f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Women from Rote Island

Women from Rote Island : Kisah Pilu Perempuan Indonesia Timur

Beberapa hari lalu saya telah menonton film Women from Rote Island. Film ini menarik, karena belum banyak film yang menceritakan perjuangan perempuan adat dalam menghadapi kekerasan seksual dan budaya permisif dengan dalih “hukum adat”. Selain itu, film ini juga menceritakan tentang para Perempuan di Rote, Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban kekerasan seksual dan juga patriarki yang masih kental di daerah tersebut.

Martha, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke kampung halamannya demi menyaksikan pemakaman ayahnya yang telah menunggu selama delapan hari. Jenazah ayahnya dibuat menunggu lebih dari seminggu karena istrinya mengatakan kepada keluarganya bahwa Martha bakal pulang dari Malaysia. Dia melawan keluarganya karena itu adalah permintaan terakhir suaminya. Namun, saat Martha menginjakkan kakinya di rumah lagi dia tidak terlihat seperti biasanya. Martha terlihat depresi dan ternyata ia menyimpan trauma karena menjadi korban kekerasan seksual oleh majikannya saat di Malaysia.

Sayangnya kampung halamannya pun bukan bukan tempat aman bagi Martha. Alih-alih mendapatkan bantuan agar pulih, Martha justru berlanjut menjadi korban kekerasan seksual oleh manusia-manusia bejat. Tak hanya Martha, ibunya juga harus menghadapi diskriminasi dan tradisi dengan berjuang mendapatkan keadilan atas kekerasan yang ia dan anaknya alami. Bertha, adik Martha yang masih SMA pun tak luput dari nafsu bejat laki-laki.

Para perempuan tidak hanya menghadapi stigma dan diskriminasi dari orang-orang sekitar, namun juga berbenturan dengan nilai adat. Dalam aturan masyarakat adat di Rote, perempuan tidak boleh bepergian keluar rumah saat masa berkabung. Namun Orpa tetap pergi ke pasar, sebab kebutuhan makanan bagi keluarga besar dan para pelayat harus terpenuhi dan tidak ada yang bisa membantunya. Ketika di pasar ia mengalami pelecehan seksual dan justru keluarganya menyalahkan Orpa karena melanggar aturan adat.

Baca Juga  Heresy and Politics: Hijab Sebagai Simbol Perempuan Merdeka

Geram rasanya menyaksikan bagaimana perempuan itu menjadi tidak berdaya melawan kemalangannya masing-masing. Orpa (Ibu Martha) berusaha melawan adat dan patriarki demi melindungi anaknya. Martha memiliki trauma besar sehingga ia bernasib buruk. Bertha pun berujung nahas, ia diculik dan dimutilasi oleh laki-laki yang tidak terungkap identitasnya. Tragedi yang bertubi-tubi ini menjadi tamparan keras bagi sang ibu (Orpa), meski pihak yang sebenarnya patut disalahkan adalah para lelaki bernafsu bejat yang gagal menjadi manusia.

Dalam film ini, saya melihat realitas kekerasan seksual di Indonesia Timur yang jarang bahkan tak terjamah untuk di angkat di layer lebar. Mulai dari sistem hukum, kondisi sosial, hingga budaya patriarki. Women from Rote Island ini bukan hanya sekedar film untuk tontonan. Namun juga menjadi alat kampanye untuk menghentikan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Film ini mewakili suara-suara korban yang terbungkam sampai ke publik. Melalui film ini, mengajak semua pihak untuk bangkit dan bergerak bersama menghentikan kekerasan seksual, melindungi dan menolong korban untuk mendapatkan keadilan, serta impunitas pelaku-pelaku kekerasan seksual.

Women from Rote Island merupakan realitas kehidupan sehari-hari bagaimana korban bukan diselamatkan melainkan distigma dan semakin rendah martabatnya. Bahkan ketika tradisi dan cara pandang masyarakat yang masih kental dengan patriarki, Perempuan bisa mengalami kekerasan berlapis-lapis dan berulang kali. Bersuara dan berjuang untuk mencari keadilan menjadi jalan yang sangat panjang dan berliku.

Korban sangat membutuhkan kekuatan dan daya tahan untuk menembus dan meruntuhkan praktik-praktik kebiadaban yang dibungkus dalam tradisi bahkan agama. Oleh karena itu, suara perempuan dari Rote untuk menghentikan kekerasan seksual jangan berhenti di satu tempat, tetapi harus digaungkan hingga ke seluruh dunia.

Baca Juga  Victim Blaming : Beban Ganda Perempuan setelah kekerasan seksual

Film Women from Rote Island mungkin belum bisa dibilang sebagai film yang amat baik untuk membangun kesadaran mengenai kekerasan seksual. Tetapi setidaknya film ini bisa menjadi pil pahit yang mengingatkan kita betapa sulit hidup perempuan di tengah adat dan budaya yang lekat dengan sistem patriarki. Terlahir menjadi seorang perempuan merupakan suatu hal yang luar biasa. Tetapi menjadi seorang perempuan itu bukan hal yang mudah, maka hargailah dan jagalah perempuan-perempuan di dunia ini.

Harapannya, film ini menjadi motivasi bagi para korban kekerasan untuk terus berjuang. Film ini juga mengajarkan orang “kota” bahwa kekerasan tidak semudah tinggal melapor ke pihak yang berwenang atau membuat thread agar viral. Mereka harus menuruti tata cara adat dalam menangani permasalahan. Akhir dari film ini menggambarkan betapa horornya kekerasan seksual dan patriarki di daerah-daerah yang tak terjamah.

Akhir film ini pun menggantung. Hal itulah menggambarkan pula dari dunia nyata, bahwa kekerasan seksual dan patriarki di Indonesia bahkan dunia ini belum selesai. Entah di Rote atau di mana pun kita berada, kasus kekerasan seksual memang tidak pernah menemui titik terang. Perjuangan korban mencari keadilan pun masih jauh dan akan terus berlanjut.

Bagikan
Post a Comment