f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bunga dandelion

Tangis dan Sepenggal Cerita Bunga Dandelion

Kita harus menghadapi kenyataan, meskipun serumit dan sesedih apapuh hati menerima. Masih banyak sekali hal yang dapat melipurkan, membaikkan, menyembuhkan semua beban itu. Salah satunya adalah dengan menatap langit.

Aku tahu bahwa pecinta sejati itu dia fokus dengan perasaannya. Pecinta sejati tidak membiarkan dirinya merasa memiliki ataupun dimiliki. Jika ia mencintai seorang yang tidak mencintainya, ia takkan sakit hati. Jika orang yang ia cintai memperlakukan ia dengan perlakuan yang buruk ia pun takkan membenci. Namun aku belum bisa mencintai dengan cara yang seperti itu. Yaps hari itu, aku merasakan kebalikannya.

Aduh, ya Tuhanku, mengapa aku belum mampu mengendalikan harap? Padahal, menggantungkan harapan selain kepada-Nya adalah jalan kecewa yang terbuka.

Bunga Dandelion yang Mengesankan

Tergugu aku di atas permadani rerumputan. Bunga-bunga kecil berwarna kuning dan tumbuhan dandelion yang bijinya memiliki bagian seperti bulu berwarna putih menemaniku. Setiap kali angin berembus maka melambailah tumbuhan itu dan bertebaranlah pula bulu-bulunya. Kemudian tak ketinggalan sinar rembulan bersama satu dua bintang yang mulai mengintip bersamaan dengan matahari yang tenggelam di batas cakrawala dan semburat lembayung di langit.

Ah, bertambah pula suara yang menggema di berbagai penjuru. Aduh, kenapa aku harus menangis? Kenapa hatiku harus sesak hanya karena dia? Dia berhak, sungguh berhak, berlaku bagaimanapun terhadap siapapun. Dia merdeka dengan hati dan pikirannya.

Angin berembus menampar-nampar pipiku yang basah oleh tangisan, berlindung di antara tumbuhan-tumbuhan liar. Angin mempermainkan batang dandelion hingga terhuyung-huyung. Kemudian bagian bunga yang seperti bulu itu terbang berhamburan. Aduhai dandelion, begitu anggunnya dirimu. Terbang sendirian seakan-akan engkau telah meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada angin. Memasrahkan sepenuhnya dia hendak membawamu ke mana, kemudian kau akan menciptakan sebuah kehidupan baru di tempat yang akan kausinggahi.

Baca Juga  Besan

Di samping keindahan itu, terdengar suara riuh rendah para santri yang hendak menunaikan salat Maghrib dari kejauhan. Aku tetap tak ingin beranjak, sesekali memandang dandelion, sesekali memandang tumbuhan dengan bunga-bunga berwarna kuning dan rumput yang tumbuh tinggi tak jauh dari tempatku duduk. Kemudian mendongak ke langit. Semakin mengucur deras air dari kelopak mataku. Kenapa aku menangis atas sesuatu yang seharusnya indah?

**

Malam telah begitu larut dan aku belum juga mengantuk, tak hendak beranjak tidur. Namun memutuskan untuk membaca pun bukan alternatif yang ideal karena mata ini rasanya sudah ingin terbakar setiap kali menatap berbaris-baris tulisan, lelah. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan, melihat suasana pondok. Sepi, benar-benar sepi, hanya ada suara binatang malam dan air dari keran yang tidak tertutup rapat. Kemudian setelah keluar dari gerbang santri putri, aku memilih duduk di jalanan menuju gedung putih bertingkat tiga itu, tak jauh dari pohon beringin, menghadap ke masjid. Bangunan megah dua lantai yang menyiratkan sebuah—kalian bisa menebaknya? Iya benar, kerinduan.

Menatap langit aku jadi teringat bagaimana pengetahuan manusia tentang Sang Maha Kuasa berevolusi. Dahulu kala manusia hidup di gua-gua, rasa lapar dan haus membuatnya harus keluar dari ‘zona nyaman’ untuk bertahan hidup. Manusia tak hanya seorang diri, ada manusia lain yang juga hidup bersama-sama dengannya. Maka, terjadilah perebutan makanan dan tempat tinggal. Mereka kemudian menyadari bahwasanya dalam menghadapi hidup penuh tantangan membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan atau pelindung.

