f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
juni

Kisah Juni

“Jadi perempuan itu lebih baik dicintai daripada mencintai, Jun. Kau akan mudah lelah bila terlampau jauh membiarkan hatimu berlabuh. Tapi, kalau kau yang dicintai, seumur hidup kau kelak dipuja bagai ratu.”

Demikian pesan Ibu kepada Juni yang katanya perempuan kebanyakan. Disertai bumbu pedas Ibu akan paras wajah anak gadisnya yang (bahkan) tak mampu menyaingi kemilau guci porselen kesayangannya. Nggak glowing, kata anak sekarang. Warna kulitnya terlampau sulit didefinisikan. Putih susu tidak menyerupai. Krem pun bukan, kuning gading juga tidak.

Sebagai perempuan oriental dia terlalu pucat, tiada apa-apa. Cuma kata para lelaki yang mengenalnya, beningnya bola mata bulat milik perempuan itu bagai telaga yang menyejukkan, membuat mereka ingin berenang di dalamnya untuk merasakan kesegaran baru. Belum lagi sudut bibirnya bila tersenyum, mampu membius melenakan lelaki di hadapannya hingga tak kuasa berkata-kata lagi.

Sayang aset terbesar miliknya itu tak kuasa membuat kaum Adam jadi bersikukuh menjadi belahan jiwa sepanjang usia.

Ketika tahu bahwa salah seorang teman lelaki Juni semasa SMP menyatakan cinta kepadanya, Ibu tergopoh-gopoh memberi petuah.

“Kamu belum cukup umur, Jun. Sekarang tugasmu belajar, belajar dan belajar. Bila dia benar mencintaimu, dia tentu kembali kepadamu empat atau lima tahun kemudian.”

Juni mengiyakan nasihat itu, meski hatinya  telah terpincut ribuan kalimat tanda kasih Ganendra. Untaian kata yang sementara mampu menyempurnakan rindunya kepada sosok lelaki, selain mendiang Bapak. Lelaki pertama yang dicintainya, tetapi kebalikannya dibenci Ibu. Lelaki yang kata Ibu meski baik hatinya, dirinya tak lebih dari parasit. Bapak tak pandai bekerja, pintarnya mengasuh dan menyayangi anak-anaknya saja.

Dengan kesedihan mendalam Juni mengatakan kepada Gan untuk tak melanjutkan surat-surat cintanya.

Remaja lelaki yang menyukai Juni dengan jujur itu seketika terpotek hatinya dan merasa hampa, terlampau dikecewakan sosok cinta pertama.

Dia memaksa orang tuanya pindah sekolah agar melupakan Juni.  Remaja lelaki itu merasa tak kuasa pada maklumat perempuan yang telah mengenalkan arti jatuh cinta. Apalagi disertai rasa segan kepada sosok Ibu.

Sayangnya kemudian, Juni dikabari sahabatnya bertemu Gan dengan remaja perempuan lain. “Parah, Jun. Pacar barunya mirip sekali dengan dirimu.”

Mengetahui lelaki itu tak mampu melupakannya, membuatnya besar berharap. Suatu saat lelaki itu menyadari dan kembali kepadanya empat sampai lima tahun kemudian. Dia terus menunggu dan sengaja memberi waktu. Gadis itu mengira ucapan Ibu akan terbukti. Sayang, Gan tak kunjung menampakkan diri, walau usai puluhan purnama terlewat.

Baca Juga  Kami Perempuan, Setara Di Hadapan Allah

Mulailah tumbuh kebencian di hati Juni. ‘Ibu sendiri tak pandai akan cinta hingga Ayah memilih berpulang lebih cepat.’

Kesimpulan Juni lalu membuat hatinya mulai membatu. Tak lagi mudah membuka hati kepada lelaki satu per satu.

Juni yang dilabeli Ibu perempuan kebanyakan mulai belajar. Bila bukan wajah dan penampilannya yang bisa memikat lawan jenis; tawa renyah, perhatian, kecerdasan dan semangatnya berlaku kebalikannya. Sedemikian mudah mencuri hati banyak lelaki. Salah satunya bahkan membuat pernyataan terbuka, di majalah dinding SMA.

“Jun, kamu tak secantik perempuan lain, tapi bicara denganmu memabukkan pikiran dan memorakmorandakan perasaanku.”

