f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
maskulinitas laki-laki

Kartini dan Maskulinitas yang Kikuk

Menjadi laki-laki memang berat. Memiliki tuntutan sosial yang tinggi, hidup dalam bayang-bayang stereotipe maskulinitas yang tidak semua orang bisa memaklumi. Terkadang laki-laki juga terperangkap dalam perilaku toxic masculine sehingga kikuk untuk dapat keluar dari zona tersebut. Padahal bisa, tapi berat.

Kekikukan ini terasa makin nyata saat kita melihat keriuhan kasus di FH UI dan ITB belakangan ini. Saat melihat tangkapan layar grup WhatsApp yang berisi objektifikasi perempuan atau mendengar lagu “tradisi” yang merendahkan martabat, banyak dari kita yang sebenarnya merasa nggak nyaman. Tapi, karena tuntutan setia kawan dan ketakutan dibilang nggak asik, kita memilih diam. Kita merasa sudah cukup menjadi orang baik hanya dengan tidak ikut-ikutan melecehkan. Padahal, diam kita justru menjadi bahan bakar bagi perilaku tersebut.

Situasi kikuk ini sering kali berakar dari apa yang disebut Locker Room Talk. Ini adalah kondisi di mana laki-laki merasa punya ruang aman seperti grup chat atau tongkrongan untuk bicara sembarangan tentang perempuan demi membangun keakraban. Di sini, nilai seorang laki-laki sering kali diukur dari seberapa berani atau seberapa lucu candaan seksisnya. Masalahnya, banyak mahasiswa di kampus ternama yang masih terjebak di zona ini.

Data Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2024 mencatat kenaikan drastis pada kekerasan berbasis gender elektronik. Ini membuktikan bahwa kepintaran akademik ternyata nggak otomatis membuat seseorang paham cara menghargai orang lain di ruang digital.

Kenapa kita susah sekali untuk menegur teman sendiri? Di sinilah Bystander Effect bekerja. Saat ada pelecehan di grup yang isinya puluhan orang, kita berpikir Ah pasti nanti ada yang negur. Padahal, secara psikologis, setiap kali kita diam atau cuma memberi emoji ketawa formalitas, si pelaku merasa dapat panggung. Dia merasa tindakannya divalidasi oleh lingkungannya sendiri.

Baca Juga  Kartini: Dari Feminisme, Kemanusiaan, Kebudayaan, Hingga Pendidikan

Inilah yang membangun Piramida Kekerasan Seksual. Kekerasan fisik yang berat tidak terjadi tiba-tiba, ia bermula dari candaan seksis di grup WA yang dibiarkan terus-menerus sampai dianggap sebagai hal yang wajar. Kita perlu redefinisi standar laki-laki baik. Menjadi laki-laki yang tidak memukul atau tidak melecehkan itu bukan prestasi. Itu standar minimum menjadi manusia. Prestasi yang sebenarnya adalah saat kita berani menjadi Active Bystander (Saksi Aktif).

Menjadi saksi aktif tidak harus dengan cara yang kaku. Bisa dimulai dengan hal kecil, saat obrolan mulai merendahkan perempuan, coba alihkan topik secara halus. Kalau tidak enak menegur di grup, gunakan Private Chat (PC) kepada teman tersebut. Bilang kalau candaannya sudah kelewat batas. Atau yang paling simpel, jangan berikan respon apa pun. Biarkan chat pelecehan itu garing tanpa panggung.

Kita harus sadar bahwa sebagai laki-laki, suara yang seringkali didengar lebih serius oleh sesama laki-laki, inilah sebuah privilege. Jika kita diam, itu adalah bagian dari masalah. Kampus-kampus besar sudah punya aturan lewat Satgas PPKS, tapi aturan itu cuma kertas mati kalau kita sebagai mahasiswa masih merasa kikuk untuk membela apa yang benar. Keadilan tidak boleh menunggu viral. Rasa malu tidak boleh muncul hanya saat sudah masuk berita.

Apalagi di momen Hari Kartini seperti sekarang, kita sering kali terjebak pada ritual simbolis; memakai kebaya atau sekadar ucapan selamat di media sosial. Kita lupa bahwa inti perjuangan Kartini adalah meruntuhkan tembok sistemik yang menghalangi perempuan untuk berdaya. Hari ini, tembok itu bernama normalisasi pelecehan yang kita biarkan tumbuh di grup-grup WhatsApp kita.

Menghargai semangat Kartini bukan berarti kita sedang membantu perempuan, tapi kita sedang membantu diri kita sendiri untuk menjadi manusia yang lebih bermartabat. Kita ingin membangun dunia di mana saudara perempuan, teman, dan kelak anak-anak kita bisa berjalan tanpa rasa takut baik di dunia nyata maupun digital.

Baca Juga  Merestorasi Dakwah dalam Konstruksi Paham Moderat

Jika hari ini di antara kita masih berada di grup chat yang merendahkan perempuan, kita punya dua pilihan, menegur mereka atau keluar dari sana. Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat kekejaman orang-orang jahat, tetapi juga diamnya orang-orang baik. Menjadi tidak bersalah itu mudah, namun menjadi berani untuk menghentikan yang salah, itulah perjuangan Kartini yang sesungguhnya harus kita teruskan hari ini. Karena jika laki-lakinya tidak ikut berubah, emansipasi hanyalah perayaan tanpa makna.

Bagikan
Post a Comment