f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
setara

Setara (Dimulai) dari Hati

“Nyebelin, cewekku yang sering on fire soal gender, kalau udah sama aku, manjanya luar biasa. Biasa dia kalau kemping sama teman-temannya, KKN, pelatihan, dll sendiri aja berani. Tapi, ini ke mini market aja yang cuma 200 meteran dari kos musti dianterin, padahal aku lagi tengah-tengah ngerjain skripsi.”

“Ah, masih mending gitu. Kakak perempuanku malah udah kaya feminis hardcore. Kalau aku bilang nggak bisa, komennya, mosok kalah sama perempuan. Trus, pacarku juga diceramahin untuk berani berdebat. Katanya, ‘jangan apa-apa manut sama cowok! Kamu kudu punya prinsip sendiri. Jangan mau diatur mulu.’ Sungguh nyebelin tuh! Untung aja dia kakakku, kalau nggak sih ….”

Percakapan di atas masih lebih ‘halus’ dibanding yang saya temui di aplikasi X milik Elon Musk. Cuitan satire bahkan cenderung sarkas, karena mengulik sampai urusan personal juga.

“Dia belum pernah orgasme kali, makanya begitu sama lelaki.” Atau, “Feminist SJW, kalo kasusnya cewe, ngamuk. Tapi kalo cowo, padahal kekerasan yang sama, diem aja. Halahhh.” Dan, masih banyak cuitan-cuitan lain yang tak berpihak ketika seorang perempuan tampak berani angkat bicara.

Demikianlah perjuangan perempuan, yang menjadi anak-anak patriarki. Sebuah budaya yang konon sejarahnya bermula dari  kaum petani dengan deskripsi kerja kasar, pelaku utama roda perekonomian keluarga, yang berarti mutlak dipegang lelaki. Sementara perempuan menjadi sosok dikendalikan, hanya sebatas pendukung, terutama untuk menjadi sarana reproduksi agar tenaga kerja lahan pertanian terus bertambah.

Namun, kesimpulan itu menjadi tidak valid, ketika ilustrasi kasus di atas, bukan terjadi di daerah masyarakat pertanian. Melainkan di perkotaan, dan dunia industri dengan generasi milenial atau gen Z sebagai pelakunya.

Menurut Grady Nagara dalam tulisannya tentang Seberapa Patriarki Masyarakat Indonesia di laman Kumparan, riset World Value Survey di tahun 2018 menunjukkan, secara umum masyarakat Indonesia masih memiliki kecenderungan patriarki, walaupun tidak sepenuhnya menganggap bahwa laki-laki selalu “lebih berkuasa” dibanding perempuan dalam segala aspek.

Baca Juga  Ibu Karlina dan Masyarakat Akal Sehat

Menurut riset tersebut, budaya ini masih eksis di sektor tenaga kerja, walaupun ada kecenderungan umum bahwa perempuan juga tidak bermasalah jika memiliki penghasilan lebih tinggi dari laki-laki, maupun para ibu yang bekerja di luar rumah.

Feminis : Bersuara Tak Hanya di Mulut Saja

Kembali kepada dua ilustrasi kasus di atas, hal yang menjadi impresi sebagai feminis adalah

  • persepsi bahwa menjadi feminis, atau perempuan yang berani speak up soal gender, diasumsikan sangat mandiri, tidak tergantung siapapun, termasuk pasangannya. Menunjukkan posisinya sebagai perempuan, yang kadang memiliki kebutuhan untuk ditemani, seolah-olah menjadi hal yang tabu.
  • Pada kasus kedua, memosisikan diri berseberangan dengan lelaki juga kurang tepat. Karena setara sesungguhnya bermakna sejajar sepadan, seimbang. Tak ada yang lebih ‘berkuasa’, tak juga mempermasalahkan menang kalah.

