Kartini, Antropolog Perempuan Pertama Jawa
Oleh: Fauzan Anwar Sandiah
Raden Ajeng Kartini (1879-1904) perempuan muda Jawa yang dikenal karena tulisan-tulisan berpengaruhnya selama masa pemerintah kolonial Belanda. Kartini adalah ikon perempuan, feminis dan figur nasionalis. Bahkan setelah Anne Frank, dia sangat dikenal sebagai penulis perempuan pengguna Bahasa Belanda di dunia (Bijl & Chin, 2020).
Kartini selama ini dikenal sebagai penulis surat-surat yang diseleksi oleh ayahnya sendiri, berjudul Door duisternis tot licht (Habis Gelap terbitlah Terang). Kumpulan surat-surat ini terbit pada tahun 1911, dan diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan judul Letters of a Javanese Princess tahun 1920.
Kartini adalah penulis produktif, bahkan untuk ukuran masa kini. Dia menulis surat, prosa, hingga artikel untuk koran dan karangan ilmiah. Kartini memulai debutnya sebagai penulis pada usia 16 tahun, dan meski ia meninggal terlalu dini pada usia 25 tahun, ia sudah menjadi bagian dari tradisi kesarjanaan Belanda modern (Kuitenbrouwer, 2014). Dia menjadi satu-satunya penulis perempuan termuda hingga saat ini yang pernah dipublikasikan di Brijdragen tot de taal, land en volkenkunde atau Journal of Humanities and Social Sciences of Southeast Asia yang diterbitkan Brill.
Batin Kartini; “Bekerja untuk Keabadian”
Di luar gambaran sederhana Kartini sebagai “pembela kaumnya”, dia adalah sosok yang gelisah, soliter dan ugahari. Sejak lahir, Kartini tidak pernah mengenal dengan betul siapa ibunya. Satu-satunya cinta dalam hidup intimnya adalah ayahnya sendiri. Surat-surat Kartini menjelaskan itu semua. Pada tanggal 23 Agustus 1900, ia menyurati kawan baiknya bernama Estella Zeehandelar. Kartini menulis,
“Aku pandang menjadi kebahagiaan hidup, bila dapat dan boleh menyerahkan diri seluruhnya buat pekerjaan ini. Namun lebih baik daripada itu semua ialah Ayahku. Stella, katakanlah aku pengecut, goyah, tapi aku tak dapat berbuat lain; kalau Ayah melarang aku berusaha buat itu, betapapun meraung dan merintih hatiku, aku akan terima larangan itu dengan tawakal!”
“Aku mengarang, melukis, dan melakukan semuanya, karena Ayah suka akan hal itu. Aku akan bekerja keras dan berusaha sebaik-baiknya, membuat kebajikan-kebajikan, karena semua itu menyukakan hatinya (..) Ayahku begitu cintanya kepadaku! Aku akan sangat berdukacita sekiranya Ayah menentang cita-cita kebebasanku, tapi akan lebih bersedih hati lagi, pabila hasrat paling menyala itu terpenuhi, tapi dalam pada itu kehilangan cinta Ayahku.”
Pembaca surat-suratnya hari ini barangkali bisa merasakan gejolak besar yang melanda Kartini. Ayahnya adalah simbol feodal, “adat-istiadat” dan konservatisme yang selama ini “dilawan” oleh Kartini. Sejak kecil, sebagaimana gambaran Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (20120), Kartini sudah memperlihatkan bakat kebijaksanaan yang luas. Sejak masa kanak-kanak hingga remaja yang singkat, dia sudah paham betul apa arti pengorbanan dan kekuatan jiwa. Bahkan jika kita menimbang usianya yang sangat muda, kebijaksanaannya barangkali menjelaskan mengapa sosok Kartini ini sangatlah mengesankan.
Karya-karya Kartini, baik lukisan dan tulisan, menyiratkan kedalaman jiwa yang sangat luas. Pada usia yang sangat muda, dia sudah menanggung beban sebagai seorang anak yang harus berjarak dengan ibunya karena sebab feodalisme keluarga ayahnya, sekaligus meletakkan beban rakyat bawah dalam gugatan-gugatan aksaranya. Bukan hal yang mudah, karena Kartini begitu menghormati tradisi keningratan ayahnya, tapi tidak dapat melepaskan diri dari beban intelektual dan kemanusiaan yang telah dicapainya. Jiwa Kartini yang masih muda itu telah berhasil mengembangkan seni dan etika hidup ugahari. Pada tahun 1901, Kartini menulis surat untuk Estella,
“Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadian..”
