Doa Salat Bagi yang Belum Mampu Menghafal Bacaan Salat
Menjadi sebuah problematika ketika seseorang baru saja masuk Islam atau sudah menjadi Islam sejak kecil dan baru bisa menekuni salat ketika sudah tua, ‘doa apa yang harus ia baca ketika salat’. Mengingat, ketika seseorang baru masuk Islam atau baru mau salat ketika sudah tua. Mereka sangat kesulitan untuk menghafal Al Fatihah dan doa-doa salat.
Hal ini pula yang terjadi pada Lembaga Dakwah Khusus salah satu PDM di Jatim. Mereka fokus untuk mendakwahi dan mengajak salat anak-anak punk yang ada di jalanan. Ketika pertama kali diajak salat, yang mereka tanyakan ialah, “Pak, saya ini sudah lupa bacaan Al Fatihah, apalagi bacaan-bacaan salat? Bagaimana salat saya nanti?”
Solusi Bagi yang Belum Mampu Ngaji
Ternyata, pertanyaan yang anak punk tersebut tanyakan sebelumnya sudah pernah salah satu sahabat Rasulullah tanyakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Abdulllah bin Abi Aufa berikut :
أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْئًا، فَعَلِّمْنِي شَيْئًا يُجْزِئُنِي مِنَ الْقُرْآنِ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. قَالَ فَذَهَبَ أَوْ قَامَ أَوْ نَحْوَ ذَا قَالَ هَذَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَا لِي؟ قَالَ ” قُلْ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَعَافِنِي، وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ أَبُوْ دَاوُدَ
“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata,”Sesungguhnya aku tidak bisa menghafal Al Qur’an sedikit pun. Maka ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa menggantikan Al Qur’an untukku.” Beliau bersabda,”Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, laa haula wa laa kuwwata illa billah.” Kemudian orang itu pergi, berdiri atau melakukan hal lain dan berkata,”Wahai Rasul, ini untuk Allah, lantas bagaimana untukku ?” Beliau menjawab,”Berdoalah, allahummaghfirli, warhamni, wa afini, wahdini, warzuqni, wa aafini.” HR. Ahmad dan Abu Dawud.
Jika kita tinjau dari segi derajatnya, hadis itu awal mulanya memang dhaif (lemah). Namun karena yang meriwayatkan hadis semisal itu banyak, hadis tersebut terangkat derajatnya menjadi hasan lighairihi dan bisa masyarakat amalkan (Dr. Yasin Al Fahl, 140).
Apabila kita tinjau dari segi pemaknaan, hadis tersebut berisi arahan Rasul bagi orang-orang yang belum mampu membaca Al-Qur’an atau menghafal doa-doa salat, untuk melantunkan zikir ketika salat. Salah satu zikir yang dianjurkan ialah “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, laa haula wa laa kuwwata illa billah.”
Pendapat Ulama
Meskipun hadis itu secara eksplisit sudah menjawab pertanyaan tentang orang-orang yang tidak bisa menghafal atau membaca Al Qur’an dan doa-doa salat. Namun beberapa ulama juga mempunyai pendapat tersendiri dalam hal ini.
Syekh Al Utsaimin, salah satu ulama Arab Saudi dalam salah satu fatwanya menyampaikan bahwa orang yang tidak hafal Al Qur’an atau tidak hafal doa-doa salat, ia boleh melihat dan membaca doa-doa itu dari sebuah catatan atau buku yang ia punya. Dasar pendapat beliau ini ialah ‘apabila imam yang tidak hafal Al Qur’an saja boleh membaca dari mushaf, lantas mengapa makmum yang tidak hafal doa, tidak boleh melakukan hal itu ?’
Menurut Imam Al Khattabiy, membaca Al Fatihah bagi orang yang salat itu hukumnya wajib. Namun ketika ada orang yang tidak mampu membaca atau menghafal Al Fatihah, maka ia boleh membaca ayat lain selain Al Fatihah sebanyak tujuh ayat. Apabila tidak mampu juga, baik karena tidak hafal, tidak bisa membaca atau karena lisannya bukan lisan orang Arab, maka ia boleh membaca doa yang Nabi ajarkan pada hadis di atas (Ma’alimus Sunan, 1/207).
Imam Al Baidhawiy juga menyampaikan bahwa orang yang tidak mampu membaca Al Qur’an, maka bisa digantikan dengan zikir di atas (Tuhfatul Abrar, 1/290).
Bahkan menurut Al Maghribiy, bacaan pengganti Al Qur’an dalam salat itu tidak harus sebagaimana yang termaktub pada hadits di atas. Boleh saja orang yang tidak mampu membaca atau menghafal itu untuk mengucapkan dzikir lain semampu dia (Badrut Tamam, 3/11). Kesimpulannya, Islam selalu mengedepankan kemudahan dan keringanan dalam segala hal. Rasulullah sendiri apabila dihadapkan dua hal, yang satu berat dan yang satu ringan dan sama-sama boleh dilakukan. Beliau selalu memilih yang lebih mudah. Begitu juga dalam hal ini. Apabila seseorang tidak mampu membaca Al Qur’an atau menghafal doa, maka dia boleh membaca doa semampunya. Namun apabila bisa membaca doa seperti yang Nabi Saw. ajarkan, maka itu yang lebih baik.

- twitter : @BilalFahrur https://twitter.com/BilalFahrur
- Instagram : @fahrurzabf https://instagram.com/fahrurzabf

Sul
Jazakumullah Khoiron ustadz