Kedua hal tersebut yang masih menjadi pekerjaan rumah para aktivis isu perempuan, diperparah lagi dengan perempuan yang ‘berjuang’ menjadi feminis dengan dasar kebencian, dendam, kehendak membuktikan, atau malah keinginan mengalahkan; tak hanya lelaki. Beberapa malah membenci sesama perempuan juga.

Hal ini makin tak berkesesuaian dengan pengertian kesetaraan gender sendiri. Menurut laman Bappenas, pengertian kesetaraan gender merujuk kepada keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.

Sayangnya kondisi yang terjadi, hak yang lebih utama dituntut, dengan mengesampingkan kewajiban.

Sebuah contoh yang pernah terjadi di sekitar, mungkin juga pernah Anda dengar. Seorang aktivis perempuan yang kerap maju ke depan barisan demonstrasi, dikeluhkan oleh wali kelas anaknya.

“Memang, ketika punya rencana demo, mau orasi depan publik, pihak sekolah nggak mengurusi. Akan tetapi, ketika anak si Ibu datang ke sekolah dalam kondisi lapar, karena di rumah tidak tersedia makanan apapun; bukankah apapun aksi heroiknya jadi ternodai dengan sikapnya sendiri sebagai seorang Ibu. Menyiapkan makan untuk anak bukankah adalah kewajiban?”

Baca Juga  Ketidakadilan Gender dan Dampak pada Laki-laki

Perkataan guru tersebut sungguh benar. Memperjuangkan hal yang besar, memiliki kebermanfaatan bagi orang banyak, sepatutnya diikuti pertanggungjawaban akan keluarganya, bukan malah anaknya seolah terlupa.

Label Aktivis Tak Sekadar Predikat Cantik

Menyinyiri kelompok aktivis yang demikian memang bukan hal yang bijak sebenarnya. Sebagai manusia, aktivis pun wajar melakukan kekeliruan, tetapi sebagai pelajaran kasus mereka bisa menjadi bahan evaluasi bersama.  

Bahwa sesungguhnya, mengimplementasikan kesetaraan gender sehari-hari menjadi sama pentingnya dengan memperjuangkannya bagi banyak orang.

Contoh sederhana umpamanya bila aktivis telah menjadi Ibu. Dengan memiliki konsep pengasuhan yang setara, Ibu dengan mengajak Ayah bisa memberi contoh bahwa peran dan tanggung jawab dalam rumah yang merupakan lifeskills, tidak tergantung gender tertentu.

Ibu bersama-sama Ayah  bisa memberi contoh, bahwa setiap orang di rumah memiliki kebebasan berpendapat, tak berarti tak menghormati keputusan Ayah, Ibu atau anak-anak yang telah disepakati bersama. Dengan demikian semua orang di rumah mampu untuk saling menghormati dan menghargai.

Bila Ibu memiliki agenda komunitas di luar rumah, dengan menunjukkan tanggung jawab menyelesaikan dulu pekerjaan di rumah, (bila mungkin) menyiapkan makanan atau bila tidak memastikan anak-anak terjamin ketersediaan konsumsinya, termasuk menginformasikan acara tersebut dengan seluruh anggota keluarga sebagai bentuk mengapresiasi kerjasama anggota keluarga dalam mewujudkan kegiatan tersebut bisa terjadi. Bila sesekali lalai atau tak sengaja lupa, meminta maaf pun bukanlah sebuah hal yang memalukan.

Kemudahan atau kesulitan melakukan hal tersebut, tentu bisa dievaluasi bersama baik Ibu dan Ayah maupun melibatkan anak-anak sebagai anggota keluarga. Tentu semua hal itu memerlukan upaya kerja sama dan tentu berjiwa besar dari masing-masing orang.

Dengan saling percaya dan mendukung satu sama lain di dalam keluarga, apa pun yang dilakukan dengan ketulusan dan kebermanfaatan bagi orang banyak, tentu akan berjalan dengan lebih smooth dan menggerakkan lebih banyak orang untuk memperjuangkan hal yang sama.

Bagikan
Post a Comment