Kartini di Masa Pandemi
Oleh: Ridia Septiria*
21 April merupakan salah satu hari yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Hari lahirnya seorang perempuan pejuang hak perempuan, kesetaraan gender dan inspirasi bagi gerakan nasionalisme di tanah air.
Dalam sejarah bangsa kita banyak mengenal nama-nama pahlawan perempuan, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutiah, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.
Mereka berjuang di daerah pada waktu dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Manado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan.
Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang lewat organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pahlawan pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.
Kartini sendiri adalah perempuan yang gagasan-gagasannya mencerahkan dan menjangkau kalangan yang lebih luas. Ia adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad dan perbuatannya.
Ide ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.
Berkat upayanya itu, kini kaum perempuan di negeri ini telah menikmati persamaan hak tersebut. Perempuan yang awalnya hanya dipandang sebagai makhluk yang lemah yang tugasnya hanya berada diseputar kehidupan keluarga semata.
Kini pernyataan tersebut telah terbantahkan dengan kenyataan bahwa sudah banyak perempuan-perempuan Indonesia yang mengisi posisi-posisi strategis di pemerintahan. Tak sedikit dari mereka yang membebaskan dirinya sebagai seorang pebisnis yang menuntut aktifitas dan interaksi yang lebih luas diluar rumah.
Bahkan ada yang sampai ke luar negeri dalam rangka menempuh pendidikan yang lebih baik, yang mana sebelumnya perempuan tidak mendapatkan hak tersebut.
Kartini di masa Covid-19
Indonesia sedang gempar dengan adanya teror wabah yang cukup menyita perhatian. Tak hanya Indonesia, wabah yang telah menyerang sebagian besar negara di dunia ini berhasil melumpuhkan berbagai sektor pergerakan manusia.
Di Indonesia sendiri per 21 April 2020 ini terdapat 7.135 jiwa positif covid-19 dan sebanyak 616 jiwa meninggal dunia dan 842 orang dinyatakan sembuh.
Di lansir dari laman web www.cnnindonesia.com juru bicara pemerintah khusus penanganan covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi persnya mengatakan jumlah kasus akumulasi 7.135 atau naik 375 dari hari sebelumnya.
Bahkan Indonesia merupakan negara dengan kasus terbanyak positif corona se ASEAN per 18 April 2020 (www.wartakotalive.com). Sungguh fakta yang cukup mencengangkan bukan?.
Kenyataan tersebut membuat pemerintah Indonesia harus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menerapkan berbagai kebijakan dalam rangka meminimalisir kasus penyebaran virus tersebut.
Mulai dari diberlakukannya Work From Home (WFH), Home Learning, dan sejenisnya. Akibatnya banyak aktifitas sosial yang terbatasi karena kasus ini.
Disaat semua aktifitas manusia mulai dari pekerjaan, pendidikan dan sejenisnya dibatasi hanya boleh dikerjakan dirumah, ada satu aktifitas yang menuntut untuk tetap dilaksanakan diluar, salah satunya adalah tim medis.
Tim medis sebagai garda terdepan dalam penanganan covid-19 tidak bisa diremehkan begitu saja, mengingat sebagian besar tim yang bertugas tersebut adalah kaum perempuan.
Ketika perempuan perempuan lain bisa beraktifitas dirumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga, Kartini berseragam ini malah menghabiskan waktunya berkutat menghadapi virus yang cukup ditakuti.
Rela berjauhan dengan keluarga tercinta berbulan-bulan lamanya demi menolong jiwa manusia lain dari ancaman virus berukuran nano ini. Hingga sengaja membuat tenda didepan rumahnya demi bila berdekatan dengan keluarga, tapi mengantisipasi agar keluarganya tidak tertular.
Tak sedikit diberitakan pahlawan kemanusiaan satu ini berjuang dengan keterbatasan. Mulai dari fisik yang lemah hingga ketersediaan APD (Alat Pelindung Diri) yang kurang memadai. Keterbatasan tersebut bahkan membuat mereka semakin tak berdaya.
Sudah banyak tim medis yang terpapar virus ini hingga tidak sedikit pula yang gugur karena perjuangan ini. Jika sebelumnya tim medis, dokter, perawat dan sejenisnya di gadang-gadang menempati posisi yang aman dalam artian pekerjaan yang cukup bergengsi dengan gaji yang lumayan cukup. Maka disaat seperti ini mereka dituntut untuk memenuhi janji profesinya.
Namun ironisnya, perjuangan tersebut tidak diimbangi dengan perlakuan warga atau rakyat yang menganggap tim medis sebagai pembawa virus.
Di beberapa daerah pernah kita saksikan ada perawat yang di tolak jenazahnya untuk dimakamkan di lokasi tersebut dengan alasan takut menular pada warga sekitar.
Ada pula dokter yang tidak diterima keluarganya, dan banyak kasus sejenis yang tak kalah menghebohkan. Mereka lah kartini kartini di masa wabah yang perjuangannya kadang tak tampak, namun hasilnya cukup dirasakan.
Kartini-kartini yang seharusnya mendapatkan dukungan, bukan malah dikucilkan dan diasingkan.
Dari sinilah harusnya hari Kartini tak hanya sebatas kebaya dan ceremony. Setiap kali hari Kartini diperingati, yang dilakukan hanya itu itu saja. Kita disibukkan dengan berbagai acara, repot berbusana tradisional dan sederet upacara lain.
Sebagian berefleksi dengan forum-forum diskusi atau seminar-seminar, tapi sesudahnya cenderung abai. Maka sudah saatnya kita tumbuhkan jiwa jiwa Kartini di keseharian perempuan-perempuan Indonesia.
*Penulis adalah Kade Nasyiah, Departemen Kominfo PWNA Jawa Timur.