Muncullah kemudian di antara mereka orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan di atas rata-rata. Namun suatu hari orang itu tak mau bergerak, tak mau melindungi mereka lagi, lambat laun tubuh itu membusuk. Manusia akhirnya menyadari bahwa yang membuat pemimpinnya itu kuat bukan sesuatu yang bersifat material dan sangat atomistik, melainkan jiwa yang telah melayang, pergi entah ke mana. Maka pada akhirnya menyembah arwah nenek moyang itu.

Baca Juga  Aku dan Bibi Lastri (1)

Tapi kemudian rasa kecewalah yang ia dapatkannya. Ternyata arwah nenek moyang itu tak dapat mengenyangkan perut yang lapar, mencegah bencana alam dan kesulitan hidup lainnya yang harus mereka hadapi. Mereka kemudian memperhatikan alam. Konstelasi bintang ternyata berkorelasi dengan perubahan cuaca. Dari melihat bintang mereka dapat membuat rencana, mengatasi kekurangan persediaan makanan dengan menanam dan lain sebagainya. Alhasil mereka menyembah bintang, karena merasa ia yang memiliki kendali terhadap alam.

Kecewa dan terus kecewa manusia hingga orang-orang shalih datang, membenarkan konsep Yang Maha Kuasa itu. Tapi demikianlah manusia, seperti yang sudah malaikat prediksi. Manusia yang membuat kerusakan di bumi. Dibunuhlah oleh mereka orang-orang shalih itu.

Diri Sendiri yang Mengkhianati

Aku menarik napas dalam-dalam. Belajar nyatanya tak semudah apa yang kubayangkan. Ilmu—fisika, kimia, matematika, sejarah, astronomi, geografi dan lain-lainnya—tak seperti yang kuduga dulu, kontan dijatuhkan Allah dari langit. Jika Allah menjatuhkan kebenaran dari langit maka seharusnya hanya ada satu saja kebenaran, bukan? Tapi ternyata tidak.

Walau semua ilmu itu berasal dari Allah, namun manusia memiliki kehendak untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Manusia bisa mencari, merumuskannya, kemudian merefleksikan tanda-tanda-Nya. Merubahnya menjadi sesuatu yang mudah dipahami oleh banyak orang. Kenyataan tersebut kemudian melahirkan konsekuensi logis yakni keberagaman sudut pandang, apalagi jika ilmu humaniora. Itu juga baru teks-teks yang bersifat profan, bagaimana dengan teks-teks yang sakral, semisal al-Qur’an dan hadis?

Jika kita melihat perkembangan dunia keilmuan di kalangan umat Islam saat ini. Banyak sekali cendekiawan—baik dari kalangan muslim maupun non-Muslim—yang mengkritisi al-Quran, hadist dan teks-teks klasik terdahulu. Aku sempat ‘silau’ dengan argumen-argumen yang melatarbelakangi tindakan demikian, mengangguk-angguk, benar juga. Kendati menurut kacamataku, silau itu belum sampai membuat kedua mata buta. Tapi akhirnya aku tergugu, ya Allah. Ternyata ada hal yang lebih menyesakkan selain patah hati, yakni mendapati kita dikhianati oleh diri sendiri.

Baca Juga  Rumah untuk Siwi

Aku ingin mengetauhi apa saja isi al-Qur’an. Namun, betapa bodoh diriku, justru berkutat dengan teks-teks yang ditulis oleh orang yang berusaha memahami al-Qur’an. Aku tak merujuk secara langsung kepada al-Qur’an itu sendiri. Yaps, menag memahaminya tak boleh dilakukan oleh sembarangan orang. Maka merujuk pada penjelasan ulama-ulama itu perlu. Masalahnya penjelasan mereka yang kurujuk itu adalah sekadar hasil terjemahan ke dalam bahasa buku, Indonesia, tak langsung merujuk ke teks-teks berbahasa Arab.

Pemahaman penerjemah sedikit banyak mempengaruhi teks yang diterjemahkannya. Hanya merujuk dari buku bacaan itu, aku menjadi begitu pongahnya. Merasa berhak mengomentari ini dan itu. Air mata itu akhirnya luruh juga. Sedangkan bulan dan bintang di hitamnya langit sana menatapku dengan tatapan penuh keprihatinan. Beberapa saat kemudian, angin berembus dan biji bunga dandelion menimpai wajahku. Aku harus tetap bersabar, seterluka apapun. Melanjutkan perjalanan, seberat apapun rintangan yang menghadang.

Editor: RF Wulan

Bagikan
Post tags:
Post a Comment