f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
zainab

Di Barat ada Romeo-Julliet, di Islam ada Zainab-Abu Al-Ash

Khairiah bertanya pada kami, teman-temanya sealumni pesantren, mengapa Zainab binti Muhammad tidak diperkenankan ikut hijrah ke Madinah dan mengapa baru diperbolehkan hijrah setelah Perang Badar? Pada saat itu kami tidak tahu jawabannya. Dan seorang teman, cekgu Zakiah,  menjelaskan  bahwa pada masa orang-orang berhijrah tersebut, Zainab masih terikat perkawinan dengan Abu Al-Ash bin ar-Rabi dan pada saat tersebut belum ada hukum tentang perkawinan berbeda aqidah sehingga Zainab masih harus tinggal bersama suaminya.

Jika dalam dunia barat ada kisah cinta yang selalu menjadi panutan tentang kesetiaan dan pengorbanan cinta, maka sesungguhnya dalam kisah-kisah Islam ada juga kisah romansa yang sama. Yang membedakannya adalah Romeo-Julliet merupakan cerita sastra rekaan yang ditulis oleh Shakespeare, sedangkan kisah Zainab binti Muhammad adalah kisah nyata yang kita perlu ketahui.

Kisah romansa adalah salah satu kisah yang sering disukai orang, apalagi jika berakhir dengan happy ending. Banyak kisah cinta yang telah dibukukan dan dibaca jutaan orang, atau bahkan sudah difilmkan dan ditonton secara berulang-ulang. Bahkan sering juga buku tentang percintaan diubah dalam bentuk lain dan dibuat dengan berbagai versi. Selalu ada ibrah yang bisa  kita ambil untuk setiap kisah percintaan, baik itu tentang kesetiaan, kasih sayang dan pengorbanan. Jika kisah Rome-Julliet berakhir dengan kematian mereka dengan alasan mengagungkan kesetiaan, maka kisah Zainab-Abu Al-Ash adalah tentang perbedaan aqidah dan melewati ujian-ujian cinta tersebut sehingga dapat sampai kepada kebahagiaan dalam satu keyakinan  yang hakiki.

Saat Islam  datang di tanah Mekkah, Zainab langsung mengikuti cahaya Islam yang mulai disebarkan oleh ayahandanya Rasulullah Saw. Tetapi suaminya tidak mau mengikuti jejaknya dengan alasan masih terikat rasa dengan suku dan ajaran lamanya. Dan sang suami juga tidak dapat serta merta menerima pemahaman baru yang di bawa oleh ayah mertuanya tersebut. Sejak itulah pintu perpisahan antara Zainab dan Abu Al-Ash terbuka lebar.

Baca Juga  Siti Raham dan Besarnya Nama Buya Hamka

Saat kaum Quraisy semakin membenci kaum Muslimin, Nabi Muhammad diperintahkan untuk hijrah ke Madinah. Suami Zainab yang juga mempunyai hubungan dengan ibunya, Khadijah ra, menghormati sang nabi sekaligus ayah mertuanya ini tidak ingin memerangi ayah dari istrinya. Tetapi Abu al-Ash tidak mampu berpisah dengan kaumnya dan tetap belum dapat menerima Islam sebagai aqidahnya. Sehingga jalan cerai dengan Zainab merupakan satu-satunya jalan mereka berpisah karena berada pada kutub yang berbeda.

Zainab dan Abu al-Assh masih saling mencintai. Hal ini dibuktikan dengan peristiwa saat Abu al-Ash menjadi tawanan Perang Badar dan Nabi memberi kesempatan bagi yang ingin menebus para tawanan tersebut. Dan Zainab langsung menebus mantan suaminya dengan kalung pemberian ibunda Khadijah saat perkawinan mereka. Nabi sampai menitikkan air mata kesedihan mengingat kalung tersebut merupakan hadiah sang istri untuk putrinya. Dan putrinya menebus mantan suami yang notabene bukanlah kaum muslimin dengan harta pemberian istrinya tersebut.  Namun Rasulullah tertegun salut akan putrinya yang begitu setia terhadap suaminya yang ditinggalkannya karena perintah Allah Swt.

Dibandingkan dengan bukti kesetiaan Romeo-Julliet, kisah Zainab-Abu al-Ash tidak dapat disetarakan kesetiaan mereka. Romeo-Julliet membuktikan cinta mereka dengan meminum racun, namun Zainab – Abu al-Ash membuktikan cinta mereka dengan bertahan berpisah karena dalam perbedaan dan kemudian mendapatkan petunjuk sehingga Abu al-Ash masuk Islam dan bersatu kembali.

Kisah yang paling mengharu biru selain menebus Abu al-Ash sebagai tawanan, adalah saat adik dari Abu al-Ash mengantar Zainab untuk dikembalikan kepada ayahnya, Rasulullah Saw., dan telah ditunggu oleh Zaid bin Haritsah di pinggir Kota Mekkah, Abu al-Ash berpesan pada adiknya dengan mengatakan, “Wahai adikku, engkau tahu betapa aku sangat mencintainya (Zainab). Tidak ada wanita Quraisy yang aku cintai kecuali dia. Sungguh berat bagiku untuk berpisah dengannya. Dan antarkan dia sampai ke tempat utusan Muhammad yang telah menunggu di sana. Jagalah dia sebagaimana engkau menjaga saudara kandungmu, jaga dan lindungi dia smapai titik darah penghabisanmu”.

Abu al-Ash masuk Islam setelah peristiwa perniagaannya di luar Kota Mekkah, di mana hartanya dirampas dan kemudian dikembalikan. Abu al-Ash segara mengembalikan harta-harta pengusaha Mekkah yang telah menitipkan perniagaan kepadanya, sesaat kemudian dia mengikrarkan keislamannya dengan  bersyahadat. Setelah masuk Islam, Abu al-Ash segera menuju Madinah untuk bertemu Zainab dan menikah kembali secara Islam. Dan kemudian Zainab meninggal dunia setelah bersatu kembali dengan suaminya. 

Baca Juga  Mumpuni Handayayekti Dai Muda Asal Cilacap

Satu-satunya sebab kisah Romeo dan Juliet legenda sampai saat ini karena mereka rela mati bunuh diri demi cinta, mati bersama. Nah, justru karena sad ending-lah yang menjadikan kisah itu abadi atau melegenda sampai sekarang. Padahal ada kisah yang membuat bahagia dan dapat menjadi suri tauladan tapi orang sering lupa dengan kisah mereka. Kisah Zainab – Abu al-Ash adalah bukti pasangan yang setia dan tulus saling mencintai. Dan mereka mampu melalui ujian kehidupan cintanya.

Bagikan
Comments
  • Niniez

    😢

    Cinta tertinggi jika cinta dilandasi pada cinta pada Rabb pemilik cinta..

    November 4, 2022
Post a Comment