f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
istri adil

Menanti Peran yang Adil Bagi Istri

Masih ada banyak suami di luar sana yang tetap menganggap enteng tugas-tugas domestik. Mereka mungkin meremehkan nilai dari mengurus anak, meracik hidangan untuk seluruh keluarga, menjaga kerapihan rumah, bahkan mencuci pakaian. Namun, di balik pandangan itu, cerita yang tersembunyi justru menggambarkan sebuah perjuangan istri yang jarang dikenal.

Bahkan tidak sedikit yang memiliki sudut pandang yang bias gender, dan menganggap bahwa pekerjaan pekerjaan tersebut merupakan ranah perempuan. Baik ibu ataupun anak Perempuan, dan suami atau anak laki2 dianggap pamali unuk sekedar membantu sekalipun.

Mereka tidak tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu dan menutup mata, bahwa pekerjaan domestik itu sangatlah berat, melelahkan dan tidak ada habisnya.

Coba banyangkan sejenak, bahwa betapa beratnya tugas mengurus anak yang masih kecil yang selalu rewel. Betapa repotnya menyiapkan masakan untuk seluruh anggota keluarga. Betapa melelahkannya menyapu lantai, mengepelnya dan mencuci baju baju kotor. Belum lagi jika harus antar sekolah anak, ada anggota keluarga yang sakit, dll.

Tiap harinya, selama24 jam penuh dalam satu hari dan tanpa henti selama tujuh hari dalam satu minggu, para ibu dan perempuan terlibat dalam pertempuran tanpa henti. Mereka menantang waktu untuk menuntaskan deretan tugas yang berat ini. Namun, apresiasi menjadi suatu yang langka. Bahkan ungkapan terima kasih pun sering kali tak sampai ke telinga para istri yang gigih itu.

Dan disadari ataupun tidak, keadaan yang seperti ini dapat menjadi salah satu penyebab kurang harmonisnya kehidupan suami dan istri dalam membina mahligai rumah tangga.

Ironisnya, tidak sedikit dari kaum perempuan yang menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu yang taken for granted. “Sudah dari sononya” bahwa tugas tugas tesebut memang menjadi kewajiban bagi perempuan.

Baca Juga  Menjadi Suami Kualitas Ori di Kala Pandemi

Budaya patriarki telah mengakar kuat dan meresap dalam struktur masyarakat. Sebagai akibatnya, dominasi dan pengeksploitasian yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan terlihat sebagai hal yang lazim, menjadi bagian rutinitas, bahkan oleh kaum perempuan sendiri. Tidak hanya itu, setiap peristiwa dalam konteks rumah tangga yang menghasilkan perempuan sebagai korban, dianggap sebagai hal sepele, tanpa perlu diperbesar. Dan dipandang sebagai bentuk ketaatan sang istri kepada suaminya, serta sebagai ekspresi perempuan terhadap laki-laki.

Ditambah lagi dengan pemahaman yang keliru terkait ayat yang menunjukkan bahwa laki laki memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin bagi para wanita. Hal ini semakin menambah kuatnya pengaruh budaya patriarki tersebut dalam masyarakat.

Di bawah desakan dari budaya yang kuat dalam patriarki, kita merasa akrab dengan pandangan bahwa peran istri atau perempuan tak lebih dari sekadar tiga “M” – macak (berdandan), manak (melahirkan), dan masak. Perspektif ini telah tertanam dalam pikiran kolektif masyarakat. Akibatnya istri atau perempuan dianggap semata sebagai objek dan memberi laki-laki atau suami tempat yang lebih tinggi dan istimewa. Akibatnya, tindakan di luar norma tersebut dianggap keliru dan tak benar. Bahkan mengakibatkan perlakuan tidak adil terhadap perempuan yang enggan atau tak mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Perempuan akan selalu mengalami dampak yang buruk dan tidak adil bagi mereka, seperti diskriminasi dan marginalisasi dalam segala hal.

Pada sisi yang berbeda, suami memiliki kecenderungan terlalu menuntut istrinya untuk senantiasa tampil sempurna, dan selalu sedia untuk melayani kebutuhan sang suami, baik lahir maupun batin, tanpa berusaha untuk memahami bahwa sang istri bisa jadi sudah terlalu lelah untuk menjadi sempurna.

Saya membayangkan, alangkah indahnya jika laki laki dan perempuan dapat saling berbagi peran dan saling mengerti. Suami dan istri dapat saling mengisi dan memahami. Tidak ada lagi stereotip yang tidak menguntungkan bagi salah satu gender, tidak ada lagi dominasi dan eksploitasi dari suami kepada istrinya.

Baca Juga  Saat Cinta kepada Istri Berkurang

Dalam pikiran saya, tampaknya tugas-tugas domestik yang secara tradisional dilimpahkan kepada istri atau perempuan tak akan berdampak buruk jika dikerjakan bersama oleh suami atau laki-laki. Sebagai contoh, tugas membersihkan rumah sebenarnya bukanlah eksklusif tugas istri semata. Melainkan tanggung jawab setiap individu yang tinggal di dalam rumah tersebut. Demikian pula, merawat dan mendidik anak seharusnya menjadi upaya bersama antara suami dan istri, begitu pula dengan berbagai tugas lainnya.

Saya meyakini, bahwa kunci keharmonisan rumah tangga seseorang, bukan hanya bermodalkan cinta semata. Karena cinta mungkin bisa sirna seiring berjalannya waktu dan memudarnya paras bagus seseorang. Namun kasih sayang yang tumbuh dari kesadaran yang utuh akan tugas dan tanggung jawab masing masing, baik suami maupun istrilah yang menjadikan suatu hubungan dapat bertahan dan langgeng.

Mengkampanyekan keadilan dalam rumah tangga semacam ini harus dilakukan terus menerus. Sehingga terbangun kesadaran akan kesetaraan peran, baik bagi laki laki maupun perempuan dalam masyarakat. Da mana goalsnya adalah terciptanya keharmonisan hubungan dalam rumah tangga antara suami dan istri.

Jika dalam sebuah keluarga sudah tercipta kesadaran akan peran masing masing, sudah tercipta keharmonisan antar penghuninya. Maka munculnya generasi generasi yang memiliki masa depan yang lebih baik adalah sebuah keniscayaan.

Tentu saja kita semua berharap kebahagiaan dalam kehidupan keluarga kita, dan juga bagi anak cucu kita. Namun apakah kita sudah mencoba berikhtiar untuk mewujudkannya dengan berbagi peran yang sama dengan pasangan kita..?

Bagikan
Post a Comment