Jangan Menghafal Qur’an Hanya untuk Mengejar Ganjarannya
“Ibu-Ibu dan bapak-bapak yang dimuliakan Allah, anak kita adalah aset yang berharga. Mereka nantinya bisa menghadirkan kita mahkota kelak di surga. Maka bismillah bapak ibu anak-anak harus kita jadikan sebagai hafiz dan hafizoh, supaya kelak dapat memberi kita gaun dan mahkota di surga..”
Kira-kira begitulah kutipan yang sering kita dengar dalam forum pengajian orang tua. Lumrahnya hal semacam itu dapat terdengar di pondok khusus dauroh tahfidz. Pernyataan yang demikian benar adanya, namun sangat berpotensi besar menghilangkan tujuan utama dari menghafal Al-Qur’an. Dewasa ini kita mengenal beberapa program khusus menghafal Al-Qur’an. bermacam-macam rentang waktu yang ditawarkan, ada yang enam bulan hingga tiga bulan.
Yang jadi permasalahan saat ini adalah, apakah hal itu perlu dilakukan? Terlalu bersegera dan tergesa-gesa dalam menghafal Al-Qur’an. Program yang demikian memang baik adanya, namun kita juga perlu memperhatikan sisi kebermanfaatan jangka panjangnya. Jangan sampai nantinya karena ambisi semu orang tua untuk mendapatkan mahkota menjadikan anak memiliki pemikiran yang pragmatis.
Membaca dan Mempelajari Al-Qur’an
Hal yang kini menjadi persoalan adalah anak-anak menghafal dalam kurun waktu singjat itu tidak mengulang apa yang telah mereka hafalkan (Murojaah). Lebih parahnya lagi mereka tidak sedikitpun mampu meresapi dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Itulah yang kemudian menjadi konsekuensi logis dari ambisi yang ingin serba cepat itu.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu layaknya pintu ruangan harta karun yang bila diambil hartanya tak akan berkurang. Pintu itu selalu terbuka bagi orang-orang yang ingin memanfaatkannya, dan orang-orang itu mengambil dan menggunakan harta sesuai kemampuannya.
Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami’ menerangkan bahwa orang yang mempelajari Al-Qur’an semestinya mempelajari pula ilmu-ilmu terkait. Ilmu-ilmu itu nantinya mampu membantu dalam memahami ayat-ayat yang dibaca. Dengan cara seperti itulah pembaca dapat memahami serta mengamalkannya. Ia lalu menambahkan bahwa orang yang hanya sekedar paham namun tidak mengamalkan, tak lebihnya seperti keledai yang memikul beban berat di punggungnya. Ia tak mendapatkan faedah dari Qur’an yang maha mulia itu.
Belajar Al-Quran Itu Seumur Hidup
Fenomena belajar Al-Qur’an dengan singkat memang nantinya akan menghasilkan banyak masalah. Orang tua yang terpengaruh oleh rayuan Mahkota menjadi buta dan hanya menjadikan Qur’an sebagai alat untuk meraih mahkota tersebut. Padahal Qur’an itu kita butuhkan untuk hidup lebih baik.
Abdurahman As-Silmi menceritakan bahwa orang-orang yang dahulu kerap mengajarkan Al-Qur’an seperti Usman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa mereka tidak pernah menambah hafalan sebelum mereka mampu memahami dan mengamalkannya. Maka dari itu mereka mambutuhkan waktu yang lama untuk manghafalkan Al-Qur’an.
Qur’an yang maha luas itu saya kira tidak cukup dipelajari dalam rentang waktu yang sangat singkat. Perlu waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup. Menyelami makna Al-Qur’an adalah suatu hal yang sangat penting, karena dengannya kita mampu mengungkap berbagai pesan tersirat.
Iyas bin Muhammad menggambarkan orang yang menghafal Qur’an namun tidak memahami isinya sebagai seorang yang mendapat surat dari seorang raja. Surat itu ia terima dalam kondisi gelap gulita karena tidak ada lampu. Ia merasa takut dengan isi surat tersebut, padahal belum membukanya. Adapun orang yang memahami ilmu tafsir dan mampu memahami Al-Qur’an, Iyas gambarkan layaknya seorang yang menerima surat dari raja namun ia memiliki lampu di rumahnya. Ia membaca dan langsung memahami surat tersebut.
Masalah Para Penghafal Qur’an
Saya akui bahwa melakukan hal-hal seperti yang sudah dijelaskan di atas agaknya sedikit sulit. Tidak semua dari kita mampu melaksanakannya. Entah itu akibat keterbatasan waktu atau hambatan lainnya.
Sejatinya Allah telah memudahkan kita dalam mempelajari Al-Quran dan hal itu diafirmasi oleh kemajuan teknologi. Tanpa harus membuka buku tebal mengenai tafsir di perpustakaan, tak perlu membuka buku-buku berdebu. Kita cukup melihat tafsir yang telah tersedia di layar digital yang tentu sudah kita verifikasi kebenarannya. Banyak tersedia tafsir-tafsir dalam bentuk PDF yang bisa kita download secara gratis.
Sekedar menghafal lalu melupakan isi Al-Qur’an berarti sama saja telah mengkerdilkan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia. Ganjaran yang luar biasa itu saya kira tidak dapat diambil hanya dengan usaha yang singkat, menghafal harus diartikan sebagai proses memahami dan mengamalkan Al-Qur’an itu sendiri. Jika pemahaman menghafal dibatasi pada taraf hanya menghafal saja nantinya Al-Qur’an akan kehilangan nilai-nilai keagungannya. sebagai pokok penyelesaian masalah dunia dan akhirat, Al Qur’an harus dimaknai sedalam-dalamnya.
Kesimpulan
Pada intinya saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk berhenti terpancing dengan iming-iming hafalan cepat dan lain sebagainya. Menghafal satu ayat per hari menurut saya sudah sangat luar biasa ketika dibarengi dengan pengamalan dan pemahaman yang benar-benar mapan. Dibanding menghafal 1000 ayat lalu dilupakan begitu saja. Jangan tergesa-gesa mempelajari dan mamahami Al-Qur’an. Kitab yang kita baca itu seyogyanya diturunkan untu manusia, bukan untuk tuhan. Penerapan yang membumi sangat diperlukan demi menunjang kehidupan yang islami.
Sejak kecil Muhammad Iqbal tertarik dan berkecimpung di bidang seni. Kecintaannya pada seni membuatnya banyak menorehkan prestasi di bidangnya, mulai tingkat kecamatan hingga nasional.
Saat ini ia sedang mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Motto hidupnya adalah”jangan takut kalau benar”. Sejauh ini cita-citanya adalah membangun madrasah dan masjid di daerahnya sendiri.
IG @iqbal_mystgn
FB @muhammad iqbal
YT @muhammad iqbal
