Liburan Memang Hak Anak, Tapi Kesehatan Anak Tetap Harus Diperhatikan
Liburan sekolah yang paling ditunggu-tunggu telah tiba. Biasanya liburan ini sekitar 3 atau 4 minggu pada pertengahan bulan Juni hingga bulan Juli tiap tahunnya. Bagaikan agenda rutin, banyak keluarga berlibur di saat liburan ini. Apalagi di era gencarnya media sosial, yang mem-posting tempat wisata atau penginapan viral, seakan membuat kita penasaran dan ingin mengunjungi juga.
Banyak orang yang sangat menantikan liburan terutama anak-anak, karena liburan itu seakan keluar dari rutinitas sehari-hari. Manfaat liburan dapat mengurangi stres, mendapatkan pengalaman baru, seperti merasakan kebebasan, serta meningkatkan kesehatan mental. Apalagi jika liburan dengan keluarga, yang merupakan orang terdekat, akan meningkatkan hubungan, komunikasi, dan kebersamaan keluarga, dan juga membentuk memori yang akan diingat seumur hidup. Bagi anak-anak, liburan juga bisa memberikan ketenangan, membuat lebih rileks, dan pastinya juga senang karena bersama keluarga.
Namun anak-anak ini berbeda dengan orang dewasa. Tubuh mereka lebih kecil dan lebih lemah daripada orang dewasa. Pada saat berlibur, melakukan perjalanan bisa menggunakan moda transportasi mobil, kereta, bis, atau pesawat, yang merupakan ruangan tertutup dan biasanya menggunakan air conditioner atau AC di dalamnya. Sirkulasi udara pada ruang tertutup dan ventilasi terbatas ini berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit infeksius, seperti penyakit infeksi saluran pernafasan.
Perjalanan yang jauh dengan ruang terbatas juga membuat anak tidak bisa leluasa bergerak. Apalagi jika waktu perjalanan cukup panjang hingga melewatkan jam makan. Makan dalam perjalanan dan liburan juga berisiko terjangkit penyakit infeksi pencernaan, karena kebersihan dalam menyiapkan makanan dan kebersihan tangan saat makan tidak terjamin. Sering kali juga terdapat keterbatasan pilihan makanan saat liburan membuat anak lebih banyak makan camilan atau fast food. Selain itu, durasi perjalanan dan kegiatan liburan yang mungkin cukup padat dan intens, bisa membuat kelelahan pada anak. Akibatnya, jam tidur juga bisa berubah tidak sesuai dengan kebiasaan di rumah. Di tempat rekreasi pun sering kali sangat ramai dan padat pengunjung karena bertepatan dengan musim liburan.
Cuaca dan suhu juga mempengaruhi kondisi anak. Menurut BMKG, bulan Juni hingga Juli di Indonesia ini didominasi musim kemarau di mana di beberapa wilayah seperti Kalimantan bisa sekitar 35 – 35,5° C. Kondisi cuaca panas ditambah aktivitas fisik bisa membuat dehidrasi. Ada juga tren liburan akhir-akhir ini adalah staycation atau liburan dengan menetap atau menginap di suatu tempat seperti hotel, villa, atau guest house. Pada anak-anak, menginap di tempat baru memerlukan adaptasi lebih lama daripada orang dewasa.
Berbagai hal di atas dapat mengakibatkan anak merasa tidak nyaman. Pada anak usia kecil, bisa terjadi tantrum. Tantrum merupakan gejala yang ditunjukkan anak yang sedang bergumul dengan emosi yang sulit atau tidak bisa mereka atur. Emosi utama yang dirasakan adalah kemarahan yang menyebabkan anak-anak kehilangan kendali yang dilepaskan dalam versi anak-anak. Biasanya terjadi pada ada anak berusia 12 hingga 48 bulan dengan ditandainya sikap perilaku destruktif ataupun tindakan verbal (menangis, berteriak, merengek) yang berlebihan secara berulang. Selain itu, kelelahan pada anak juga dapat menurunkan daya tahan tubuh anak, sehingga anak dapat sakit saat liburan atau setelah liburan. Penyakit-penyakit yang sering dialami anak-anak saat perjalanan dan liburan antara lain: penyakit kulit (gigitan hewan/serangga; sunburn), penyakit pencernaan (nyeri perut; diare; sembelit), penyakit pernafasan, dan penyakit demam sistemik.
