drakor ini viral bukan karena tema ceritanya.

Senin, 13 April 2020, saya langsung menonton 6 episode. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah melihat drakor ini bersliwaran di beranda facebook. Begitu ada yang share link, saya klik dan menontonlah saya.

Sampai dengan menit terakhir episode pertama, saya sams=a sekali tidak memencet tombol mempercepat. Cepat sekali alurnya. Tidak bertele-tele dan nggak lebay.

Dalam satu episode saja, saya seperti sudah menonton 3 episode! Baru episode pertama, perselingkannya sudah terbongkar.

Baca Juga  Selamat Jalan, Mas!

Tentu saja penonton dibuat penasaran. Apa selanjutnya? Istrinya mengamuk menghajar selingkuhan? Minta cerai? Suaminya dibunuh? Atau malah bertahan demi sang anak?

Tepat di sini menariknya drakor ini. Ternyata, banyak penonton penasaran dengan cara bu dokter menghadapi masalahnya.

Mengapa? Karena sebagian besar penonton hanya punya dua solusi: bercerai atau bertahan. Bercerai artinya lepas dari suami toxic dan bertahan artinya menunjukan siapa juaranya. Akan tetapi, semua perempuan tahu, kedua solusi tersebut tidak menyenangkan dan tidak pernah menyenangkan.

Drakor ini menggambarkan bu dokter sebagai perempuan sukses, setia dan serius dengan keluarganya. Dia bekerja dan melayani suami serta anaknya dengan baik.

Tetapi dia sangat naif sampai-sampai tidak menyadari kalau suaminya selingkuh. Selama ini dia mengira suaminya sangat sayang padanya karena suaminya begitu perhatian dan romantis.

Teman-temannya juga menyenangkan dan mendukung. Di awal adegan bahkan dia mengatakan hidupnya sempurna, dikelilingi orang-orang yang sempurna.

Hingga kemudian bukti demi bukti perselingkuhan suaminya terungkap. Ia kaget bukan main saat menyaksikan ternyata semua teman-temanya, bahkan ibu mertuanya tahu kalau suaminya selingkuh.

Sangat mengaduk emosi. Bu dokter sakit hati bukan main karena merasa dikhianati bukan hanya oleh suaminya, tapi juga oleh semua orang di sekitarnya.

Maka dari itu, ketika pada episode kedua diceritakan bu dokter memilih bercerai, penonton dibuat sesaat kagum dengan keberaniannya, tapi lalu menyayangkan mengapa harus mengalah demi perempuan lain.

Tapi tak lama kembali dibuat mantap mendukung bu dokter cerai, ketika selingkuhan suaminya, Da Kyung, ternyata hamil. Semakin mantaplah bu dokter meminta cerai.

Tapi begitu bu dokter mengungkapkan semua bukti-bukti kepada suaminya, Tae Oh, si suami mengelak dan mengatakan hubungannya itu tidak serius. Dia berjanji akan mengakhiri hubungan itu dan mengatakan kalau bu dokterlah satu-satunya perempuan yang dicintai.

Bu dokter menguji keseriusan suaminya. Dia minta teman kerjanya, dokter Sul, untuk menelpon memberitahu kehamilan Da Kyung kepada suaminya.

Adegan itu dilakukan saat bu dokter masih berada di hadapan suaminya. Begitu suaminya tahu Da Kyung hamil, saat itu juga suaminya panik dan melupakan perkataan romantisnya kepada bu dokter.

Suaminya pamit pergi begitu saja dengan alasan ada pekerjaan. Ternyata, si suami menemui selingkuhannya dan meminta waktu dua bulan untuk memberesi pernikahannya dengan bu dokter.

Baca Juga  Covid-19 dan Ujian Kepasrahan

Penonton semakin geram dan mantap mendukung bu dokter cerai. Tapi bu dokter kesulitan karena si suami masih berbohong mengatakan tidak mau bercerai.

Di episode 3, bu dokter baru tahu kalau hartanya dihabiskan suaminya lewat keuangan perusahaan suaminya. Rumahnya juga ternyata digadaikan dan yang paling mengesalkan asuransi anaknya juga dihabiskan.

Cerai dalam kondisi begini, bu dokter bisa langsung miskin. Dia merasa semua kerja kerasnya siang-malam dipakai suaminya untuk hura-hura dengan selingkuhannya. Dia tidak terima dan melawan.

Dia datang ke kantor pengacara perceraian untuk konsultasi. Dia berusaha bisa mendapatkan kembali hartanya, hak asuh anak, dan menendang suami brengseknya keluar rumah.

