f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
imajinasi anak gambar

Anak-Anak Dilarang Berimajinasi

Anakku suka menggambar. Gambarannya selalu punya makna. Ada gambar ayah ibu dan anak-anak. Katanya itu keluarganya. Meski aku tak melihat gambar manusia, tapi entah kenapa gambaran itu memberi kehangatan. Meski aku tak begitupaham seni, namun aku mengendus nafas seni di setiap goresan krayonnya. Suatu hari kuajak ia ke pameran seni. Wajahnya tampak bungah. Sesekali mengulas lukisan dan patung yang dipamerkan. Keluar dari sana ia bertekad. Aku mau terus melukis, Ma. Katanya.

Segera kuhubungi sanggar seni. Kufotokan semua karya anakku. Kebanyakan di atas tembok. Pelukis itu mengapresiasi. Anakku berbakat, katanya. Sayangnya jadwal di sanggar tak kunjung cocok dengan jadwal mingguanku. Urunglah kuantar ke sanggar. Selang beberapa waktu, sebuah lembaga pendidikan menawari kelas seni lukis. Waktu dan tempatnya cocok. Giranglah ia. Kuantar ia ke kelas dengan peralatan lengkap. Senyumnya seperti senyumku menyambut gajian.

Sejam kemudian ia keluar kelas dengan wajah berbeda. Ia tak tau alasannya. Namun saat kulihat buku gambarnya, ada tulisan Arab di tengah gambar pemandangan. Aku tahu ini bukan gambaran dari hatinya. Pantas saja di papan tulis kelas tadi kutemukan kertas bertuliskan salah satu nama baik Allah. Ternyata semua siswa dengan bakat seni itu diminta menjiplak gambaran komputer. Buru-buru kusimpulkan bahwa sanggar lukis di sini tak mengembangkan bakat seni. Hanya mencetak pikiran orang dewasa dengan tangan anak-anak.

Rasanya penting membekali guru dengan materi psikologi perkembangan. Sebagaimana yang pernah kudengar di ruang kuliah, Piaget bilang bahwa anak usia 2-7 tahun sedang dalam fase pra operasional. Pikirannya penuh imajinasi. Ia sangat egosentris. Memandang sesuatu dari sudut pandang dirinya. Tak bisa membayangkan apa yang dipikirkan orang lain. Sayangnya, kebanyakan guru memilih untuk mendewasakan anak sebelum waktunya. Ia tak diperbolehkan berimajinasi. Diminta menggambar pemandangan dengan gunung, sawah, dan matahari. Bukanlah haram menggambar pemandangan dengan tiga komponen itu. Tapi aku tahu, anakku tak akan menggambarnya jika tak disuruh.

Baca Juga  Anak-Anak di Masjid, Sebenarnya Siapa yang Berisik?

Aku tidak sedang mempersalahkan guru itu. Aku ingin menerawang lebih jauh apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Pertama, bisa jadi guru itu tahu bahwa kelas seni seharusnya mengembangkan keunikan setiap individu anak, namun ia dipaksa keadaan untuk mengajar puluhan anak dengan satu guru. Kedua, guru itu pelukis hebat, namun mungkin idelismenya telah terbentur dengan realita. Bahwa kesenian tak begitu dihargai dengan materi. Jadinya ya ngajar sebanyak-banyaknya siswa. Meski ia tahu konsekuensi banyak siswa adalah keberhasilan target belajar anak akan semakin rendah. Ketiga, lembaga mengadakan kelas lukis ini sebagai formalitas saja. Tak memberi target apapun. Diadakannya hanya basa-basi belaka. Pelaksanaanya ya sekenanya.

Apa yang terjadi di sana persis dengan keadaan pendidikan kita hari ini. Pendidikan kita lebih sering sibuk dengan formalitas. Yang penting ada kelas, guru, murid, serta lembar presensi, maka proses belajar dianggap sudah berjalan. Padahal, kalau kita mau jujur, isi pembelajaran samasekali tak menggali potensi anak. Apalagi menumbuhkan imajinasi.

Apa yang kulihat di kelas seni anakku itu persis dengan apa yang pernah dikritik Paulo Freire. Ia menyebutnya sebagai “pendidikan gaya bank”. Siswa tak ubahnya celengan kosong. Guru bertugas “menyetor” pengetahuan ke kepala anak. Anak tidak diajak berpikir, tidak diajak berdialog, hanya diminta menerima dan menyalin. Apa bedanya dengan anak-anak yang disuruh menjiplak gambar komputer tadi?

Freire menekankan bahwa pendidikan seharusnya dialogis dan problem-posing. Guru dan siswa sama-sama subjek, duduk setara, membicarakan persoalan nyata hidupnya, lalu bersama-sama mencari makna. Setiap anak bukan wadah kosong, tetapi manusia yang membawa pengalaman dan imajinasi. Maka proses belajar yang ideal adalah ketika anak diperkenankan bertanya, berkreasi, bahkan diizinkan untuk keliru. Di situlah pendidikan memerdekakan, atau dalam istilah Freire, melahirkan conscientization-kesadaran kritis.

Baca Juga  Teknologi Menyerang Mentalitas

Ki Hadjar Dewantara sebenarnya sudah lebih dulu menegaskan hal yang serupa. Pendidikan itu menuntun segala kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Menuntun bukan mendikte. Menuntun berarti memberi jalan pada imajinasi anak, bukan mengikatnya pada pola seragam.

Memang, anak-anak tetap perlu diarahkan. Kalau dibiarkan bebas sesukanya, nanti hasilnya berantakan. Justru dengan menyeragamkan, anak belajar disiplin dan menghargai aturan. Namun, ketahuilah bahwa pendidikan yang hanya menekankan ketertiban akan melahirkan murid yang patuh tapi pasif. Mereka memang rapi, tapi takut bertanya, parahnya tak terbiasa berinisiatif. Padahal dunia hari ini butuh generasi yang bisa memecahkan masalah baru, bukan sekadar mengikuti aturan lama.

Dengan kata lain, argumen bahwa “meniru lebih baik demi ketertiban” hanyalah dalih jangka pendek. Ia mungkin membuat kelas tampak tenang, tapi dalam jangka panjang justru mematikan potensi anak. Pendidikan yang sejati harus berani mengambil jalan lebih sulit. Memberi ruang pada kebebasan anak, sambil tetap menuntun mereka menemukan jalan terbaiknya.

Bagikan
Post a Comment