f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
percaya diri

Hilang Percaya Diri karena “Dibanding-bandingke”

Sebagai seorang pekerja komuter, pagi dan sore hari saya acap terisi dengan obrolan bersama teman seperlajuan. Seperti hari Jumat lalu, entah berawal dari mana, perbincangan kami sampai pada topik kepercayaan diri orang Indonesia. Seorang teman saya, pernah berbincang dengan salah satu kenalannya yang sering mengikuti kegiatan short course ke luar negeri.

Kenalannya itu mengatakan setiap kegiatan short course berlangsung, dia mengamati bahwa sebenarnya kecerdasan peserta Indonesia tidak kalah tinggi dengan peserta dari negara lain, bahkan bisa lebih.

Hanya saja, permasalahannya terletak pada tingkat kepercayaan diri mereka yang tidak berani berbicara, tidak berani menyampaikan opini dan pandangannya. Sehingga tak nampak menonjol dibandingkan dengan peserta dari negara lain.

Kami pun mengiakan pernyataan tersebut, karena dalam kehidupan sehari-hari, berkarya maupun bekerja, kami sering merasakannya. Dari sekian banyak pegawai di kantor, mungkin hanya hitungan jari yang mempunyai keberanian untuk mengungkapkan pendapat kepada atasan, apalagi kepada khalayak ramai seperti penghuni kantor lainnya.

Jangankan mengungkapkan pendapat, hanya sekedar duduk di barisan kursi depan ketika rapat dan briefing atasan saja, semua berlomba-lomba menghindar dan memilih duduk di barisan belakang. Bahkan jika perlu duduk di balik pilar agar tidak terlihat dari depan. Entah karena takut menjadi sasaran tembak “ditanya-tanya”, atau pun takut dibilang “sok paling” oleh teman-temannya.

Dibanding-bandingke Pemicu Ketidakpercayaan Diri

Sialnya, semalaman topik obrolan ini terus melekat dalam pikiran saya. Mengundang pertanyaan mengapa banyak sekali orang Indonesia yang seakan takut salah ketika melakukan sesuatu? Rasa takut salah yang menjadikan mereka tidak percaya diri.

Kemudian saya teringat dengan Keisya Levronka, seorang penyanyi muda yang beberapa waktu lalu sempat mendapat hujatan dari warganet karena beberapa kali gagal menyanyikan part nada tinggi di lagunya sendiri “Tak Ingin Usai”.

Baca Juga  Membandingkan Diri dengan Orang Lain, Baik Nggak Sih?

Berdasarkan artikel yang saya baca, Ia sampai harus berkonsultasi dengan psikolog untuk menanyakan perihal kegagalannya itu. Bagaimana bisa, saat berlatih dan geladi resik dia mampu mencapai nada tinggi, namun beberapa kali gagal menyanyikannya di atas panggung.

Ternyata, perisakan yang ia alami justru menjadi salah satu penyebabnya. Trauma takut gagal menjadikannya tidak percaya diri, sehingga kegagalan benar-benar terjadi.

Saya kemudian berpikir, apakah ketidakpercayaan diri pada orang-orang Indonesia berawal dari kegemaran mereka mencemooh orang lain? Tidak hanya perihal kegagalan saja, bahkan keberhasilan dan cita-cita mulia pun menjadi sasaran cemoohan mereka.

Masih ingat bagaimana orang-orang mencemooh Agnez Monica yang bercita-cita untuk go internasional? Memang tidak salah dengan cita-cita tersebut, namun banyak orang yang mencemoohnya. “Cita-citanya ketinggian”, kata mereka.

Ketika Agnez Mo berhasil membuktikan ia bisa berkarier sampai luar negeri, orang-orang masih saja membandingkannya dengan penyanyi Indonesia yang sudah go internasional.

Contohnya, pada April 2022 lalu Agnez Mo tidak diundang dalam festival musik bergengsi “Choachella” yang menghadirkan banyak artis ternama dunia. Sementara Niki Zefanya dan Rich Brian, dua artis Indonesia yang juga sudah go internasional di bawah label 88rising, menghadiri acara tersebut. Warganet ramai membandingkan mereka.

Doktrin yang Salah Penyebab Tidak Percaya Diri

Ah, saya jadi teringat percakapan emak-emak di kampung saya dengan anaknya. “Contoh itu si anu, sudah pintar, rajin, nurut, nggak kaya kamu.”

Atau lain waktu saat penerimaan rapor di sekolah, “Anaknya bu ini, juara kelas lagi, tiap tahun juara kelas terus.” Lantas ada yang menimpali, “Lha yo iyo, wong belajar terus, siang malam, ga pernah main sampai ga kenal tetangga.”

Baca Juga  Mengoptimalkan Zakat untuk Korban Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak

Secara tidak sadar, kita sudah belajar “membanding-bandingkan” sejak belia. Membenci orang yang berhasil, karena dia akan membuat kita terlihat kecil.

Tanpa sadar kita juga telah belajar meremehkan usaha orang lain dengan mencari-cari keburukannya. Agar terlihat lebih baik, karena tidak mampu melebihi orang tersebut. Membodoh-bodohkan orang supaya terlihat tidak bodoh.

Jadi, lucu sebenarnya ketika berpikir kalau nanti akhirnya berhasil melebihi orang yang kita bodoh-bodohkan tadi, lantas apa hebatnya? Lha wong perbandingannya dengan orang bodoh. Jika mengapresiasi sedari awal, memuji, maka kita mampu melebihi, dan tentunya akan terlihat hebat sekali.

Pola asuh yang salah, lama-kelamaan akan mengakar menjadi masalah. Anak-anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tidak berani unjuk diri. Karena takut ada yang lebih mampu lagi, nanti dibanding-bandingkan, dicari-cari salahnya.

Lambat laun hilang kepercayaan diri, menjadikan anak tidak berani mencoba, dan ujung-ujungnya mencari kesalahan mereka yang berani mencoba, agar anak menjadi minder lalu jatuh bersama. Seperti itu terus dan berlarut-larut hingga runyam. Semalaman saya berpikir hingga ketiduran, pagi-pagi terbangun karena sebuah notifikasi dari aplikasi perpesanan. Ternyata atasan saya yang membagikan sebuah kutipan di grup kantor, “We are more powerful when we empower each other.”  Kemudian saya bergumam, “Ah elah, ngerti ae sih, Bu.”

Editor : Lailatul Mukaromah

Bagikan
Comments
  • Boy

    keren dan bermanfaat bgt tulisannya. pengalaman yg deket bgt alami karena setiap hari kita hidup di lingkungan tsb. nice, diluar ekspedisi bener.

    Oktober 6, 2022
Post a Comment