Pengacara menyarankan agar dia mengumpulkan bukti fisik seperti video perzinahan dan pencurian suaminya pada hartanya. Ya, pada bagian ini dramanya jelas terlihat. Digambarkan bu dokter tidak semudah itu mendapatkannya.

Dia bahkan harus “tidur” dengan tetangganya yang yang menjadi konsultan keuangan perusahaan suaminya. Dia juga harus menghadapi teror pacar pasien yang menolongnya.

Tapi, drakor ini berhasil mengaduk-aduk emosi penonton saat semua bukti terkumpul, bu dokter melihat anaknya. Dia sempat ragu karena anak laki-laki satu-satunya itu begitu dekat dengan bapaknya.

Dia pun bersiasat membuat anaknya membenci bapaknya. Dia “menjebak” suaminya dengan situasi yang membuat suaminya percaya kalau anaknya terbunuh olehnya.

Suaminya marah bukan main, dan memukuli bu dokter sampai hampir mati. Saat situasi seperti itulah, si anak muncul. Melihat ibunya hampir mati dipukuli bapaknya seketika si anak membenci bapaknya.

Bapaknya dipenjara. Bu dokter menang. Perceraian diperoleh. Sesaat penonton dibuat senang karena istri setialah pemenangnya. Demikianlah episode ke enam berakhir.

Selesai? Oh belum. Sama dengan sebagian besar dialami pasangan bercerai, kutukan mantan yang marah akan menjadi teror. Diceritakan si mantan suami akhirnya diterima oleh keluarga Da Kyung. Mereka kemudian menikah dan Da Kyung melahirkan anak perempuan.

Mertuanya juga membiayai Tae Oh berkarir lagi dan sukses. Mereka kemudian kembali ke kampung halaman dan membeli rumah mewah di komplek termewah di sana.

Baca Juga  Mengapa Nabi Muhammad Pernah Bermuka Masam?

Episode-episode selanjutnya menunjukan tentang situasi “rebutan anak”. Anak stress dan jadi klepto.

Bu dokter tampak lemah di depan anaknya karena si anak sampai harus terapi psikiater. Dokter mengatakan situasi batin anak kacau karena mengalami situasi “merindukan dan membenci” sang ayah secara bersamaan.

Beberapa adegan juga menegaskan situasi tidak menyenangkan dialami sang anak di tengah situasi orang tua yang “berperang”.

Drama lainnya, dokter psikiaternya suka ke bu dokter. Mantan suami cemburu dan menutupinya dengan meminta bu dokter pergi jauh dari hidupnya. Tae Oh bahkan menyewa peneror untuk membuat bu dokter tidak betah tinggal di sana.

Tetapi bu dokter tahu dan lagi-lagi melawan. Da Kyung sebagai istri baru kesal karena Tae Oh lebih konsen kepada mantan dan keluarganya.

Keluarga Da Kyung juga ikut kesal dan membantu macam-macam sampai membuat bu dokter kehilangan jabatan di rumah sakit. Dan seterusnya… dan seterusnya.

Saya tidak tertarik mengikuti kelanjutannya. Semakin ke sini yang hendak ditunjukan drakor ini hal-hal yang bisa ditebak, seperti: keluarga hancur karena perselingkuhan, kehidupan perceraian yang rumit, anak korban perceraian, dan sebagainya yang kembali meragukan perlawanan dan lebih baik bertahan, karena yang ingin ditunjukan sekuat-kuatnya perempuan melawan ya babak belur juga.

Drakor ini bagi saya hanya menunjukan premis awal tadi: Baik bertahan maupun bercerai sama-sama tidak menyenangkan.

Segala jungkir balik bu dokter menjaga harga dirinya hanya akan dilihat “kelelahan yg gak sepadan dengan hasilnya”. Itulah mengapa, banyak orang setiap kali ada cerita perselingkuhan langsung emosi dan menghujat siapapun yang dianggap “perusak hubungan” karena saking tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan menghadapi masalah seperti ini. Bertahan tak mampu, berpisah menyakitkan. Padahal pernikahan bukan soal bertahan dan perceraian bukan soal menjukan siapa yang benar.

*Penulis adalah Peneliti Media dan Budaya, Saat ini menjadi Research and Training Manager PT Indonesia Indicator. Pernah bekerja sebagai pendamping Sekolah Perempuan untuk Perdamaian di AMAN Indonesia dan menjadi tim pelapor khusus Perempuan dan Kebebasan Beragama di Komnas Perempuan.

Bagikan
Post a Comment