f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ramadan

Ramadan Tiba, Bagaimana dengan Bacaan Al-Qur’an Kita?

Ramadan hampir tiba. Kita akan melunasi kerinduan padanya, insya Allah. Tetapi, seperti ketika akan bertemu kekasih setelah perpisahan panjang, kita tentu tak ingin dia kecewa. Pertemuan itu akan menjadi pembuktian, perihal ingatan kita akannya yang tak putus atau malah pupus. Terlebih lagi terhadap julukannya yang lain, yakni Syahrul Quran (Bulannya Al-Qur’an).

Julukan Ramadan yang demikian itu kongruen dengan indikator dalam mengingatnya. Oleh karena itu, persiapan kita menyambut Ramadan berkelindandengan performa interaksi kita dengan Al-Qur’an. Sedih sekali jika ternyata kita tergolong orang-orang yang dikeluhkan Rasulullah kepada Allah, ”… sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” [Qs.Al-Furqan (25):30].

Benar Sebelum Merdu

Keterlambatan bukan semboyan kita, namun juga tidak bertujuan agar kita terus terlena. Kesadaran adalah awal yang baik bagi perbaikan. Jika kita menyadari bahwa interaksi dengan Al-Qur’an setelah berpisah lama dari Ramadan dalam keadaan nyaris kritis, maka sekarang waktu yang tepat untuk semangat itu kembali kita kais. Di dalam pertalian kasih, menerima kesalahan dan komitmen memperbaki “hubungan” adalah modal utama.

Bila hubungan kita terhadap Al-Qur’an menurun setelah hari-hari tanpa Ramadan yang lalu, maka setidaknya janjikanlah peningkatan pada Ramadan kali ini. Peningkatan itu dapat kita mulakan dari mengupayakan ketepatan dalam membaca Al-Qur’an, alih-alih mendahulukan kemerduan. Begitulah adab yang utama ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “… dan tartilkanlah (bacalah) Al-Qur’an itu secara tartil (perlahan-lahan)” [Qs. Al-Muzammil (73):4].

Tartil menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sebagaimana sering dikutip dalam buku-buku pengantar ilmu tajwid, bermakna ”tajwidul huruf , wa ma’riftul wuquf” (membaguskan huruf, dan mengetahui tempat berhenti). Sementara hukum tajwidul huruf  berdasarkan Matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyah adalah wajib dan meninggalkannya berdosa. Hal itu karena tajwid diturunkan “sepaket” dengan Al-Qur’an.

Baca Juga  Menurunkan Jejak Karbon Sebagai Ibadah Utama di Bulan Ramadan

Imam Al-Jazari juga berpesan di dalam manzhumah-nya itu bahwa membaca Al-Qur’an dengan memerhatikan tajwid sudah merupakan hiasan tersendiri bagi Al-Qur’an di samping sekadar memperbagus suara dan menguasai banyak langgam dengan mengabaikan tuntutan yang lebih utama itu. Hal ini yang belakangan kurang menjadi fokus utama kita. Keterpesonaan terhadap irama-irama di dalam membaca Al-Qur’an pada beberapa kesempatan justru mengaburkan tujuannya yang asal.

Tujuan asal Al-Qur’an, menurut Syekh Ayman Suwaid dalam cuplikan ceramahnya di kanal Youtube Online Tajwid dan Studi Islam dengan tajuk “Apakah Al-Qur’an Diturunkan Untuk Menghibur Manusia?”, adalah sebagai peringatan yang mestinya direnungi dengan pembacaan yang sesuai kaidah tajwid. Jika hanya mengutamakan kemerduan, maka Al-Qur’an akan tidak ada ubahnya dengan nasyid atau bentuk nyanyian-nyayian lainnya. Oleh karena itu, kita semestinya tidak lagi mengalami “kecolongan” dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Seorang guru agama pernah pula mengeluh kepada saya, bahwa penceramah Ramadan di masjid dekat rumahnya rata-rata lulusan master dan doktoral, namun ketika menjadi imam salat, kualitas bacaan mereka tidak sebaik ceramahnya. Sebagai seseorang yang juga guru mengaji, beliau menyayangkan kenyataan itu. Sejatinya, realitas ini juga terjadi di masih banyak tempat di sekitar kita. Oleh karena itu, hendaklah Ramadan menjadikan kita melihat kembali kualitas bacaan kita dan tidak lekas berpuas diri.