Liburan Aman, Sehat dan Menyenagkan
Apa yang bisa orang tua lakukan untuk membuat liburan tetap aman, sehat dan menyenangkan bagi anak? Berikut hal-hal yang bisa dilakukan:
- Mengecek kembali vaksin anak yang sudah didapatkan.
Pastikan bahwa anak telah mendapatkan minimal vaksin dasar yang diwajibkan. Vaksin Influenza, MMR (Measles mumps rubella), dan hepatitis A bisa juga diberikan sebagai tambahan. Untuk perjalanan keluar negeri, mungkin bisa diberikan tambahan vaksin yang disesuaikan dengan penyakit endemik atau penyakit yang umum terjadi pada negara tujuan. - Membawa obat-obatan untuk penyakit umum (seperti demam, nyeri perut, diare), dan obat yang rutin dikonsumsi sesuai penyakit yang dimiliki. Jangan lupa juga untuk membawa hand sanitizer.
- Membuat rencana perjalanan atau Itenerary.
Persiapkan jadwal perjalanan, akomodasi kendaraan dan penginapan, hingga pilihan makanan bergizi pada restoran yang dituju. Tentunya, disesuaikan dengan kondisi anak. Misalnya, jika perjalanan cukup jauh dengan kendaraan umum, disarankan memilih jadwal malam hari atau disesuaikan dengan jam tidur anak. Perhatikan juga kondisi cuaca daerah yang dituju dan jam ramai tempat wisata yang dikunjungi. - Mempersiapkan asuransi perjalanan, terutama jika melakukan perjalanan ke luar negeri
- Mempersiapkan baju yang nyaman disesuaikan dengan cuaca dan suhu daerah yang dikunjungi
- Membawa makanan camilan sehat, air putih yang cukup dan mainan yang mudah dibawa agar anak tidak bosan saat perjalanan.
- Untuk anak yang lebih besar, perlu diberikan penjelasan tentang rencana liburan, tempat yang dikunjungi, keamanan diri dari orang asing, serta risiko-risiko kegiatan rekreasi yang mungkin bisa berbahaya.
Persiapan hingga perjalanan liburan dengan anak-anak mungkin terlihat melelahkan karena banyak yang perlu dilakukan. Tetapi, melihat anak nyaman, aman, sehat, dan senang menikmati liburan akan membuat orang tua pun nyaman. Liburan yang menyenangkan bagi anak akan selalu diingat dan menjadi memori yang diingat seumur hidupnya.
Sumber:
- Mirehie, M., & Sharayevska, I. 2022. Family travel, positive psychology and well-being. In T. V. Singh, R. Butler, & D. A. Fennell (Eds.), Tourism as a Pathway to Hope and Happiness. Channel View Publications.
- M Lang, Canadian Paediatric Society, Community Paediatrics Committee, Air travel and children’s health issues, Paediatrics & Child Health, Volume 12, Issue 1, January 2007, Pages 45–50, https://doi.org/10.1093/pch/12.1.45
- Lestari, W.A., Putri, C.E., Sugiarti R., & Suhariadi F. 2021. Pengelolaan Perilaku Tantrum Oleh Ibu Terhadap Anak Usia 12-48 Bulan. Proyeksi (Jurnal Unissula), Vol. 16 (1) 2021, 208-219
- Weinberg, M., & Hickey, P.W. 2026. Traveling Safely with Infants and Children. CDC Yellow Book: Health Information for International Travel. https://www.cdc.gov/yellow-book/hcp/family-travel/traveling-safely-with-infants-and-children.html
Dokter – alumni FK UMM, ibu dari 2 anak, tinggal di kota Malang.