Berhasilkah deklarasi itu? Jelas tidak. Terlalu mudah ide itu untuk membuatnya luluh.

Sampai suatu masa Juni telah menggenapkan kuliah. Selama itu pun tak satu lelaki benar serius dijadikannya kekasih, meski hati mereka telah kasmaran setengah mati. Ibu pun merutuki kesombongan Juni. Gadis itu menjadi hilang akal. Dulu bercinta-cintaan tak diijinkan, sekarang malah Ibu menyorong-nyorongkannya untuk berpacaran.

Sampai suatu hari, tak disangka-sangkanya muncul sosok yang membuat Juni oleng sepenuhnya. Sosok dewasa serasa Bapak yang kemudian mengusik hari berikut mimpi-mimpinya.

Dia, Krisna, lelaki yang tinggal beberapa bulan lagi siap menikah. Lelaki itu hanya sedang menimbang-nimbang siapa sebenarnya jodoh yang tepat sepanjang usianya. Kris gegas memberi harapan, Juni lekas menangkap dan menggenggamnya erat-erat.

Lalu, Juni makin terkejut ketika tahu Kris sebelas duabelas sikapnya dengan Gan dulu. Bentuk perhatian yang sama, pertukaran emosi serupa, dalam sekejap gadis itu terlena asmara.

Ibu yang mengetahui Juni membuka hati, senang setengah mati. Namun, dia tak tahu bahwa lelaki yang digilai Juni ini calon suami orang. Juni sendiri juga tak mawas, apakah dirinya hanya persinggahan sementara Kris sedang menjalin relasi jarak jauh dengan calon istrinya.

Tak terelakkan Juni mabuk kepayang. Terpikat betul jerat asmara lelaki yang sungguh piawai mengambil hati perempuan. Dan, ketika Kris tahu-tahunya memberi maklumat Juni untuk melepasnya ke mahligai pernikahan di tanah seberang, hati perempuan itu pecah seribu. Terlalu sakit untuk bangkit.

Juni makin sadar dirinya benar-benar termakan perkataan Ibu. Dia makin membenci perempuan yang melahirkannya itu karena menyesatkankannya akan relasi lelaki perempuan. Apalagi ketika Ibu mengetahui nasib hubungannya dengan Kris yang kandas, perempuan itu hanya tersenyum masam. Setiap hari kerjanya memandangi anak perempuannya itu dengan tatap mengasihani.

Juni yang terluka tanpa pikir panjang segera menerima lamaran Rayi, seorang lelaki yang menjadi rekan satu tim ketika gathering perusahaan.

Baca Juga  Asumsi Rumah Tangga Sebagai Kodrat Perempuan

Rayi lah yang kasmaran kepada Juni. Dia mengagumi perempuan itu sebagai idaman hati, misterius sekaligus memabukkan. Beribu upaya dilakukannya untuk meruntuhkan kekerasan hati Juni, berharap perempuan itu mau membalas cintanya suatu hari kelak.

Juni tak mudah luluh, hanya sedang di fase  pembuktian benarkah ucapan Ibu tentang takdir seorang perempuan adalah dicintai. Bila senyuman Ibu lalu sedemikian lebarnya ketika Juni bersanding di pelaminan, gestur itu bukti kelegaannya melihat anak perempuannya yang baginya tiada apa-apa, masih ada yang mencinta.

Sekali ini Juni memang sama leganya dengan Ibu. Apalagi kemudian, dia larut dengan kemanjaan, dipenuhi segala kebutuhan, diladeni semua permintaan. Juni mabuk, bukan karena asmara yang bergejolak dari hatinya, tetapi karena  dielu-elukan sebagai yang istimewa seperti ketika menjadi putri kesayangan Bapak.

Semasa berlalu, Rayi tak berkurang ragu walau Juni tak jua membalasnya secara seimbang. Lelaki itu begitu memuja dan mencintai Juni tanpa kata tetapi. Dia pun menutup mata tentang silih bergantinya Gan dan Kris mengintip media sosial Juni, mengusiknya, mengelu-elukannya lalu meninggalkan pesan maupun jejak pengamat status. Kedua lelaki masa lalu itu jujur bersuara, tak kuasa mengingkari diri kerap merindu sosok perempuan kebanyakan itu.

