f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
suami

Film Mrs. Chatterjee vs Norway Mengingatkan Tugas Suami Bukan Hanya Bekerja!

Di Indonesia, masih banyak sekali praktik pengasuhan anak yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang diberikan sepenuhnya kepada Sang Ibu. Fakta tersebut juga saya dapatkan dalam buku Anak Merdeka karya Sunarno & Ulya (2022). Di bukunya tersebut mereka banyak menghadirkan riset atas rumah tangga mereka ketika mengasuh anak. Mereka sering mendapat curhatan ibu yang suaminya sama sekali tidak berperan dalam pengasuhan dan pendidikan anak, belum perihal pekerjaan rumah tangga lainnya. Sehingga berakibat pada lelahnya fisik maupun psikologis sang ibu dan ketika anak menjadi tidak benar, kesalahan tersebut ditumpahkan kepada istri[1].

Hal yang sama pun  juga saya dapatkan pada film India yang berjudul Mrs. Chatterjee vs Norway dengan banyak intrik tentang perebutan hak asuh anak antara Debika (Tokoh Utama) dan Layanan Perlindungan Anak di Norwegia yang menuduh sang ibu tidak memberikan pola asuh yang baik bagi kedua anaknya. Namun, yang sangat jelas terlihat dari awal film dimulai sampai film selesai adalah beban kerja ganda yang didapatkan Debika dalam rumah tangganya. Suaminya berprinsip bahwa urusan rumah tangga, mengasuh, dan mendidik anak adalah bagian istrinya. Sedangkan Ia hanya bertugas bekerja dan menghasilkan uang.

Banyak kita jumpai ketika melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut, tampak bahwa suami selalu menyalahkan istri terhadap segala sesuatu yang terjadi. Seperti ketika istri tidak menata rumah dengan baik, tidak membersihkan rumah, tidak menjaga anak dengan baik, tidak membenahi dirinya dengan baik serta tidak memberikan support terhadap apa yang dilakukan oleh istrinya. Gejala tersebut bisa juga disebut sebagai Negative Dyadic Coping. Bodenmann dan Kayser (2005)[2] menjelaskan tentang negative Dyadic Coping meliputi :1) Hostle Dyadic Coping, yaitu melibatkan dukungan pasangan dengan cara menghina, menjauhkan, mengejek, atau sarkas. 2) Ambivalen Dyadic Coping, yaitu terjadi ketika pasangan merasa kontribusinya tidak diperlukan. 3) Superficial Dyadic Coping, yaitu mendukung pasangan dengan tidak tulus. Tidak jarang kita jumpai dalam film tersebut, suami melakukan labelling terhadap istri, yaitu istrinya gila, tidak waras, kejiwaannya terganggu, tempramental dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan ciri-ciri dari Dyadic Coping.

Tugas Suami Bukan Hanya Bekerja

Walaupun film tersebut diproduksi oleh negara India, namun nampaknya permasalahan yang diangkat tidak jauh berbeda dengan negara Indonesia. Mindset bahwa tugas suami hanyalah bekerja dan mencari uang sedangkan istri harus menjaga rumah, mengasuh dan mendidik anak selayaknya harus ditinjau ulang. Ketika saya mengikuti kajian buku Anak Merdeka yang langsung diisi oleh Kang Narno dan Mbak Ulya di Desa Menari, Kabupaten Semarang, mereka mengungkapkan bahwa ketika memiliki anak, mereka sudah bersepakat untuk mendidik dan mengasuhnya bersama-sama. Karena tidak hanya ibu yang memiliki peran dalam pembuahan, namun seorang ayah juga memiliki peran di dalamnya. Hal tersebut juga mereka tuangkan dalam buku tersebut.

Baca Juga  Ibu Pekerja dan Stunting pada Anak

Mereka juga tidak sepakat dengan prinsip bahwa mengasuh dan mendidik anak hanyalah tugas seorang ibu. Walaupun dalam Islam ada sebuah syair al-ummu madrasatu-l-ula. Bahwa ibu adalah madrasah utama bagi anak di keluarga, namun bagi mereka tidak menutup kemungkinan bagi ayah untuk berperan dan terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Mindset tersebutlah yang patutnya dibangun di tengah masyarakat kita. Bahwa tugas mengasuh dan mendidik anak bukan hanya tanggungjawab ibu. Namun ayah juga perlu memiliki peran tersebut, agar sosok ayah benar-benar nyata bagi anak.

Manfaat Mendidik Anak Bersama-sama

Tidaklah mudah memang melakukan pengasuhan dan pendidikan anak dalam sebuah keluarga. Namun ketika hal tersebut dilakukan secara bersama-sama antara suami dan istri, apakah tidak lebih mudah? Dalam buku Anak Merdeka karya Sunarno & Ulya (2022)[3] dijelaskan beberapa manfaat mendidik anak ketika dilakukan bersama-sama, yaitu antara lain:

1. Adanya sosok ayah yang benar-benar nyata, karena sekarang ini banyak kasus “Fatherless” yang menilai bahwa sosok ayah yang dianggap ada dan tiada. Hal tersebut akibat dari peran ayah yang tidak ikut serta dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

2. Anak akan mendapat model yang lengkap dari kedua orang tuanya, sehingga akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lengkap.

3. Saling melengkapi kekurangan antara suami dan istri perihal pengasuhan dan pendidikan anak.

4. Beban kerja lebih ringan, baik suami maupun istri, baik secara psikologis maupun secara fisik. terutama bagi pasangan yang memiliki karir.

Maka dari hal tersebut, sangatlah penting untuk berfikir dan membuat planning ketika memutuskan untuk membangun rumah tangga dan memiliki anak. Karena dari film Mrs. Chatterjee vs Norway kita belajar pentingnya menjalin kerjasama dalam berbagai hal ketika telah berumah tangga, termasuk dalam urusan mengasuh dan mendidik anak. Karena kepribadian anak dapat dilihat dari pola asuh yang diberikan kepadanya.

Baca Juga  Anak: Karunia, Titipan, dan Ujian

[1] Sunarno & Ulya, “Anak Merdeka : Catatan Pengasuhan dan Pendidikan yang Memerdekakan Jiwa Anak” (Yogyakarta : Rua Aksara : 2022), hal. 14.

[2] Bodenmann, G., Keyser, K. & Phinet, S. (2006). The relationship between dyadic coping and marital quality: A 2- year longitudinal study. Journal of family Psychology. Vol. 20, No. 3. 485-493.

[3] Sunarno & Ulya, “Anak Merdeka : Catatan Pengasuhan dan Pendidikan yang Memerdekakan Jiwa Anak” (Yogyakarta : Rua Aksara : 2022), hal. 15-16.

Bagikan
Post a Comment