f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketidakpatuhan pasangan

Ketidakpatuhan pada Pasangan Tidak Selalu Buruk

Dalam relasi pasangan, kepatuhan dianggap sebagai sikap yang mengagumkan dan positif. Kebalikannya, ketidakpatuhan dianggap sebagai sikap yang memuakkan dan buruk. Cara pandang yang terjadi karena masyarakat meromantisisasi kepatuhan sebagai kebijaksanaan dan kepekaan individu kepada pasangannya.

Masyarakat sepertinya lupa bahwa kepatuhan dalam relasi pasangan membawa dampak buruk dalam aspek sosial dan aspek kepribadian. Dalam aspek sosial, kepatuhan dapat merusak relasi sosial. Kerusakan yang biasa terjadi karena ego individu yang tak mau pasangannya berhubungan dengan banyak orang. Misalnya yang kerap terjadi, larangan agar pasangannya tidak mengikuti organisasi.

Dalam aspek kepribadian, terjadi sebagai efek jangka panjang dari sikap kepatuhan. Ketika kita terus mematuhi apa yang diinginkan pasangan, efeknya akan membuat hasrat dalam diri akan terus dipendam. Hasrat yang terus dipendam menyebabkan diri yang terasing, ia tidak tahu bagaimana arah tujuan hidupnya.

Itu sebabnya, Erich Fromm, salah satu tokoh Mazhab Frankfurt, mengajak kita untuk bersikap tidak patuh. Di dalam buku Perihal Ketidakpatuhan, Erich Fromm “mencambuk” kemapanan kesadaran masyarakat. Di awal bukunya, Erich Fromm dengan tegas mengatakan bahwa ketidakpatuhan bukan sikap buruk. Justru ketidakpatuhan yang menyebabkan kehidupan ini berjalan dengan penuh warna.

Argumen ketidakpatuhan yang dikatakan Erich Fromm tidak berlebihan. Contoh kecilnya adalah golongan muda yang menolak keinginan golongan tua agar proklamasi kemerdekaan Indonesia menunggu janji Jepang melalui PPKI. Golongan muda mendesak golongan tua agar proklamasi kemerdekaan harus disegerakan. Sikap penolakan golongan muda, pada akhirnya bisa membawa dampak besar bagi jalannya hidup bangsa Indonesia.

Sama halnya dalam pasangan, saya kerap menemukan sepasang kekasih yang relasinya terus bertumbuh ketika di dalamnya ada ketidakpatuhan. Karena di balik ketidakpatuhan dalam relasi pasangan, ada nilai-nilai baru yang ditemukan.

Baca Juga  Pentingnya Keterwakilan Perempuan di Ruang Publik

Berbeda dengan sepasang kekasih yang hidupnya penuh dengan kepatuhan. Yang saya lihat, bukan nilai-nilai baru yang didapatkan, justru kehidupan yang melempem dan penuh tekanan. Kondisi tersebut terjadi karena sesama pasangan terus menyuapi egonya sehingga tidak ada perjalanan baru yang menambah nilai kehidupan.

Bayangkan ketika di dalam relasi pasangan, setiap individu melarang pasangannya untuk ikut organisasi. Maka, setiap individu di dalamnya tidak memahami cara manajemen waktu, mengatasi konflik, dan menjalankan tanggung jawab.

Itu sebabnya, Erich Fromm mengajarkan bahwa ketidakpatuhan bukanlah sikap pemberontakan. Sikap itu justru bertujuan sebagai afirmasi terhadap kapasitas manusia. Artinya, ketidakpatuhan kepada pasangan dilakukan jika memiliki nilai positif untuk mengasah pengetahuan atau menambah pengalaman.

Maka, sikap ketidakpatuhan pada pasangan bukan semata-mata dilakukan dengan sikap yang maskulin, hanya ingin menang sendiri. Justru ketidakpatuhan kepada pasangan dilakukan atas dasar rasionalitas. Erich Fromm menekankan sikap ini harus didasari oleh akal.

Melalui akal, kita bisa menghasilkan ketidakpatuhan dengan penuh tanggung jawab. Soalnya sudah memikirkan alasan untuk tidak patuh. Maka dari sana, dapat memberikan argumen yang rasional kepada pasangan.

Sebagaimana yang saya lakukan kepada pasangan. Pernah ada peristiwa pasangan saya melarang saya untuk mengonsumsi kopi.  Namun, saya memilih untuk tidak patuh.

Dalam ketidakpatuhan saya pada permintan pasangan, saya memberikan argumen rasional: saya tipikal orang yang bisa bekerja jika “disuntik” kafein. Kalau tidak ada kafein, saya tidak bisa berpikir. Ketika pikiran mandek, maka saya tidak bisa produktif.

Melalui argumen rasional itu, pasangan saya menerimanya. Tidak ada konflik yang membara di dalamnya. Yang ada, justru pertukaran pikiran. Pasangan saya memberikan argumen yang juga rasional. Ia mengatakan agar saya tidak berlebihan mengonsumsi kopi.

Baca Juga  Pernikahan itu Koma, Bukan Titik

Argumen darinya, membuat saya menjadi kepo tentang berapa batas maksimal seseorang mengonsumsi kopi dalam satu hari. Sehingga membuat saya mulai berselancar mencari informasi kesehatan seputar konsumsi kopi melalui mesin Google.

Meski konsep dari Erich Fromm terlihat mudah, seolah-olah hanya berbekal akal agar menghasilkan argumen rasional, nyatanya tidak mudah dipraktikkan. Tidak semua individu bersikap terbuka pada ketidakpatuhan.

Pasalnya, kesadaran manusia modern sudah dibentuk untuk menjadi manusia yang patuh. Kesadaran yang terbentuk karena sistem politik telah jatuh pada budaya otoriter. Alhasil, banyak kebijakan yang bersifat mengontrol. Di sisi lain, manusia modern tidak bisa dipisahkan dengan budaya birokrasi yang penuh aturan formal dan hierarki. Budaya birokrasi yang akhirnya melahirkan manusia patuh menjaga keteraturan.

Maka, harapan satu-satunya jika ingin ketidakpatuhan dalam pasangan tidak dianggap negatif, individu yang punya kesadaran perihal ketidakpatuhan harus menjadi agen penggerak. Caranya dengan mengubah cara pandang pasangannya tentang makna ketidakpatuhan secara perlahan.

Kalau kata Erich Fromm, terjebaknya manusia pada kenyamanan kepatuhan disebabkan oleh pincangnya imajinasi. Itu sebabnya, agar bisa mengubah cara pandang pasangan tentang makna ketidakpatuhan, bisa dimulai dengan membangun ulang imajinasinya.

Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan melalui sastra. Tidak sulit mencari karya sastra yang memperlihatkan sisi positif ketidakpatuhan. Salah satunya, karya tetralogi Pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer.

Ketika pasangan kita mulai punya kesadaran baru perihal ketidakpatuhan, ia bisa melakukan perubahan kepada orang terdekatnya. Sehingga, sedikit demi sedikit, akan semakin banyak orang yang punya pemahaman baru perihal ketidakpatuhan. Meski terasa sulit dan lamban, ini adalah cara yang paling rasional.

Satu lagi modal penting agar ketidakpatuhan berjalan baik dalam relasi pasangan, yakni keberanian. Percuma Anda punya kesadaran tentang nilai positif ketidakpatuhan, tetapi tidak berani menerapkannya, ya sama saja bohong.

Baca Juga  Taaruf Pra dan Pasca Menikah

Nah, beranikah Rahmania menjalankan ketidakpatuhan kepada pasangan?

Bagikan
Post a Comment