Sekejap mata Juni menjadi rakus dicintai banyak pria, terlebih sekali lagi untuk membuktikan kebenaran kata-kata Ibu. “Sungguh menyenangkan ternyata dicintai, apalagi tak hanya seorang.” Dia mulai lupa ada Rayi yang sesungguhnya telah memenuhi kerinduan perempuan itu akan sosok mendiang Bapak.

Dia terhanyut keserakahan kehendaknya. Tak kenal waktu, Juni asik dengan aplikasi percakapan di ponsel ketika Rayi tak di rumah. Dia tahu, tak bijak membuat lelaki istimewa itu gundah hatinya. Namun, dia lupa ada hati perempuan lain yang tak dia jaga.

Ketika istri Gan menghubunginya untuk tak lagi mengusik suaminya, Juni balik mencerca. “Dia yang mencintaiku lalu meninggalkanku, dan kini dia juga yang terlebih dulu mencariku lagi. Tak ada usaha satu pun dariku. Ikat suamimu, tutup matanya agar tak lagi mencariku.”

Umpatan yang nyaris sama dilontarkannya kepada istri Kris.

“Hei … Seharusnya kau sakit hati ketika dia pernah berniat menjadikanku pengantin dulu menggantikan posisimu. Yang perlu ditanya olehmu … , mengapa Kris acapkali mendua hati.”

Amarah Juni yang merasa terusik kesenangannya, tereskalasi dari hari ke hari. Diawali dari tindakan memblokir akses ke akun dan nomor telponnya. Lalu, dengan akun alter dia mulai meneror para istri yang dianggap merampas kebahagiaannya, dengan satu ancaman telak yang sungguh menakutkan mereka. Akan disebarluaskannya percakapan Juni dengan Gan dan Kris yang tak pantas dikonsumsi publik.

Baca Juga  Aku dan Bibi Lastri (2)

Juni tak lagi eling, merasa kesenangannya dipuja banyak lelaki terusik. Rayi yang merasa aneh dengan wajah mendung belahan jiwanya beberapa waktu terakhir, tak tahu bahwa Juni diganggu para istri lelaki masa lalu.

Dia malah mengira ada yang salah dengan sikapnya. Dia merasa aneh dan curiga, mengapa ponsel di tangan Juni yang biasa menjadi benda yang menyita perhatiannya kini hampir tak tersentuh.

Suatu sore sepulang dari kantor dia mendudukkan perempuan yang sangat dicintainya itu di sebelahnya. Dilontarkannya pernyataan. “Juni, tolong jujur sama aku. Kalau kau merasa menikah denganku tidak bahagia, mari kita sudahi saja sebelum kelak ada anak-anak. Saat itu akan lebih berat bagiku untuk berpisah denganmu.”

Juni terkesiap, tak menduga Rayi meresponsnya sebegitu rupa. Tanpa kata, dia menatap lelaki yang selama ini tak diacuhkannya itu. Air matanya mulai berkerumun dan mendesak-desak hendak mengalir turun.

Melihat mata Juni berkaca-kaca, lengan lelaki itu refleks melingkari bahu perempuan itu, menyebarkan kehangatan dan memicu anak sungai air mata tanpa tertunda. Mengalir membasahi wajah istri kesayangannya yang benar-benar tertoreh hatinya ketika itu.

Sambil terisak, Juni pun bercerita.  Sedemikian terlukanya dia oleh perlakuan lelaki masa lalu yang berulang-ulang mengungkap rasa. Kembang api yang terbiasa  meletup dan berpijaran di matanya ketika berbicara, kini kian meredup akibat terlampau luka sebagai perempuan.

Juni terus menumpahkan isi hatinya. Ucapan Ibu yang belum lama berpulang memang benar-benar membuatnya teperdaya. Termakan dia akan menunggu, terjebak akan omongan dipuja bagai Ratu. 

Rangkulan tangan Rayi terus lekat tak kunjung longgar. Lelaki itu tahu, bila Juni terus memelihara ambisi untuk dikagumi dan dicintai apalagi untuk membuktikan omongan Ibu, dia akan seperti sosok Mama kandungnya dulu. Menikmati dipuja sebagai ratu sehingga lupa diri dan berhalusinasi semu sampai mengakhiri hidupnya tanpa ragu.

Tentu saja, sekali ini Rayi tak akan membiarkan Juni yang mengalaminya.

Bagikan
Post a Comment