Sesuatu di Jogja
Di Jogja ini, kawan. Kau bisa mendudukkan letihmu sekelebat, sambil meneguk es degan di pinggir jalan. Tapi kau mesti bersiap selanjutnya, ada masa di mana makanan enak adalah apiun belaka. Kau bahkan sering dipaksa menelan duri kulit durian; menusuk, melukai, merunjam.
Kau boleh menyeruput kopi panas di kaki merapi, sekaligus pula sewaktu dapat menyaksikannya meletus bergejolak. Sampai bising, pula mengering oleh abu vulkanik.
Persis seperti itulah Jogja, ia seperti terlahir kembar fraternal, dari sel tekanan, juga sel harapan. Tapi karena demikian itulah ia istimewa, semacam menunjukkan ciri hidup.
Hidup yang hanya berharap atau tertekan belaka adalah hayat yang tak pantas dijalankan. Bukankah kesempurnaan hidup manusia adalah penerimaannya atas tekanan, pula harapan. Jogja menyeimbangkannya.
Rakyat Miskin dan Konglomerat
Di Jogja kini kawan, kau bisa menikmati alas tikar angkringan nasi kucing. Tapi waspada saja, sewaktu-waktu bulldozer pembangunan menggilasmu, remuk, redam. Dan angkringan lalu jadi bangkai sejarah.
Di sini kau lihat, orang kaya menjual kesederhanaan. Sederhana katanya, tapi menindas jua. Merendah ujarnya, tapi menginjak pula.
Jogja, kata orang adalah kota kenangan, mereka lupa tentang kenangan buruk. Tentang kerja yang berpeluh tapi UMR tak penuh.
Kau bisa memesan es kelapa di pinggir pantai selatan, sambil menyaksikan para penjual itu diperas investor, demi bisnis pariwisata. Jogja adalah potret Indonesia yang sederhana rakyatnya, istimewa pejabatnya, pula penguasanya.
Di sini, gagasanmu bisa tumbuh besar, lewat tempa kesederhaan yang benar. Kuliahlah di jurusan teknik sipil, tapi jangan suka memakan aspal. Jangan suka mencuri uang negara, kelak.
Hari ini kudengar pemerintah sedang merancang jalan tol di kota ini. Tapi, apakah tol bermanfaat buat orang miskin yang berjuta-juta itu. Yang kutahu, Ibu-ibu tak butuh jalan tol, mereka ingin sayur kol. Barangkali tumbuhan itu bisa menegakkan leher anaknya yang kadung kelaparan. Tapi bagaimana sayur tumbuh, jika tanah subur justru berganti gedung pencakar langit, serupa hotel atau mall-mall.
Jogja Multikultural
Di Jogja ini kawan, kau boleh mengenyam makanan murah, tongseng ayam, ayam krispi, ayam kampung, ayam kampus. Enak bukan? Tapi jangan ceroboh, tak segala yang enak itu sehat, tak semua yang murah itu baik.
Kau bisa memilih menjadi apa saja, bisa menjadi bujangan yang sendiri, atau bajingan tengik. Seberapa besar kau terbentur, demikianlah kau terbentuk. Bajingan dan bujangan, itu tak melulu berhubungan. Tapi memang banyak bujangan yang bajingan.
Di sini kau lihat, sekelompok Rohis di masjid-masjid kampus, aktivis di warung kopi, remaja klitih di jalan. Beragam bukan? Jogja memang tempat untuk segala sifat, penyabar, pemarah, periang, agamawan, bajingan, pembangun, penggusur.
Apakah kau pernah merasakan letihnya menyusuri jalan Malioboro? Seperti itulah lelahnya menyusuri hidup dibelantara Jogja. Kadang lunglai kaki melangkah, tapi apa boleh dibilang, perjalanan belum sampai. Tapak kaki belum usai.2
***
Jika kau berkenan, aku mengajakmu bertamasya ke Mergangsan, atau Jlagran. Di sana ada wisata kemiskinan, tidak banyak pengunjung memang, tapi mendatanginya bisa membantumu kembali bersyukur, bahwa kehidupanmu yang sorai itu, tak semelarat mereka yang ditimpa himpit kemiskinan.
Atau bisa pula kita jalan-jalan ke Kali code, di sana ruang segar adalah impian yang mengada-ada. Ia bukan Mangunan yang bugar, sepertinya orang-orang di sana tak tahu kesehatan. Mereka tak hapal banyak warna, yang terlihat adalah coklat yang kumuh, tampaknya mereka tak paham, bahwa di bumi ini ada warna hijau, bahwa di kehidupan ini ada hidup yang segar.
Kawan, maukah kau kuajak melancong ke Pasar Kembang? Di sana banyak perempuan yang kesepian, tapi hati-hati kau bisa didera penyakit birahi. Atau jika kau memang sungguh sedang ingin bersenang, kau bisa memilih perempuan penghibur di aplikasi ME chat; murah, meriah, cantik, segar. Tapi waspada, kau rawan terkena penyakit kelamin.
Apakah kau pernah merasakan enaknya indomie rebus telor di warung Burjo? Itu sangat lezat, kawan. Di sana sering mahasiswa yang miskin menghabiskan malam, hingga subuh, semata-mata hanya menertawakan hidup yang begini tolol. Tidak mahal, cukup memesan teh hangat, para mahasiswa sudah dapat membincangkan pacarnya yang cantik, teman yang suka pinjam uang, atau dosen yang suka marah-marah.
Jogja adalah kota segala wajah, muram yang perih, atau sorai yang semarak. Padanya, tergambar suasana rasa warga, atau pendatang. Tidak ada yang seragam wajahnya, tidak ada yang sama perasannya.
Ukir Kembali Kisah di Jogja
Bung, sedemikain itulah Jogja. Jangan berharap begitu tinggi, pula jangan jatuhkan angan sedemikian rendah. Kita hanya perlu menyaksikannya pelan-pelan, dengan pengamatan yang tekun, dan perasaan yang aktif. Syukur-syukur, kita berbagi lewat catatan-catatan, biarpun itu kisah tak penting belaka.
Sehabis pandemi ini purna menyelesaikan ulahnya, semoga lantas kau bisa memesan tiket segera, aku akan menjadi tour guide paling handal kali ini. Tak perlu modal banyak, tak usah duit bertumpuk, cukup kertas, pula pulpen. Dan segera, kita susur Jogja penuh sabar, tekun, fokus dan penuh pemaknaan, lalu kita hamparkan huruf dalam kertas kita.
Barangkali saya perlu mengingatkan, jangan bawa tabiat burukmu ke sini, kau harus bersih bening, bukankah demikian itulah cara kita untuk menampung pengetahuan dan segala budaya yang tersimpan di Jogja. Jangan suka mengotori taman orang lain, biarpun kau suka hijaunya. Jika kau paham, semoga kedua kalinya kau datang ke sini, kau masih melihat Jogja sebagai yang hijau tamannya, pula hidup orang-orangnya. Itu harapan, semoga tak dibunuh keadaan. (Editor : Jajang)

Ketua Umum DPD IMM DIY, Pendiri Organisasi Himpunan Pelajar Kritis-Gowa, pendiri Organisasi Pemuda Tabbinjai Berkarya, Kepala Madrasah Digital Yoyakarta, penulis buku “Meretas Jalan Pemikiran (Sebuah Pengilmuan IMM)”, penulis dalam buku “Mempersatukan Indonesia”