Tadarus Bukan Jurus Buru-Buru

Ada banyak cara dalam memperbaiki (tahsin) bacaan Al-Qur’an. Dewasa ini, pada zaman yang serba online, sudah banyak akun-akun media sosial maupun kanal-kanal Youtube yang rajin mengulas dan membagikan konten pelajaran memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Semuanya tentu memiliki niat yang baik, namun adalah hal yang lumrah jika menemukan perbedaan antara penjelasan satu dengan lainnya.

Baca Juga  Tantangan Mujahid Digital di Era Kekinian

Saya sendiri pernah menemukan perbedaan pada beberapa content creator dengan apa yang saya terima dari guru tahsin Al-Qur’an kami, Ustaz Muhammad Ansari, Lc, M.Th. yang mengambil sanad (sandaran/ rantai keilmuan) bacaan Al-Qur’an kepada Syekh Maher Al-Munajjid, salah satu pemegang sanad Al-Qur’an tertinggi di dunia saat ini. Oleh karena itu, untuk semakin baik, kita perlu menemukan guru yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah.

Pelajaran-pelajaran yang tersaji di media sosial dan kanal youtube hendaklah cukup kita jadikan sebagai stimulan dan metode muraja’ah (mengulang) dalam belajar membaca Al-Qur’an. Sementara itu, ber-talaqqi (saling berhadapan) dengan seorang ustaz atau syekh adalah metode belajar paling baik, sebagaimana yang Rasulullah contohkan dengan Jibril. Hal ini bertujuan agar kesalahan dapat segera diperbaiki secara langsung, seperti tegas guru kami waktu awal talaqqi, bahwa dalam proses itu, “…tidak layak seorang murid salah di depan gurunya.”

Metode talaqqi ini pula yang sejatinya telah lama kita lestarikan pada bulan Ramadan, dengan apa yang kita kenali sebagai tadarus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan tadarus sebagai “pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama (dalam bulan puasa).” Biasanya, akan ada kelompok-kelompok tertentu yang memiliki target mengkhatamkan Al-Qur’an. Dan ketika seseorang di antara mereka membaca, maka yang lainnya akan menyimak.

Hal yang dapat kita pertimbangkan lebih lanjut adalah sudah seharusnya tadarus tidak hanya menjadi jurus untuk buru-buru melahap habis Al-Qur’an di dalam satu bulan. Boleh saja, jika masing-masing pesertanya telah mahir. Akan tetapi sepertinya realitas mengatakan sebaliknya. Setidaknya berdasarkan data yang dimuat ikilhojatim.com pada tahun 2021, sebanyak 65 persen muslim Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an.

Tetap saja kita harus bersyukur, pada sisi lain, rumah-rumah tahfiz sudah mulai menjamur. Namun, lagi-lagi tidak jarang yang terjadi adalah perlombaan “menuntaskan” Al-Qur’an dan meninggalkan keutamaan membacanya dengan baik dan benar di garis start. Oleh karena itu, metode tadarus pada bulan Ramadan akan lebih bermanfaat jika dapat diseriusi untuk mendukung perbaikan dan peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an. Misalnya, dengan mengundang dan mengkader mereka yang telah mahir sebagai fasilitator.

Baca Juga  Kuliner Ramadan dan Kualitas Puasa Kita

Semoga niat dan upaya kita untuk merehabilitasi hubungan dengan Al-Qur’an lewat kembali mengevaluasi bacaan, mencari guru mengaji yang tepat, dan memaknai ulang metode tadarus dapat menjadikan Ramadan kali ini menjadi lebih istimewa dan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Akhirnya, selamat menyongsong Syahrul Quran, Syahrul Mubarak.

Bagikan
Post a Comment