Sebagai Antropolog
Karangan pertama antropologi Kartini berjudul Het Huwelijk bij de Kodja’s (Adat Perkawinan Golongan Kodja di Jepara) yang terbit tanggal 1 Januari 1899. Artikel ini tidak menyebutkan siapa penulisnya, tapi mencantumkan keterangan “Ingezonden door Mas Adipati Ario Sosro Ningrat, regent van Jepara”. Ayah Kartini mengirim artikel ini dengan surat pengantar yang berbunyi, “bersama dengan surat ini, saya ajukan padamu suatu deskripsi penyelenggaraan perkawinan adat Kodja, yang ditulis oleh salah satu dari anak perempuanku” (dikutip dari Kuitenbrouwer, 2014: 94).
Menurut Kartini, artikel ini sudah ditulisnya sekitar tahun 1895/1896. Kartini tidak pernah bermaksud mempublikasikan karangannya tersebut. Menurut Pramoedya (2012), tampaknya Kartini tidak terlalu bersemangat dengan karyanya tersebut. Sebab, jelas bagi Kartini, andai tulisannya mengancam diri ayahandanya selaku bupati Jepara, maka Kartini memilih mengorbankan karyanya. Kartini tidak pernah meminta pemakluman atas sikap dilematis yang terkadang menghampiri bakat luar biasanya ini.
Artikel adat pernikahan Kodja bukan satu-satunya yang pernah Kartini tulis. Saya menduga, setidaknya ada kemungkinan dia telah menulis lebih dari satu artikel. Penelusuran sejarah dan arsip mengenai Kartini yang diungkap oleh Pramoedya, menunjukkan kemungkinan tersebut.
Pramoedya menyebutkan bahwa Kartini pernah menulis satu karangan antropologi lagi mengenai “perkawinan di kalangan pembesar Pribumi”. Karangan itu kira-kira ditulis satu tahun sebelum Kartini meninggal. Pada tahun 1903, adik Kartini bernama Kardinah menikah. Proses pernikahan adiknya menjadi sumber penulisan artikel antropologi kedua Kartini. Sayang, Kartini tidak pernah mengizinkan penerbitan artikel ini.
Masih mengutip Pramoedya, sebuah majalah terbitan Nederland berkali-kali meminta izin Kartini untuk menerbitkannya. Dia keberatan karena namanya pastilah akan tercantum sebagai penulis, dan kalaupun penerbit akan membuang nama penulis, sudah pasti orang akan segera tahu siapa penulis sesungguhnya karangan tersebut.
Saya dapat menduga-duga alasan sesungguhnya penolakan Kartini adalah karena artikel itu berkaitan dengan nama baik ayahnya. Barangkali, Kartini menganggap, artikel itu tidak layak dipublikasikan. Dugaan ini mengacu pada kenyataan bahwa Kartini menganggap bahwa sang ayahlah yang harus memberi izin atas semua publikasi karya-karyanya. Tapi jika karangan itu berpotensi melukai hati ayahnya, maka dia akan mengurungkan niat.
Kepengarangan Anti-imperialis
Benedict Anderson dalam Di Bawah Tiga Bendera (2015) menjelaskan hal ikhwal unik keterlibatan figur-figur anti-kolonial dan ketertarikan mereka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Kartini dalam sudut pandang ini merupakan perpaduan natural. Dia tumbuh sebagai perempuan muda yang cerdas, mawas diri dan gulana, tapi dengan bakat kepenulisan yang belum terbayangkan saat itu. Sepanjang karir kepenulisan Kartini, dia memang tidak pernah menulis dengan Bahasa Jawa atau Melayu. Banyak kaum pribumi mempertanyakan sikap berbahasa. Tapi sebagaimana dijelaskan oleh Pramoedya, Kartini menulis untuk subjek pembaca spesifik. Dia menyasar pembaca publik Belanda dan pribumi yang terdidik dengan Bahasa Belanda. Keinginannya jelas, dia hendak mengutarakan suatu sudut pandang anti-imperialis dalam karya-karyanya. Sebagai perempuan dan pribumi, Kartini percaya diri menggunakan Bahasa negara koloni.
Selain itu, Kartini merupakan bagian dari perkembangan “sains pribumi” yang mendebat keangkuhan rasial pengetahuan Eropa. Sama seperti gerakan anti-kolonial dan anti-imperialis yang berkembang di negara-negara jajahan Spanyol. Dalam hal ini Kartini dapat kita sejajarkan dengan ilmuan anti-kolonial asal Filipina bernama Isabelo de los Reyes yang juga mengembangkan ilmu Foklor. Mereka punya kemiripan gagasan. Melalui ilmu pengetahuan mereka menyibak ketimpangan, penindasan dan kekerasan sebagai kemunduran zaman.
